Sekretaris Satpol PP Kota Padang, Firman Daus

Miskin Bukan Penghalang untuk Sukses


Sabtu, 07 Mei 2016 - 02:44:16 WIB
Miskin Bukan Penghalang untuk Sukses Firman Daus beraktivitas sehari-hari sebagai Sekretaris Satpol PP Kota Padang.

Lahir dan dibesarkan di keluarga miskin yang buta huruf, membentuk karakter Firman Daus, Sekretaris Satpol PP Kota Padang, menjadi sosok pekerja keras dan pantang menyerah.

Sejak kecil, Firman Daus harus melakoni pekerjaan berdagang yang semestinya di­kerjakan orang dewasa, seperti menjual es ke sekolah dan pasar, serta menjual hasil ladang.

Baca Juga : Misteri Rumah Gadang di Bendang, Bunyi Tongkat Menghentak sampai Piring Pecah

Hanya dengan menjual hasil panen sawah lah yang dapat membantunya mendapatkan uang belanja untuk ke sekolah, sebab kondisi orang tuanya miskin dan sangat keteteran membiayai kebutuhan keluarga. 

Jangankan untuk membiayai pendidikan ia beserta saudara-saudaranya, untuk biaya hidup sehari-hari saja, sulitnya bukan main. Praktis, hari berganti hari, orangtuanya hanya berkutat pada upaya untuk bertahan hidup.

Baca Juga : Beragam Tradisi Unik Masyarakat Adat Indonesia di Bulan Rajab

“Meskipun, orangtua saya miskin dan buta huruf, namun dengan tekat yang kuat kami sekeluarga memperjuangkan diri untuk bisa sekolah. Alham­du­lillah, selama bersekolah saya selalu mendapatkan prestasi,” kata pria kelahiran 12 April 1959 di Tapus Kecamatan Padang Gelugur atau Rawo Ma­pattunggul Kabupaten Pasaman Timur ini.

Keadaanlah yang menjadikan Fiman Daus kecil, kala itu, sudah harus memikirkan hal-hal yang semestinya menjadi beban orang­tua.

Baca Juga : Ini Daftar Hewan Langka yang Perlu Kamu Lihat Sebelum Punah

Saat duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah harus bersiasat dengan waktu. Ketika waktu Salat Subuh baru saja berlalu, ia sudah meninggalkan rumah, padahal hari masih gelap. Dengan semangat yang tinggi, ia bergegas menyisir tiap jengkal semak belukar pedala­man di pinggiran kampungnya, menjual hasil panen. Segera sete­lah pulang sekolah, ia sudah ada di pinggiran kampung ikut mem­bantu orangtua membajak sa­wah. 

Meski demikian, saat berada di ruangan kelas, meskipun seba­gian besar waktunya dihabiskan untuk bekerja di luar jam sekolah, Firdaus belia tidak pernah tinggal kelas, bahkan selalu menjadi juara kelas. Ia berprinsip, biarpun anak desa harus juara.

Baca Juga : Berminat untuk Menjadi Penyelam? Ini Tipsnya untuk Pemula

“Saya tidak menyesal terlahir dan dibesarkan dari keluarga petani yang miskin,” lirih Firman Daus sambil mengenang masa lalunya. 

Sebagai anak dari keluarga miskin di desa terpencil, ia tidak pernah merasa risih apalagi gengsi melakukan pekerjaan yang me­nurut orang lain adalah pekerjaan kasar. Semua pekerjaan ini dila­koni hingga Firman Daus me­namatkan  SMEA.

Dari pengalaman hidup yang demikian berat dan menantang, sosok Firman Daus  terbentuk menjadi pribadi yang tidak ga­mang menghadapi masa kini dan kikuk menatap masa depan. 

“Saya selalu berusaha menjadi yang terbaik dimanapun saya berada,” kata suami dari Wilmayanti ini.

Selepas SMEA Lubuk Sika­ping tahun 1979, Firman Daus mendaftar untuk masuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kanwil Depsos Sumbar dan akhirnya lulus. Sejak tahun 1981-1984 dia bertugas di Bukittinggi dan tetap di Dinas Sosial.

Selama di Bukittinggi, ia melanjutkan pendidikan ke Seko­lah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Muhammadiyah mengambil gelar Sarjana Muda. Kemudian, tahun 1991 melanjutkan pendidikan lagi di STIH Padang guna memenuhi persyaratan naik pangkat ke go­longan III.

Setelah itu, ia mendapatkan jabatan Kepala Keuangan di Kandepsos Kota Padang. Lalu tahun 1994 ia bertugas di Dinsos Penanggulangan Bencana sebagai Kepala Seksi SDM.

Dan tahun 2009 menjabat di Dinsosnaker sebagai kepala bidang.

“Tahun 90an saya pernah mendapat penghargaan sebagai Pegawai Teladan di Provinsi Sumbar berdasarkan penilaian, kerajinan, tidak pernah bolos, tidak pernah dihukum, tidak pernah ditegur dan mau  belajar,” kata ayah dari Wildawarni Mer­deka Wati, Dwi Esfiza Muharrawita, Ridho Rahmat Wijaya dan Hayadi Akbar.

