Kecanduan Terhadap Negeri Ngeri


Rabu, 11 Mei 2016 - 04:15:27 WIB
Kecanduan Terhadap Negeri Ngeri

Mei 2016 ini dibuka dengan sejumlah kengerian. Ada mahasiswi UGM yang diduga korban pembunuhan, dosen UMSU yang dibacok mahasiswanya, penembakan bule di Bali, hingga yang paling memiriskan adalah tewasnya seorang remaja usai diperkosa 14 pria di Bengkulu. Begitu ngerikah negeri ini??

Saya tidak mau membahas ke­jadian di atas. Cukuplah de­ngan berempati terhadap para korban dan menjadikan peris­tiwa tersebut sebagai pelajaran bagi diri. Cuma saya lebih tertarik dengan gaya sejumlah media ‘mainstream’ tanah air ini dalam mem­beritakan ke­ja­dian yg ngeri. Setidaknya ini ber­kaitan erat juga dengan pendidikan ter­hadap generasi masa depan Indonesia.

Baca Juga : SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

Saya teringat dialog se­bu­ah film berjudul Waking Life yang berkata begini, “Manusia membutuhkan ke­ka­cauan. Bahkan, dia ingin men­da­patkan itu. De­pre­si, per­seli­sihan, ke­rusu­han dan pem­bunuhan. Semua hal bu­ruk itu. Kita tertarik pada ke­adaan hampir orgiastik yang diciptakan dari ke­ka­cau­an.”

“Itu ada dalam diri kita semua dan kita bersenang-senang di dalamnya. Media memasang wajah sedih pada keadaan itu, melukiskan hal itu sebagai tragedi manusia. Tapi fungsi media tidak untuk menghilangkan kejahatan manusia. Mereka membujuk kita untuk menerima keja­hatan dan terbiasa hidup dengan hal itu.”

Baca Juga : Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

Ujung-ujungnya, keadaan seperti itu telah menciptakan kekuatan yang memupuk ke­inginan kita untuk menjadi pengamat yang pasif. Begitu?

Jika boleh untuk sedikit waktu bertanya pada diri sendiri, apakah yang kita dapatkan dari tontonan kri­minal itu? Menegangkan? Se­dih? Men­cekam? Sangat terta­rik? Atau kita memang telah masuk ke dalam taraf candu? Candu terhadap kekacauan??

Baca Juga : Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

Saya bukan ahli psikologi atau apalah namanya, namun secara sederhana, tayangan tentang kekacauan telah mera­suk ke dalam alam bawah sadar penontonnya. Di satu sisi, kekacauan menjadi can­du, dan di sisi lain kekacauan membuat jiwa kehilangan keberanian, ketangguhan dan kebanggaan terhadap negeri.

Coba kita perhatikan, apa­kah hanya bad news yang terjadi di negeri ini? Atau good news dan ribuan hal positif lainnya itu sengaja disirnakan? Atau mungkin karena telah banyak masya­rakat kita yang kecanduan kekacauan sehingga mau tak mau media mesti mengikuti selera pasar? Begitu?

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq

Beberapa kali saya pernah me­­nyaksikan good news yang di­­beritakan media massa. Ten­tang prestasi atau sejenis­nya. Ta­yangan itu sungguh mem­bu­at haru biru di dalam dada, se­rasa ada airmata yang ter­se­kat di tenggorakan saat me­nyak­sikannya, dan ada ge­le­gak na­siona­lis­me yang kian tajam dan mem­bara dalam di­ri.

Tapi sayangnya, hal itu sangat ja­rang terjadi. Setiap kali menonton tele­visi, alam bawah sadar selalu dice­koki be­rita dan pro­gram yang mem­bunuh jiwa. Ada be­berapa tayangan yang positif, tapi tidak terlalu banyak porsinya, dan jam tayang pun selalu ditaruh di jam-jam sepi penonton.

Ya, contohnya tayangan di pu­kul tiga dini hari hingga fa­jar menyingsing. Ada pro­gram keagamaan, wisata, kein­da­han alam, keunikan ma­sya­rakat Indonesia dan lain seba­gai­nya. Tapi siapa yang mau non­ton selain manusia imso­nia??

Sebaliknya, tayangan bad news atau program ‘cuci otak’, diputar pada jam-jam yang ramai penonton. Seperti apa yang ditulis di atas, bisa jadi ini bukan kesalahan media-medianya, tapi bisa jadi hal ini terjadi karena media yang mesti pasrah mengikuti selera pasar. Selera masyarakat yang memang sangat membu­tuh­kan tontonan yang berisi ke­kacauan. Begitu?

Beberapa pihak telah men­­coba membuat survey atas tayangan atau berita kekacauan dan kekerasan di media. Disimpulkan, taya­ngan itu telah mengajari cara kekerasan baru, kepekaan terhadap kekerasan menjadi tumpul dan tayangan keke­rasan itu pun lebih  menjual, karena dalam  periklanan  ada  anggapan  bahwa tayangan kekerasan lebih mudah di­ingat dan lebih menjual.

Selain itu juga, tayangan ke­ke­rasan di televisi ber­po­ten­si memunculkan efek ter­ha­dap pe­rilaku khalayak re­maja, khu­susnya siaran beri­ta kri­minal. Perilaku individu me­ngandung tiga ranah uta­ma, kognitif (pengetahuan), afek­tif (sikap) dan konatif (tin­dakan). Efek tayangan sia­ran berita kriminal televisi pun dapat dirinci se­bagai pe­ngaruh yang di­berikan ke­­pa­da kha­layak mela­lui isi beri­ta kri­minal di te­le­visi, sa­lah satunya be­rita kri­mi­nal.

