Korban Sandera Abu Sayyaf Tiba di Padang

Wendi Ingin Kembali Bekerja


Rabu, 04 Mei 2016 - 06:21:14 WIB
Wendi Ingin Kembali Bekerja WENDI bersama ayahnya, Aidil di Bandara Internasional Minangkabau, Selasa (3/5) kemarin. (RIVO SEPTI ANDRIES)

Suasana haru mewarnai kedatangan Wendi Rakha­dian di Bandara Internasional Minangkabau, Kabupaten Padang Pariaman, Selasa (3/5) sekitar pukul 09.30 WIB. Salah seorang awak Kapal Brahma 12, yang merupakan korban penyanderaan kelompok militan Abu Sayyaf ini dipulangkan menggunakan pesawat terbang Citilink.

Orang tua Wen­di, Aidil dan As­mizar, tak mampu mem­bendung air matanya ketika melihat anaknya turun pesa­wat menuju pintu kedata­ngan BIM. Mereka langsung memeluk Wendi yang me­ngenakan baju putih tanpa krah dan celana hitam.

Baca Juga : SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

Sejumlah pejabat tam­pak ikut menyambut keda­tangan Wendi di antaranya Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit dan Wali Kota Padang Mahyeldi An­sharullah dan Wakil Wali­kota Padang Emzalmi be­serta beberapa pejabat dae­rah Kota Padang.

Sejumlah awak media beberapa saat sebelum ke­data­ngan Wendi juga sudah berada di BIM.  Tidak ketinggalan juga masyarakat yang berada di ban­dara juga penasaran dengan rupa pemuda bertubuh kurus ini, bahkan sesekali ada juga yang bertanya siapa Wendi Rakhadian.

Baca Juga : Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

Tidak berlama-lama di ban­dara, anak pertama dari tujuh bersaudara itu langsung diper­kenankan naik ke mobil dinas milik Wakil Walikota Padang Emzalmi menuju kediamannya di samping kantor Pusdalops BPBD & PK Kota Padang, tepat­nya di Pasar Ambacang, Keca­matan Kuranji.

Sesampainya di kediaman, Wendi disambut oleh tetangga dan kerabat keluarganya yang memang sudah menunggu keda­tangannya sejak dua hari yang lalu. Dengan wajah ceria dan sedikit lelah, Wendi  menebarkan salam, sapa, dan senyum kepada setiap orang yang datang kepadanya.

Baca Juga : Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

Bahkan sebelum berisiti­rahat, ia tetap berkenan meladeni beberapa pertanyaan wartawan. Dengan sedikit santai, ia men­ceritakan awal kejadian ia dan kesembilan rekannya disandera oleh kelompok perompak Abu Sayyaf pada 26 Maret 2016 lalu.

Ia masih ingat bagaimana 11 orang dari kelompok Abu Sayyaf mendatangi kapal tempat ia dan sembilan rekan lainnya berada menggunakan speed boat. Kemu­dian ia diperintahkan oleh Abu Sayyaf dengan menggunakan bahasa Inggris untuk dibawa ke sebuah pulau yang tidak diketa­hui namanya di perairan Filipina pada malam saat kejadian.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq

“ Kami berpindah-pindah tempat tidur dari pulau ke pulau. Alasan mereka untuk berjaga-jaga agar tidak terjadi baku tem­bak. Mereka juga beralasan demi keselamatan kami. Kelompok tersebut selalu membawa pistol jenis M-16 selama penyan­dera­an,”  paparnya.

Selama disandera, ia juga menceritakan bagaimana mereka makan, minum, dan mandi serta buang air kecil dan besar. Ia mengatakan, bahwa Abu Sayyaf selalu memberi mereka makan ketika kelompok Abu Sayyaf makan. Tidak ada yang kelapa­ran. Kelompok Abu Sayyaf selalu melaksanakan ibadah salat. Salah satu sandera yang non-muslim mengaku muslim karena takut dibunuh oleh oleh Abu Sayyaf.

