Penerimaan dan Pengasuhan Anak Autisma


Sabtu, 07 Mei 2016 - 06:39:38 WIB
Penerimaan dan Pengasuhan Anak Autisma

Autisma adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks. Dengan kehadiran anak autisma di tengah keluarga berbagai reaksi orangtua sebagai ungkapan dari apa yang mereka rasakan.  Sering orangtua merasa bersalah pada saat anak mereka divonis. Rasa takut  bagaimana mereka harus menjalani hari-harinya. rasa cemas akan masa depan.

Vonis keluarga besar, re­kan sejawat dan lingkungan menambah beban yang tidak kalah hebat disamping kela­hiran anak autisma itu sendiri. Sulit untuk menerima kenya­taan merupakan reaksi orang­tua saat pertama mengetahui bahwa anaknya terlahir seba­gai anak autisma. Mereka membutuhkan waktu yang lama untuk terus berjuang. Ada beberapa tahapan yang dilalui dikehidupan mereka  sampai pada sebuah pene­rimaan kenyataan bahwa anak autisma mesti dihadapi de­ngan penyesuaian diri. Karena hanya dengan cara itu orang­tua dapat menjalani proses hidup yang konstruktif.

Baca Juga : SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

Penerimaan merupakan fase dimana keluarga sudah menerima kenyataan baik secara emosi maupun inte­lektual walaupun bukan be­rarti keluarga akhirnya baha­gia namun keluarga hanya sudah dapat menerima kenya­taan. Untuk penerimaan ter­ha­dap kelahiran anak autisma keluarga melalui beberapa fase dikehidupan mereka. Menurut Kubler Ross dalam  Santrock (2012) Manusia memiliki reaksi tertentu da­lam menghadapi cobaan hi­dup yaitu; penolakan, marah, menawar, depresi, dan mene­rima. Penolakan merupakan bentuk mekanisme perta­hanan pada diri seseorang baik secara sadar maupun tidak sadar dalam menyangkal ke­nya­taan, namun biasanya ha­nya bersifat sementara. Pada tahap ini orang akan berusaha menyangkal dengan meya­kinkan diri. Kemarahan  tim­bul saat penolakan tidak dapat dilanjutkan. Kemarahan bisa ditumpahkan pada diri sen­diri atau orang lain (khusus­nya dengan orang dekat). Tawar-menawar, tahap ini termasuk harapan untuk men­­da­patkan keringanan. De­presi, tahap ini menun­jukkan bahwa seseorang mu­lai menerima situasi, namun masuk dalam kesedihan yang mendalam dan ditunjukkan dengan sikap diam, menyen­diri dan menangis. Peneri­maan merupakan tahap mene­rima, namun berbeda dengan keadaan depresi walaupun juga bukan berarti orang tersebut akhirnya bahagia. Ia hanya sudah dapat menerima kenyataan.

Penerimaan terhadap ke­ha­diran anak autisma di­tengah keluarga tidak saja secara emosi ataupun inte­lektual, namun ada suatu usaha untuk penyembuhan mereka serta merubah pan­dangan dan harapan orangtua terhadap anak sesuai dengan kapasitas mereka.

Baca Juga : Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

Pengasuhan anak autisma di tengah keluarga

Pengasuhan anak dimulai sejak terjadinya kehamilan. Kondisi ibu ketika hamil sangat mempengaruhi per­kem­bangan janin yang ada dalam kadungan sang ibu. Banyaknya persoalan yang dihadapi ibu akan membuat ibu kelelahan, cemas dan selalu siaga. Kondisi yang tidak baik ini dapat meng­hambat perkembangan dan bahkan mengganggu perkem­bangan yang akan datang. Penelitian yang dilakukan oleh Bittman dan Zalk dalam Dagun (2013)  menemukan bukti-bukti bahwa perhatian seorang ayah terhadap  istri yang sedang hamil akan mem­bawa dampak pada sikap bayi. Allen dan Marotz (2010) mengungkapkan bahwa Stres pada ibu hamil membawa efek yang berbahaya bagi janin karena dapat mengurangi kecepatan bernafas, detak jantung dan aktifitas bayi.

Baca Juga : Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

Kedua penelitian ini me­ngung­kapkan bahwa perha­tian dari ayah kepada ibu selama kehamilan ikut men­dorong perkembangan calon bayi. Sekalipun kondisi ibu berhubungan secara lansung dengan anak, namun sikap ayah tidak bisa diabaikan, sikap ayah menjadi penting karena berpengaruh terhadap kondisi ibu.

