Warung Kopi, Sumber Informasi Wartawan


Senin, 09 Mei 2016 - 04:17:15 WIB
Warung Kopi, Sumber Informasi Wartawan

Bagi masyarakat Minangkabau, warung kopi tidak sekadar tempat minum kopi. Warung kopi di Ranah Minang memiliki banyak fungsi, antara lain sebagai tempat diskusi, baik politik, agama, sosial, budaya, dan ekonomi.

Kemudian, sebagai sum­ber informasi tentang segala sesuatu yang terjadi di lingku­ngan, mulai dari tempat ter­ke­cil, seperti kampung, keca­matan, kabupaten, provinsi, sampai yang terjadi di negara, bahkan dunia.

Baca Juga : SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

Dengan demikian, kebera­da­an warung kopi di Minang­kabau adalah sesuatu yang penting. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika di Minangkabau terdapat ba­nyak warung kopi dan selalu ramai pengunjung.

Minangkabau adalah salah sa­tu bagian etnis Melayu. Se­pertinya kebiasaan minum ko­pi merupakan tradisi ma­sya­­rakat Melayu. Wajar saja ji­ka di daerah-daerah Melayu ba­nyak terdapat warung kopi. Be­litung, sebagai salah satu da­erah Melayu, juga terdapat ba­nyak warung kopi. Hal itu ter­gambar dalam novel An­drea Hirata “Maryamah Kar­pov” (Bentang Pustaka: 2008).

Baca Juga : Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

Warung kopi yang dulu identik dengan warung tradi­sional, sudah bertransformasi menjadi warung yang modern dengan segala konsep yang baru selama beberapa waktu belakangan. Warung kopi tidak identik lagi dengan orang-orang tua, tapi juga menjadi tempat nongkrong anak-anak muda, tidak lagi menjadi tempat berkumpul orang-orang kampung, tapi juga menjadi tempat diskusi pejabat, pengusaha, dan orang-orang kelas menengah ke atas lainnya.

Dari penjabaran di atas, keberadaan warung kopi seba­gai salah satu sumber infor­masi, menjadi tempat favorit bagi wartawan, baik untuk minum sendiri maupun ber­kelompok. Saat minum kopi berkelompok, para wartawan dapat saling bertukar infor­masi yang bisa dikembangkan menjadi berita. Selain itu, juga untuk mendiskusikan sebuah topik berita atau masalah yang akan dipeecahkan bersama-sama. Sementara ketika mi­num kopi sendiri tujuannya bagi wartawan adalah untuk mendapatkan informasi dari orang-orang yang duduk di kedai kopi tersebut.

Baca Juga : Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

Wartawan mendapatkan informasi yang berlimpah di warung kopi karena warung kopi meleburkan segala per­bedaan. Informasi yang bersi­fat rahasia, kadang terlontar melalui obrolan di warung kopi. Meleburnya segala per­be­daan di warung kopi kare­na warung kopi sama seperti smoking area. Cer­penis Phu­tut EA dalam artikel berjudul “Menjadi Manusia di Smoking Area” menulis, di sana orang bertegur sapa, berkomu­nika­si, meminjam korek, bertanya hendak ke mana, kalau sudah mulai akrab berkisah tentang bisnis mereka, mengomentari tayangan-tayangan di layar televisi, berseloroh, kadang ada perdebatan kecil. Di rua­ngan yang sering diplesetkan sebagai burning area karena tempatnya yang sengaja di­buat sangat kecil sehingga penuh asap, mereka tampil dengan melepaskan semua atribut. Tidak peduli direktur atau karyawan, selebritas atau wartawan, intelektual atau budayawan, semua membaur. (mojok.co, 14 September 2014).

Demikian pula di warung kopi, semua sekat meng­hi­lang. Obrolan mengalir lan­car. Orang-orang bicara ce­plas-ceplos. Di sana, warta­wan bisa mendengarkan kelu­han masyarakat dan menja­dikannya potongan bahan berita untum dikembangkan.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq

Masing-masing kedai kopi adalah tempat favorit bagi tiap-tiap orang. Orang yang tak suka minum kopi pun sering duduk di warung kopi, selain untuk tujuan pergaulan, juga untuk minum, sebab di warung kopi juga dijual minu­man lain seperti teh, teh telur, dan susu. Oleh karena itu, di samping warung kopi yang pengunjungnya terdiri dari berbagai kalangan, ada kedai kopi yang ditongkrongi oleh kelompok atau ko­munitas tertentu.

