Desiwarti, 20 Tahun Mengelola Rumah Bung Hatta

Meskipun Honorer, Tak Terbersit Keinginan Berhenti


Senin, 09 Mei 2016 - 05:38:15 WIB
Meskipun Honorer, Tak Terbersit Keinginan Berhenti DESIWARTI (kanan) melayani pengunjung Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta yang sedang mengisi tamu, Kamis (5/5). (JULI ISHAQ PUTRA)

Dua puluh tahun sudah Desiwarti mengabdikan diri pada Museum Rumah Kelahiran Dr. Mohammad Hatta. Sebagai pengelola rumah bersejarah itu, ia sendiri yang merawat, member­sihkan, sampai memandu pengun­jung yang datang. Ironisnya, meski sudah 20 tahun, statusnya tak lebih dari seorang tenaga honorer.

“Silakan masuk, boleh foto-foto, tapi jangan memegang barang-ba­rang. Kursi dan kasur jangan didu­duki,” begitu pesan Desi, setiap kali pengunjung menginjakkan kaki di rumah kelahiran Proklamator RI yang berada di Jalan Soe­karno-Hatta Kawasan Mandi­angin Koto Salayan, Kota Bu­kittinggi.

Baca Juga : SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

Saat masuk ke museum, mu­dah disimpulkan bahwa museum itu memang dikelola oleh orang yang tepat. Mulai dari setiap kamar yang tertata rapi dan nyaris tak berdebu, kamar kecil yang bersih, hingga buku tamu yang penuh tulisan kesan puas dari pengunjung.

Desiwarti akan setia me­mandu tamu yang ingin tahu lebih banyak tentang lika-liku kehi­dupan Bung Hatta sedari muda hingga ujung usianya. Ia seolah telah khatam riwayat hidup sang Proklamator kebanggaan Ranah Minang. Mulai dari ‘Kamar Bu­jang Bung Hatta’, hingga dapur tempat Bung Hatta makan di masa remaja, ia tahu seluk-beluk sejarahnya.

Baca Juga : Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

Meskipun Desiwarti hanya lulusan sekolah menengah atas (SMA), kefasihannya men­cerita­kan sejarah rumah kelahiran Bung Hatta tak kalah dari para guru sejarah di bangku sekolah. Ia mengaku mendapatkan penge­tahuan tersebut dari keteku­nannya membaca berbagai buku tentang Bung Hatta, juga be­berapa cerita langsung dari ke­luarga besar Bung Hatta.

“Saya selalu membaca buku Pak Hatta, juga buku-buku seja­rah yang merangkum kisah-kisah beliau. Pernah satu kali, seseo­rang menelpon saya dan meng­utarakan niat untuk berkunjung. Saat ia sampai di sini, saya ta­nyakan dia dari mana, ternyata dia orang Indonesia yang tinggal di Ame­rika, dan memang sengaja berkun­jung untuk menelusuri jejak Bung Hatta,” katanya lagi berkisah.

Baca Juga : Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

Pengunjung itu mengaku kagum terhadap kekhataman Desiwarti akan sejarah rumah kelahiran Bung Hatta. “Pas, tahun dan tempat yang anda sebutkan sesuai dengan yang ada di berbagai literatur,” kata Desi­warti menirukan pujian tamu tersebut.

Mengabdikan diri untuk Mu­seum Rumah Kelahiran Bung Hatta sejak 1996, Desiwarti mengaku tidak pernah merasa bosan. Baginya, mengabdikan diri di Rumah Bung Hatta sama halnya dengan mengabdikan diri pada sejarah bangsa. Karena yang ia rawat adalah peninggalan-peninggalan bersejarah yang ikut menjadi aset negara.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq

“Saya melewati waktu di sini dengan bekerja sepenuh hati. Masuk pukul 07.30 WIB, dan baru pulang pukul 17.30 WIB. Saya hanya sendiri di sini sebagai pengelola dan perawat, sekaligus pemandu. Selain saya, ada dua orang lagi yang bertugas sebagai pengamanan,” ucapnya lagi.