Proses saat melahirkan juga menjadi perhatian khusus ba­gi ayah dan ibu dalam mem­be­rikan pengasuhan sejak dini pa­da anak. Proses persalinan da­pat terjadi lebih dini, tepat wak­tu atau melebihi dari wak­tu perkiraan. Bisa ber­durasi pan­jang atau pendek. Dan da­pat terjadi dengan atau tanpa komplikasi. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Hen­nen­born dan Cogan da­lam Dagun (2013), me­nya­takan wa­nita yang di­dam­pingi sua­mi­nya sam­­pai tahap akhir me­nga­lami sedikit pen­de­ritaan dan ku­rang mem­­bu­tuhkan ba­­nyak obat. Mereka le­bih me­rasakan pe­nga­la­man yang po­sitif dari pe­ristiwa ke­la­hiran. Ber­beda de­ngan ke­lom­pok ibu yang yang di­dam­pingi tahap awal saja. Ent­wisle dan during da­lam  Da­­gun (2013) mem­­­­ban­ding­­­kan sua­­mi yang me­ndam­pi­­ngi is­­tri dan sua­mi yang ti­dak ter­li­bat. Ter­nyata ke­­ter­li­batan sua­mi me­nam­bah emo­­si yang po­si­tif pa­da is­tri. Hur­lock (2010) menya­takan sikap orang tua yang kurang menye­nangkan, apa­pun ala­san­nya, hal ini akan tercermin dalam perlakuan terhadap bayi yang akan meng­halangi keberha­silan penyesuaian diri pada ke­hidupan pascanatal. Faktor penting yang menye­babkan bayi tidak tenang atau gelisah adalah tekanan berat yang di­alami ibu dalam waktu la­ma.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq

Berbagai prilaku yang ditunjukkan bayi pada saat beberapa hari mereka setelah lahir, ada yang tidur dengan tenang, namun ada juga bayi  matanya begitu sibuk, dan sedikit sekali tidur.  Prilaku bayi ini sangat dipengaruhi oleh kondisi orangtua mereka. Penelitian dilakukan oleh  Wolman serta peneliatian  Parke dalam Dagun (2013) mengungkapkan ada kaitan yang jelas antara situasi emo­sional ibu dengan prilaku bayi setelah lahir. Penelitian yang dilakukan di Boston diper­lihatkan bahwa bayi usia tiga hari, yang menunjukkan sikap relaks ternyata berkaitan erat dengan situasi emosional ibu pada masa kehamilan. Ini segera dapat dilihat, apakah si bayi cepat tersinggung dan bagaimana ia menanggapi situasi yang secara mendadak berubah.

Dari penelitian tersebut da­pat tergambar dengan jelas bah­wa pengasuhan anak yang di­mulai sejak dini perlu men­ja­di perhatian bagi keluarga. Ka­rena berdampak secara lan­sung terhadap prilaku anak se­panjang rentang perkem­bang­gannya.

Ketika prilaku autistik pada anak semakin jelas terli­hat. Orang tua akan menga­lami ketakutan yang begitu hebat, selama keadaan itu tidak dihadapi secara serius ke­takutan itu tidak akan hi­lang. Pada saat seperti ini orang tua atau keluarga me­mer­lukan orang lain untuk me­no­long­nya. Keluarga be­sar, teman, dokter, psikolog atau­pun psi­kiater diharapkan dapat me­merikan bantuan terbaik pada keluarga. Me­reka me­merlu­kan informasi yang jelas apa yang terjadi pada anak mereka, tindakan apa yang harus mere­ka lakukan serta dukungan dari orang-orang terdekat.

Penelitian Linda Mason dari Antioch University Seat­tle Washington (2012)  mene­mukan stres yang dialami saat membesarkan anak autis meng­hasilkan dalam tiga temuan utama: isolasi, me­nga­tasi perilaku menantang, dan frustrasi dengan perkem­bangan anak. Selain itu, bebe­rapa ibu dikomunikasikan penyebab stres merawat anak autisma mereka mencakup masalah perkawinan, kelela­han, dan kesedihan. S Ginan­jar (2008) mengatakan begitu banyak masalah yang diha­dapi dalam waktu bersamaan bisa memunculkan stres ber­le­bihan. Kondisi ini amat merugikan karena berakibat negatif secara fisik dan me­nim­bulkan berbagai gang­guan emosi seperti kece­masan, depresi, kemarahan, atau me­na­rik diri dari lingkungan.