Ada kedai kopi tempat berkumpul kalangan mene­ngah ke atas seperti pengu­saha, pejabat di pemerintah daerah, anggota DPRD, dan kalangan menengah ke atas lainnya. Warung kopi demi­kian menjadi tempat potensial bagi wartawan untuk men­dapatkan informasi, sekecil apa pun bentuknya. Warta­wan yang minum kopi sendi­ri, seperti yang penulis sebut­kan di atas, sangat mungkin sering berada di warung kopi tempat banyak narasumber penting itu berkumpul.  

Sambil minum kopi, war­ta­wan tersebut cuma perlu membuka kuping lebar-lebar untuk mendengarkan obrolan orang-orang di warung kopi tersebut. Apalagi kalau nara­sumber yang sedang dibun­tutinya, yang merupakan nara­sum­ber yang sedang berkaitan dengan sebuah masalah, se­dang mengobrol dengan sese­orang. Obrolan narasumber itu sangat menarik untuk disimak karena siapa tahu dia keceplosan mengatakan infor­masi yang dirahasiakannya. Apabila wartawan men­de­ngarkan informasi itu, ia bisa mengonfirmasinya secara resmi kepada narasumber itu di lain waktu dan tempat.

Hal lain yang membuat warung kopi sebagai tempat yang digemar wartawan ada­lah warung kopi modern yang memiliki fasilitas wifi, buku-buku, majalah, koran, televisi. Dengan adanya fasilitas wifi, wa­rung kopi menjadi “kan­tor” kedua bagi wartawan. Di sana, ia mengetik dan me­ngirim berita ke kantor.

Terlepas dari fungsi wa­rung kopi sebagai saran ko­munikasi dan sumber infor­masi, warung kopi pada za­man kontemporer ini tak se­ka­dar menjual minuman dan wa­rung kopi tak sekadar tem­pat minum. Kedua hal itu su­dah menjadi gaya hidup. Ka­rena itulah kopi dan wa­rung kopi yang semakin nya­man untuk tempat nong­krong itu digemari oleh war­ta­wan, se­bagai salah satu komunitas di tengah masyara­kat.

Kenapa kopi dan warung kopi? Bagi wartawan, kopi adalah minuman penting. Kalau tidak disukai, ia tetap dibutuhkan karena kafein yang terkandung dalam kopi mampu membuat mata terus melek. Tubuh yang lelah sete­lah liputan akan membuat mata mengantuk. Di sinilah kopi memperlihatkan peran­nya sebagai pengusir kantuk. Kantuk yang di satu sisi amat diperlukan sebagai pengantar tidur, tapi di sisi lain adalah musuh bagi kegiatan kon­traproduktif. Kantuk akan membuat wartawan terlam­bat mengirim berita, padahal deadline tidak punya tole­ransi. Dengan demikian, kopi adalah minuman penolong bagi wartawan sehingga kopi tak terelakkan dalam kehi­dupan wartawan.

Kalau seorang wartawan memiliki prestasi, lalu mesti berterimakasih terhadap mi­nu­man, barangkali ia mesti berterimakasih kepada kopi sebagai minuman pem­bang­kit semangat, yang membuat ide, inspirasi tetap menyala. Kalau ia harus berte­rima­kasih kepada warung, ba­rang­kali ia mesti berterimakasih terhadap warung kopi, tem­pat informasi tumpah ruah dari sumbernya yang murni. (*)

 

TRI HIKMADI PUTRA
(Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Unand)
 

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 09 Februari 2021 - 14:07:37 WIB

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam  siswa Perlu Ditinjau Ulang Ternyata persoalan pemakaian jilbab bagi siswi Non Muslim di SMKN 2 Padang,  belum berakhir. Pemberitaannya hiruk pikuk dan viral  diperbincangkan secara nasional dalam dunia pendidikan. Sampai Mendikbud terpancing angkat b.
  • Kamis, 04 Februari 2021 - 14:45:37 WIB

    Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

    Jangan Ikuti!  Iblis Penebar Hoaks Pertama Kita barangkali akrab dengan cerita Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah. Melalui anugerah ilmu, Allah memuliakan Nabi Adam di atas malaikat dan iblis..
  • Senin, 01 Februari 2021 - 16:58:52 WIB

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam Syekh Muhammad Djamil Djambek adalah ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra Barat awal abad ke-20, dilahirkan pada tahun 1860 di Bukittinggi, terkenal sebagai ahli ilmu falak terkemuka..
  • Senin, 04 Januari 2021 - 09:37:20 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq

    Prabowo dan Habib Rizieq Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Kamis, 31 Desember 2020 - 20:46:02 WIB

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam TAHUN 2020 segera akan berakhir. Tahun 2021 segera akan tiba. "Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal tahun kelam. Selamat tinggal tahun yang penuh dengan kepahitan hidup. .
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]