Usia Tua Bukan Halangan Berbisnis

Budi Pasarkan 500 Kue Tiap Pagi


Rabu, 11 Mei 2016 - 04:08:27 WIB
Budi Pasarkan 500 Kue Tiap Pagi BUDI mengemas kue bolu kukus di rumahnya, Jl. Pulau Karam No. 157 Kelurahan Pondok, Kecamatan Padang Barat, Padang, Senin (9/5). (RUSDI BAIS)

Budhi H (62) bersama isterinya Nurhayati (61) bangun setiap subuh untuk mengemas bermacam kue, seperti nasi lemak, bolu potong, bolu kukus, dan marmarkit.

Selesai salat subuh, Bu­dhi mengantar sekitar 500 buah kue dengan sepeda menuju Simpang Pulau Ka­ram, Kelurahan Pondok, Kecamatan Padang Barat, Padang. Di sana, sudah ha­dir sekitar 25 orang anak galeh menunggunya. Selesai transaksi, harga dipatok buat pedagang keliling itu hanya Rp 800 per buah, ia lalu kembali pulang dengan sepeda tuanya itu.

Baca Juga : Tim SAR Gabungan Berhasil Evakuasi Kapal Mati Mesin dan 4 Nelayan dengan Selamat

Sekembali pulang ke rumah, Budhi menyiapkan segala sesuatu untuk me­masak kue bolu. Mulai me­ma­sak pukul 09.00WIB. Ada bolu kukus, bolu pan­dan, dan lainnya. Sehabis zuhur, ayah dua anak, se­orang cucu itu, kembali mengayuh sepeda tua, me­ngan­tarkan kue ke Pasar Raya Padang.

“Sepeda ini sudah 30 tahun menemani saya,” ujar­nya di rumahnya, Jl.  Pulau Karam No. 157 Ke­lurahan Pondok, Ke­ca­ma­tan Padang Barat, Pa­dang, Senin (9/5). Pukul 17.00 WIB, ia mulai memasak nasi lemak, dan selesai pu­kul 21.00 WIB, lalu di­bungkus menjelang subuh.

Baca Juga : Awal Maret 2021, Harga Bawang Putih dan Merah Turun di Pasar Raya Padang

Selain kegiatan rutin, Budhi juga melayani pesa­nan, termasuk kue basah seperti  onde-onde sagu, bakwan, kue talam, dan lapek.

“Sebelumnya kami juga pernah membuat kue-kue basah, apalagi bakwan khas Jawa buatan ibuk, banyak peminatnya,” ujar Budhi berpromosi.

Baca Juga : Harga Emas Antam Tinggalkan Level Tertinggi, Bikin 'Senam Jantung'

Budhi hanya tamat SMP. Pada usia 18 tahun, ia me­ninggalkan Padang, bekerja di pabrik roti di Bukittinggi. Di sana ia memperoleh ilmu membuat roti dan kue bolu. Kemudian dipindahkan ke pabrik es, masih induk semang yang sama.

Delapan tahun bekerja di sana, Budhi ingin men­cari suasana baru, lalu me­ran­tau ke Jakarta. Di Ja­karta ia awalnya bekerja serabutan, kemudian men­jadi mandor di perusahaan kontraktor. Setelah itu, ia ikut mobil kanvas, menjual bermacam makanan dan minuman. Pada 1988, ia pulang kampung karena orangtuanya sakit. Ia mem­boyong isterinya bersama dua anak yang masih kecil.

Baca Juga : Bika Bakar, Makanan Tradisional di Padang yang Bertahan hingga Kini

Di Padang, Budhi beker­ja di rumah biliar di Jl. Niaga Padang. Bekerja dari pukul 08.00 WIB hingga larut malam, pen­da­patan­nya jauh dari cukup. Pen­dapatan untuk membeli kebutuhan keluarga dibantu istrinya yang bekerja me­nerima upah cucian. Di samping itu, dicoba mem­buat kue bolu kismis, kue talam parancih (singkong)  lalu dititip di warung dekat rumah biliar.

Beberapa bulan kemu­di­an, tampak oleh seorang anak galeh (pedagang kue ke­liling), lalu menyatakan ber­sedia menampung, mes­ki hanya 15 kue. Hanya hitu­ngan hari, jumlah anak galeh meningkat drastis, sebulan kemudian anak ga­leh Budhi sudah 20 orang. Maka, Bu­dhi mengun­dur­kan diri be­ker­ja di rumah biliar, lalu memfokuskan di­ri pada bisnis kue. Begitu pu­la hal­nya dengan isteri­nya.

Selain melayani kebu­tuhan anak galeh, Budhi coba membuat kue donat, yang ia titipkan di salah satu toko kue terkenal di kawa­san Blok A kemudian pin­dah di samping bioskop Mulia Padang, ternyata dite­rima dan laris manis. Lalu, menyusul kue bolu dan bermacam kue lainnya.

“Sejak tahun 1991 sam­pai sekarang toko tetap me­nerima kue saya,” im­buh­nya. (*)

 

Laporan : RUSDI BAIS

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]