Pengetahuan dan duku­ngan yang cukup akan mem­bantu keluarga dalam mene­tukan pola pengasuhan yang tepat bagi anak mereka. Ke­luarga memerlukan waktu untuk dapat bangkit dan ke­luar dari persoalan dira­sakan­nya. Fase penolakan, kema­rahan, dan depresi akan dila­lui. Setiap keluar­ga mem­bu­tuhkan wak­tu yang ber­beda un­tuk me­lewatinya se­tiap fa­senya. Na­mun keluarga harus dapat keluar dari berdukanya agar bisa menolong anak me­re­ka. Pene­li­tian yang dila­kukan oleh Ma­ri­ann Krausz  dari York University dan Judit Mes­zaros dari Semmelweisz Uni­­­versity (2013)  Dia meng­gam­barkan pengalaman ini berkabung dari orangtua anak dengan keca­catan perkem­bangan sebagai salah satu yang tidak pernah sembuh total. Sebaliknya, ada periode kese­dihan akut sering dipicu oleh tonggak perkem­bangan utama yang mem­bangunkan kembali perasaan kehilangan yang menyakitkan. Ia telah menge­mukakan bah­wa orangtua dari anak penyan­dang cacat harus pergi melalui proses berduka (penolakan, tawar-menawar, kemarahan, depresi, dan pene­rimaan) untuk mampu untuk meren­canakan secara realistis untuk masa depan keluarga mereka.

Dalam menentukan pola pengasuhan dan penanganan yang tepat unsur utama yang harus diperjuangkan orang tua adalah keluar dari masa ber­duka. Selanjutnya merancang langkah-langkah yang akan mereka lakukan untuk mem­bantu perkembangan anak autisma.  Penerimaan keluar­ga akan keberadaan anak autisma akan membatu orang tua untuk membuat rencana yang realistis untuk anaknya. Meningkatkan kesadaran dan penerimaan  terhadap anak autisma penting karena masa­lah anak autisma harus di­hadapi dengan kesadaran akan pemenuhan kebutuhan dan memperbaiki layanan atau pola pengasuhan.

Pengasuhan anak autisma tidak dapat dilakukan oleh keluarga sendiri. Agar orang­tua dapat memberikan penga­suhan dan penanganan yang baik untuk anak mereka serta mengurangi tekanan yang dihadapi, keluarga memer­lukan kelompok pendukung. Kelompok pendukung ini bisa teman, keluarga besar, para ahli atau siapa saja yang terpenting mempunyai satu tujuan yang sama dengan keluarga dalam merancang  dan merencanakan masa de­pan anak autisma.

Dukungan masyarakat lu­as sangat dibutuhkan keluar­ga au­tisma. Silap diskri­mi­na­tif, persepsi yang dido­minasi oleh prasangka yang merusak, ke­bia­saan dan asum­si-asumsi yang salah, akan membuat keluarga ini menja­di lebih berat dalam menjalani kehi­dupan mereka. Mereka mem­bu­tuhkan penerimaan yang wa­­jar, cara pandang yang po­si­tif, saling mengerti satu sama la­in serta sikap persa­habatan yang mendukung. Menjadi ba­gian masyarakat yang in­klusif akan dapat mem­bantu keluarga yang memeliki anak berke­butuhan khusus untuk men­jalani kehidupan sosial secara wajar dan secara tidak lansung telah membantu me­ri­ngankan kehidupan me­reka. ***

 

RIDA HAYANI, M. PD
(Sekolah Berkebutuhan Khusus Wacana Asih Padang)
 

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 09 Februari 2021 - 14:07:37 WIB

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam  siswa Perlu Ditinjau Ulang Ternyata persoalan pemakaian jilbab bagi siswi Non Muslim di SMKN 2 Padang,  belum berakhir. Pemberitaannya hiruk pikuk dan viral  diperbincangkan secara nasional dalam dunia pendidikan. Sampai Mendikbud terpancing angkat b.
  • Kamis, 04 Februari 2021 - 14:45:37 WIB

    Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

    Jangan Ikuti!  Iblis Penebar Hoaks Pertama Kita barangkali akrab dengan cerita Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah. Melalui anugerah ilmu, Allah memuliakan Nabi Adam di atas malaikat dan iblis..
  • Senin, 01 Februari 2021 - 16:58:52 WIB

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam Syekh Muhammad Djamil Djambek adalah ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra Barat awal abad ke-20, dilahirkan pada tahun 1860 di Bukittinggi, terkenal sebagai ahli ilmu falak terkemuka..
  • Senin, 04 Januari 2021 - 09:37:20 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq

    Prabowo dan Habib Rizieq Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Kamis, 31 Desember 2020 - 20:46:02 WIB

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam TAHUN 2020 segera akan berakhir. Tahun 2021 segera akan tiba. "Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal tahun kelam. Selamat tinggal tahun yang penuh dengan kepahitan hidup. .
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]