Djasneli, Kuliahkan Anak dengan Kue Piciak-piciak


Rabu, 04 Mei 2016 - 05:29:14 WIB
Djasneli, Kuliahkan Anak dengan Kue Piciak-piciak DJASNELI menggoreng Kue Piciak-piciak di rumahnya, Jalan Alang Laweh Koto II No. 18, Kelurahan Alang Laweh, Kecamatan Padang Selatan, Padang, belum lama ini. (RUSDI BAIS)

PADANG, HALUAN — Djasneli (49) tak pernah menyangka kalau usaha Kue Piciak-piciak yang dirintisnya dari bawah, memberikan keuntungan yang dapat membiayai kuliah dua anaknya hingga wisuda.

Meski hanya ibu rumah tangga yang cuma tamat SMK, Djasneli sangat peduli terhadap pendidikan tiga anaknya. Menyadari sua­minya hanya seorang peker­ja bengkel, ia ikut  memper­kuat ekonomi keluarga, dengan menjalankan usaha secara kecil-kecilan di ru­ma­h­nya, Jalan Alang Laweh Koto  II No. 18, Kelurahan Alang Laweh, Kecamatan Padang Selatan, Padang. Awal­nya ia membuat ka­cang tojin, dengan kemasan kecil lalu dititipkan di kedai-kedai terdekat. Kemudian berganti dengan Kue Piciak-piciak. Hasilnya, kini dua anaknya sudah wisuda dan seorang lagi masih SMP.

Baca Juga : Emas Antam Turun Rp5.000, Jadi Rp 918 Ribu per Gram

Djasneli membuat Kue pi­ciak-piciak dari tepung be­ras, cabai merah, udang, te­lur dan bumbu yang dira­cik­nya sendiri. Kuenya itu di­cicipi oleh keluarganya pa­da  leba­ran 1999. Di anta­ra beberapa anggota keluar­ga­nya yang mencicipi kue itu, ada yang mengatakan bah­wa Kue Pi­ciak-piciak bua­tan Djasneli rasanya enak dan renyah dan sangat pan­tas dijual. 

Beberapa bulan kemu­dian, keluarga Djasneli ter­se­but  menghubungi Djas­neli agar menyiapkan Kue Piciak-piciak, karena dia akan datang ke Padang ber­sa­ma teman-teman sekantor di Padang Panjang. Rom­bo­ngan familinya itu langsung membeli Kue Piciak-piciak  buatan Djasneli. Ada yang setengah kg, ada pula yang 1 kg. Total terjual hari itu sekitar 10 kg, dengan harga penjualan Rp25.000 per kg.

Baca Juga : Pasar Keuangan Indonesia Merah Membara: Rupiah Keok, IHSG Rontok, Emas Pegadaian Merosot

Sejak itu, Djasneli mene­kuni usaha Kue Piciak-piciak. Diawali dengan mem­buat dua kilogram, ke­mudian dikemas menjadi delapan bungkus dengan merek “Kue Piciak-piciak Sasuai Salero”. Sebungkus berisi seperempat kg. Sete­lah dipasarkan, ternyata tidak sesuai dengan per­kiraan semula. Sambil me­nenteng Kue Piciak-pi­ciak, ia menelusuri satu per satu to­ko kue di Jalan Pon­dok hingga ke Jalan Nipah. Pe­luh bercucuran mem­basahi tubuh, karena berja­lan kaki di bawah teriknya cahaya mentari, tetapi tak satu pun toko bersedia menampung.

“Kaki sudah sangat letih ber­jalan, haus bukan kepa­lang, kue yang saya ta­war­kan ditolak pula oleh pe­mi­lik toko. Cobaan yang sa­ngat berat,” kenangnya saat di­temui Ha­luan belum lama ini.

Baca Juga : Pagi Ini Nilai Tukar Rupiah Stagnan di Rp 14.260/US$

Kegagalan di hari per­ta­ma itu, tidaklah menyu­rut­kan semangatnya. Djas­neli terus berusaha mena­warkan kue buatannya. Ber­kat keya­ki­nan dan kesa­baran, akhir­nya ada satu toko kue yang bersedia me­ma­sarkan kue piciak-piciak buatan Djas­neli. Ditaruh lima bungkus, setelah sepe­kan baru dilihat, untuk me­ngetahui sudah terjual atau belum.

Ternyata hasilnya sangat memuaskan. Setiap pekan ada saja toko kue yang berse­dia memasarkannya, se­hing­ga kelelahan yang mem­­buat Djasneli nyaris putus asa itu, akhirnya tero­bati. Kini, sedi­kitnya 25 toko kue dan mini market di Padang mema­sarkan pro­duk Djasneli. Produksi rata-rata 100 kg per bulan dengan harga penjua­lan Rp50.000 per kg,” “Se­jak 2015, me­rek­nya saya ganti menjadi Kue Piciak-piciak Buk Djas Sasuai Sale­ro,” imbuhnya. (h/rb)

Baca Juga : Turun 6%, Harga Emas Drop di Bawah US$ 1.700

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]