Perjalanan hidupnya yang begitu pelik, keras dan penuh warna, membentuk sosok Firman Daus menjadi pribadi pemikir dan pekerja keras. Dulu, tak pernah terlintas di benaknya bahwa kelak akan memiliki jabatan.

“Jangankan menjadi pejabat ataupun sekretaris di Satpol PP Kota Padang, terpikir untuk menjadi PNS saja, tidak pernah,” kata pria yang memiliki hobi memancing ikan, memelihara burung berkicau dan olahraga sepeda ini.

“Bayangkan, untuk makan saja, keluarga saya mengalami kekurangan. Bagaimana mung­kin anak petani akan berpikir menjadi PNS,” kata pemilik motto hidup “bekerja tanpa pamrih” ini.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Tak ada yang bisa menduga nasib seseorang. Begitu pepatah mengatakan.

“Orangtua sangat berpe­ran penting terhadap maju mundur kehidupan saya, bahkan kata-kata orangtua yang selalu saya pegang hingga kini, “jangan pernah tinggalkan salat dan selalu rendah hati”,” ujarnya.

Prinsip Firman Daus, hidup itu berputar seperti roda. Jika berdoa, berusaha dan selalu bersyukur serta bekerja keras, maka keber­ha­silan bisa menghampiri.

“Saya selalu teringat firman Allah SWT “Se­sungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka” QS 13:11,” kata Firman, yang juga Wakil Ketua Majelis Wakaf dan Kehartabendaan Muhammadiyah Sumbar ini.

Kini, ia telah berhasil mengubah nasibnya dari orang miskin menjadi bermartabat, melalui kerja keras, keikhlasan dan kesabaran.

Meski demikian, bagi Firman, jabatan hanya amanah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti, sehingga dia menjalani saja sesuai aturan yang berlaku, seperti air mengalir, tanpa ada target.

Dia juga selalu berpesan kepada anak-anaknya untuk tidak sombong dan putus asa. “Jika saat ini sedang berada di puncak kesuksesan, janganlah sombong. Begitupun sebaliknya, ketika sedang berada di bawah, terhina, tersiksa oleh keadaan, janganlah putus asa. Ubahlah nasib dengan kerja keras, kesabaran dan keikhlasan, niscaya Allah akan mengubahnya,” ujar Firman.***

 

Laporan: ADE BUDI KURNIATI

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Ahad, 07 Maret 2021 - 10:52:56 WIB

    Misteri Rumah Gadang di Bendang, Bunyi Tongkat Menghentak sampai Piring Pecah

    Misteri Rumah Gadang di Bendang, Bunyi Tongkat Menghentak sampai  Piring Pecah Misteri rumah gadang (rumah adat Minangkabau) di Bendang, Nagari Pasir Talang, Kecamatan Sungai Pagu, Solok Selatan (Solsel) yang selesai pembangunannya dalam satu malam. Kisah ini menjadi cerita turun-temurun oleh masyarakat.
  • Ahad, 21 Februari 2021 - 13:33:23 WIB

    Beragam Tradisi Unik Masyarakat Adat Indonesia di Bulan Rajab

    Beragam Tradisi Unik Masyarakat Adat Indonesia di Bulan Rajab Masyarakat adat di Indonesia memiliki tradisi unik dalam menyambut momen-momen tertentu, salah satunya saat memasuki bulan Rajab..
  • Ahad, 14 Februari 2021 - 16:34:31 WIB

    Ini Daftar Hewan Langka yang Perlu Kamu Lihat Sebelum Punah

    Ini Daftar Hewan Langka yang Perlu Kamu Lihat Sebelum Punah Saat ini ada berbagai lembaga di seluruh dunia yang sedang mengupayakan penyelamatan terhadap hewan-hewan langka yang terancam punah. Meski begitu, daftar hewan langka mungkin tak akan habis, karena jumlahnya terus bertambah..
  • Ahad, 07 Februari 2021 - 19:13:51 WIB

    Berminat untuk Menjadi Penyelam? Ini Tipsnya untuk Pemula

    Berminat untuk Menjadi Penyelam? Ini Tipsnya untuk Pemula Menikmati pemandangan bawah laut memiliki kenikmatan dan keasyikan tersendiri. Beraneka ragam kehidupan berseliweran dalam perairan tersebut begitu memikat untuk ditatap dan disingkap kehidupan bawah laut tersebut yang sampai.
  • Senin, 01 Februari 2021 - 22:36:28 WIB

    Pembelajaran Ideal Anak saat Pandemi

    Pembelajaran Ideal Anak saat Pandemi Pandemi COVID-19 membawa dampak besar pada dunia pendidikan di Indonesia. Sebagian besar sekolah memutuskan untuk melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar online dari rumah..
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]