Berbagai pengalaman berke­san pernah dirasakan Desiwarti selama mengelola Rumah Kela­hiran Bung Hatta. Seperti saat pertama kali Presiden RI Joko Widodo, berkunjung ke Sumbar dan menyempatkan diri singgah di museum tersebut.

“Saat itu 8 Oktober, Pak Jokowi datang ke sini. Presiden mendoakan agar saya selalu sehat dan ikhlas dalam menjaga rumah Bung Hatta. Saya juga sempat mengadu bahwa saya masih pega­wai honor, belum diangkat jadi pegawai negeri meski telah me­ngabdi 20 tahun. Belum terma­suk pengabdian saya dari tahun 1985 sampai 1996 di Dinas Ke­ber­sihan dan Pertamanan Kota Bukittinggi,” katanya lagi.

Selain Presiden RI, keluarga besar Bung Hatta juga kerap berkunjung dan berpesan kepada Desiwarti. Biasanya, keluarga Bung Hatta datang beserta anak cucu yang masih belia untuk mengenalkan lebih jauh silsilah keturunan keluarga mereka.

“Kalau keluarga Bung Hatta, berpesan agar saya bisa merawat semampu saya rumah ini. Dan mereka mendoakan semoga pe­kerjaan saya ini pahala bagi saya,” imbuh wanita 57 tahun itu.

Tak jarang pula Desiwarti menerima dan memandu tamu yang datang berombongan. Mes­kipun harus menghadapi jumlah tamu yang banyak, bahkan men­capai 300 orang sekali kunju­ngan. Tapi ia mengaku tak pernah ketete­ran, asalkan pengunjung mematuhi semua aturan kun­jungan.

Pernah juga beberapa kali pengunjung tidak mengindahkan aturan, seperti berfoto-foto di atas kasur atau duduk di kursi rumah. Tapi Desiwarti selalu memberi pengertian agar pe­ngunjung tersebut memahami pentingnya merawat peninggalan bersejarah.

Meski sudah 20 tahun menge­lola Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta, Desiwarti mengaku belum berpikir meninggalkan pekerjaan yang dicintainya itu. Ia berharap, dengan pekerjaan itu ia banyak mendapatkan kebaikan dalam menjalani kehidupannya.

“Sedikit banyaknya saya coba menerapkan keteladanan Bung Hatta dalam diri saya. Seperti sifat kejujuran dan keikhlasan beliau dalam bekerja. Meskipun tak semuanya bisa saya terapkan, saya usahakan semaksimal mung­kin,” tutup Ibu empat anak ter­sebut. (*)

 

Oleh : JULI ISHAQ PUTRA

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 09 Februari 2021 - 14:07:37 WIB

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam  siswa Perlu Ditinjau Ulang Ternyata persoalan pemakaian jilbab bagi siswi Non Muslim di SMKN 2 Padang,  belum berakhir. Pemberitaannya hiruk pikuk dan viral  diperbincangkan secara nasional dalam dunia pendidikan. Sampai Mendikbud terpancing angkat b.
  • Kamis, 04 Februari 2021 - 14:45:37 WIB

    Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

    Jangan Ikuti!  Iblis Penebar Hoaks Pertama Kita barangkali akrab dengan cerita Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah. Melalui anugerah ilmu, Allah memuliakan Nabi Adam di atas malaikat dan iblis..
  • Senin, 01 Februari 2021 - 16:58:52 WIB

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam Syekh Muhammad Djamil Djambek adalah ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra Barat awal abad ke-20, dilahirkan pada tahun 1860 di Bukittinggi, terkenal sebagai ahli ilmu falak terkemuka..
  • Senin, 04 Januari 2021 - 09:37:20 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq

    Prabowo dan Habib Rizieq Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Kamis, 31 Desember 2020 - 20:46:02 WIB

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam TAHUN 2020 segera akan berakhir. Tahun 2021 segera akan tiba. "Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal tahun kelam. Selamat tinggal tahun yang penuh dengan kepahitan hidup. .
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]