Umaiyah Biayai Kuliah Anak dengan Rakik Kacang


Selasa, 10 Mei 2016 - 04:17:30 WIB
Umaiyah Biayai Kuliah Anak dengan Rakik Kacang Umaiyah dibantu Yuswardi, suaminya, membuat rakik kacang di rumahnya, Jalan Batang Kabuang Ganting, RT 02/RW II, Kecamatan Koto Tangah, Padang, belum lama ini. (RUSDI BAIS)

PADANG, HALUAN — Umai­yah (47) memulai usaha rakik (rempeyek) dari pon­dok kecil sebagai tempat memasak rakik kacang dan rakik maco.

Wanita kelahiran Paria­man ini membuat rakik ka­cang mulai 2013, dengan modal awal Rp40 ribu di rumahnya, Jalan Batang Ka­buang Ganting, RT 02/RW II, Kecamatan Koto Tangah, Padang. Ia membuat rakik kacang dibantu oleh suami­nya, Yuswardi (54), dari mulai menyiapkan hingga meng­goreng rakik kacang.

Baca Juga : Pasar Keuangan Indonesia Merah Membara: Rupiah Keok, IHSG Rontok, Emas Pegadaian Merosot

Sebelumnya, mereka ber­ter­nak ayam potong selama sepuluh tahun. Pada 1998, mereka beralih usaha ke bidang angkutan karena pen­dapatan dari beternak terse­but makin merosot dari hari ke hari. Yuswardi membeli satu unit truk pasir, sekaligus menjadi sopirnya. Saat itulah Umaiyah mulai bekerja sam­bilan dengan membuat rakik kacang dan rakik maco seba­gai, selain menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga. Rakik kacang dan rakik maco itu dijualnya di kedai sendiri dan dijual di luar kedai kalau ada pesanan.

Setelah truk pasir Yus­wardi dikemudikan selama 15 tahun, truk tersebut ka­lah bersaing dengan truk pasir lain yang masih bagus. Yus­wardi lalu menjual truk terse­but. Sejak saat itu, Umai­­yah, dibantu suaminya, berfokus membuat rakik kacang seba­gai sumber uta­ma pendapatan ke­luarga. Mereka yakin bah­wa usaha itu mampu menu­pang eko­nomi keluarga

Baca Juga : Pagi Ini Nilai Tukar Rupiah Stagnan di Rp 14.260/US$

“Saya membantu apa yang bisa saya kerjakan. Anak-anak pun demikian. Jadi, ini peker­jaan keluarga,” ujar Yuswardi belum lama ini.

Yuswardi dan Umaiyah membuat rakik kacang ham­pir setiap hari. Rakik itu mereka titipkan di kedai-kedai di seputaran Koto Ta­ngah, dan ada pula yang diba­wa oleh anaknya, Arif Mau­lana, sambil pergi ku­liah di Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qu­ran (STIQ) Padang untuk dititipkan di warung dekat kampus di kawasan Jati, Pa­dang. Kemudian, ada pula yang memesan lang­sung, dija­dikan oleh-oleh untuk dibawa keluar Su­matera Barat. Juga ada pe­sanan dari katering.

Baca Juga : Turun 6%, Harga Emas Drop di Bawah US$ 1.700

Dalam sehari, Umaiyah bisa memproduksi tiga bung­kus rakik kacang. Dalam se­bu­lan, ia memproduksi seki­tar 20 bungkus atau 2.400 keping rakik kacang. Se­bungkus rakik tersebut berisi 150 keping, dengan harga eceran Rp500 per keping. Sejak Januari 2016, ia me­naik­kan harga eceran menjadi Rp1.000 per keping karena harga bahan, termasuk kacang tanah, juga naik. Isi per bung­kusnya pun ikut ia kurang menjadi 120 keping.

Selain dititipkan di se­jum­lah kedai, Umaiyah juga me­ni­tipkan rakik kacangnya di satu mini market yang rutin menerima rakik ter­sebut rata-rata 20 bungkus per bulan.

Baca Juga : Presiden Jokowi: Perdagangan Digital Harus Dorong Pengembangan UMKM

“Kalau ada yang pesan rakik maco, juga saya buat­kan. Yang rutin hanya rakik kacang,” sebut wanita yang memiliki 5 anak ini.

Ia menuturkan, laba yang ia dapatkan dari rakik kacang tak besar. Tetapi, keuntungan itu bisa untuk membiayai kebutuhan hidup dan pen­didikan anak-anaknya, teru­tama yang kuliah di STIQ Padang. (h/rb)

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]