Efek berita kriminal di televisi meliputi efek kog­­nitif dan efek afektif. Efek kognitif berhubungan de­­ngan persepsi khalayak ter­hadap isi berita kri­mi­nal, pengetahuan teknis kha­layak akan tindak keja­ha­tan, dan penilaian khala­yak ter­hadap realitas. Se­dang­­­kan efek afektif ber­kai­tan dengan perasaan kha­layak se­sudah menonton ta­yangan ke­ke­rasan meliputi rasa takut dan curiga.

Selain itu, efek afektif juga menyangkut toleransi kha­layak akan tindak kekerasan. Efek berita kriminal di tele­visi tergantung pada keter­dedahan khalayak remaja pada berita kriminal di tele­visi. Keterdedahan khalayak remaja pada berita kriminal di televisi berkaitan dengan jenis berita kriminal, frekuen­si dan durasi menonton, dan pengawasan orang tua.

Bagi saya, tayangan penuh kekacauan dan kekerasan persis narkoba. Candu terha­dap kekacauan pastinya juga membuat kita ‘ketagihan’ dan alam bawah sadar pun ikut ber­doa agar muncul keka­cau­an-kekacauan baru yang le­bih sadis, miris dan men­ce­kam.

Istilahnya begini, ketika diri terbiasa mengkonsumsi hal negatif, maka akan timbul candu terhadap hal itu. Be­gitu­pun juga sebaliknya. Sa­king candunya dengan hal negatif, segala hal yang terjadi diupayakan untuk diubah menjadi negatif. Apapun yang tampak, selalu dicari nega­tifnya. Sampai-sampai ada prestasi yang baik dari se­orang tokoh, kita tetap me­mandangnya negatif. Ya, kare­na kita telah kecanduan.

Hal ini pun sebenarnya tak luput dari pihak-pihak yang mencari untung atas ke­can­duan akan kekacauan ini. Hing­ga ada yang membuat me­dia dan sengaja menyebar be­rita-berita bad news agar pa­ra pecandu tak sakaw. Li­hat­lah, entah berapa ba­nyak se­karang ini judul-ju­dul be­rita yang dipaksa bom­bastis walau tan­pa isi. Ada yang mem­beri ju­dul be­ri­ta dengan awalan ‘Meng­­he­bohkan’, ‘Ne­ti­zen He­boh’, ‘Sa­dis’ dan lain se­ba­gainya. Pa­ra pecandu pun di­giring me­nuju hingar bingar bad news.

Bukan lagi bad news yang biasa memberitakan depresi, perselisihan, kerusuhan atau pembunuhan, akan tetapi lebih kepada bad news yang benar-benar buruk, nggak jelas, tak terpercaya, tanpa isi dan hanya mengejar rating.

Lalu sampai kapan kita berputar-putar dalam keka­cauan ini? Masyarakat telah menjadi pecandu kekacauan, sebagian media memilih un­tuk membuat tingkat pecandu le­bih meningkat lagi dan se­bagian media lain pun ter­pak­sa pasrah untuk mengikuti se­lera pasar demikian. Be­gitu??

Jika keadaan memang te­lah demikian adanya, ada ke­ta­kutan yang muncul keti­ka candu telah berubah men­jadi vi­rus. Mereka yang belum ter­kena bad news-holic, lam­bat la­un tertular dan ikut menjadi pe­makai. Mau bagai­mana la­gi, toh media telah satu suara un­tuk mengedepankan bad news.

Satu langkah berani dari me­dia sangat perlu dan diha­rap­kan untuk melawan hal ini. Be­rani untuk tidak mengikuti arus, berani untuk tampil be­da dan berani untuk keluar da­ri kotak-kotak paradigma yang kian membulat. Seti­dak­n­ya bisa menjadi tempat re­ha­bilitasi bagi pecandu. Bagai­mana? Peradaban terus berja­lan, kita pun butuh peru­bahan ke arah yang lebih baik toh?! ***

 

WAHYU ALHADI
(Penulis)
 

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 09 Februari 2021 - 14:07:37 WIB

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam  siswa Perlu Ditinjau Ulang Ternyata persoalan pemakaian jilbab bagi siswi Non Muslim di SMKN 2 Padang,  belum berakhir. Pemberitaannya hiruk pikuk dan viral  diperbincangkan secara nasional dalam dunia pendidikan. Sampai Mendikbud terpancing angkat b.
  • Kamis, 04 Februari 2021 - 14:45:37 WIB

    Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

    Jangan Ikuti!  Iblis Penebar Hoaks Pertama Kita barangkali akrab dengan cerita Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah. Melalui anugerah ilmu, Allah memuliakan Nabi Adam di atas malaikat dan iblis..
  • Senin, 01 Februari 2021 - 16:58:52 WIB

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam Syekh Muhammad Djamil Djambek adalah ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra Barat awal abad ke-20, dilahirkan pada tahun 1860 di Bukittinggi, terkenal sebagai ahli ilmu falak terkemuka..
  • Senin, 04 Januari 2021 - 09:37:20 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq

    Prabowo dan Habib Rizieq Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Kamis, 31 Desember 2020 - 20:46:02 WIB

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam TAHUN 2020 segera akan berakhir. Tahun 2021 segera akan tiba. "Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal tahun kelam. Selamat tinggal tahun yang penuh dengan kepahitan hidup. .
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]