Menurut Wendi, perlakuan penyandera cukup baik. “Namun kami tidak pernah mengenal wajah kelompom tersebut, karena selalu mengenakan topeng dan penutup muka,” ungkap Wendi.

Wendi mengatakan bahwa ia atau sandera lainnya selalu dika­wal oleh satu orang kelompok Abu Sayyaf  ketika hendak buang kecil maupun besar di hutan tempat mereka menetap.

Wendi mengatakan, ia akan kembali bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK), namun un­tuk saat ini dia fokus untuk berkumpul bersama keluarga dan menghilangkan rasa trauma terle­bih dahulu.

“Nanti jika sudah siap, saya akan kembali bekerja di peru­sahaan yang sama. Perusahaan menjamin untuk menerima kem­bali jika saya dan sembilan ABK yang lainnya kembali masuk bekerja,” katanya.

Wendi Rakhadian meru­pa­kan tamatan SMA Negeri 9 Pa­dang. Ia lantas melanjutkan pen­di­dikan ke sekolah perkapalan di Jakarta selama 3 bulan, dan bekerja di PT Patria Maritim Line sebagai ABK di kapal Tug­boat Brahma 12.

Bagi Wendi, kejadian tersebut adalah risikonya bekerja di pera­iran sebagai ABK. “Rasa trauma dan syok sudah pasti kami dapat­kan, namun itu semua tidak membuat saya mundur sebagai ABK,” ucapnya.

“Yang terpenting saya sudah merasa sedikit santai dan berku­rang rasa trauma karena sesaat setelah sampai di Ibukota, kami langsung cek kesehatan seperti jantung, gigi, dan terapi trauma di RSPAD Gatot Subroto,” ka­tanya.

Seperti diberitakan sebelum­nya, 26 Maret 2016 lalu, Peme­rintah Indonesia memastikan bahwa kapal yang ditumpangi oleh Wendi bersama dengan sembilan ABK lainnya, dibajak dan disandera oleh kelompok militan Filipina Abu Sayyaf di perairan Tawi-tawi di Filipina Selatan saat kapal mereka mem­bawa muatan batu bara.

Kelompok Abu Sayyaf me­minta tebusan sebesar USD 1 juta atau setara Rp14,3 miliar untuk membebaskan 10 WNI tersebut dari sekapan kelompok tersebut. Namun mereka akhirnya dibe­bas­kan setelah bernegosiasi dengan utusan pemerintah In­donesia. ***

 

Laporan: MUHAMMAD AIDIL

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 09 Februari 2021 - 14:07:37 WIB

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam  siswa Perlu Ditinjau Ulang Ternyata persoalan pemakaian jilbab bagi siswi Non Muslim di SMKN 2 Padang,  belum berakhir. Pemberitaannya hiruk pikuk dan viral  diperbincangkan secara nasional dalam dunia pendidikan. Sampai Mendikbud terpancing angkat b.
  • Kamis, 04 Februari 2021 - 14:45:37 WIB

    Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

    Jangan Ikuti!  Iblis Penebar Hoaks Pertama Kita barangkali akrab dengan cerita Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah. Melalui anugerah ilmu, Allah memuliakan Nabi Adam di atas malaikat dan iblis..
  • Senin, 01 Februari 2021 - 16:58:52 WIB

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam Syekh Muhammad Djamil Djambek adalah ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra Barat awal abad ke-20, dilahirkan pada tahun 1860 di Bukittinggi, terkenal sebagai ahli ilmu falak terkemuka..
  • Senin, 04 Januari 2021 - 09:37:20 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq

    Prabowo dan Habib Rizieq Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Kamis, 31 Desember 2020 - 20:46:02 WIB

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam TAHUN 2020 segera akan berakhir. Tahun 2021 segera akan tiba. "Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal tahun kelam. Selamat tinggal tahun yang penuh dengan kepahitan hidup. .
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]