Buyung Kuning Jatuh Bangun Bersama Sandal


Kamis, 12 Mei 2016 - 04:37:28 WIB
Buyung Kuning Jatuh Bangun Bersama Sandal BUYUNG Kuning di toko sandalnya, di kawasan Gunung Pangilun, Padang, beberapa waktu lalu. (RUSDI BAIS)

Buyung Kuning telah ikut membantu ayahnya membuat sepatu dan sandal di Jakarta sejak SMP. Hanya hitungan bulan, ia sudah bisa bekerja sendiri, sehingga terima upah setiap hari. Ia akhir putus sekolah di tengah jalan karena tak lagi bersemangat untuk bersekolah.

Di Tangerang, usaha ayahnya tak kun­jung berkembang. Suasana makin parah tatkala ayahnya meninggal dunia pada 1992 saat ia berusia 20 tahun.

Baca Juga : Harga Kebutuhan Pokok di Padang Cenderung Stabil

Merasa tak mungkin melanjutkan usaha sepatu dan sandal, ia beralih ke konveksi, yakni memproduksi pakaian wanita, hanya dengan modal sangat terbatas. Dalam hitungan bulan, usahanya berkembang pesat, sehingga tenaga kerjanya mencapai 10 orang.

Pada akhir 1994, bisnisnya mengalamai kendala, dan bangkrut. Ia sempat mengang­gur setahun, kemudian pulang ke Pa­dang. Di Padang, ia bekerja dengan kena­lannya di kawasan Gantiang, yaitu  reha­bilitasi sepatu dan sandal (tukang sol).  Setelah mendapatkan modal meski jum­lahnya sekadar untuk mengontrak tempat, ia berhenti bekerja di Gantiang dan mem­buka usaha di kawasan Gunung Pangilun, Padang. Kontrak kedai waktu itu Rp500.­000 per tahun.

Baca Juga : Peluang untuk Tenaga Kerja, Dibuka Pendaftaran Kerja ke Jepang untuk Perawat

Karena modal tak mencukupi, ia ber­kong­si dengan pamannya, Norman. Ia memproduksi sandal kulit yang lebih dikenal dengan sandal datuk. Usaha itu sempat berkembang, sehingga tenaga kerjanya mencapai 4 orang, kemudian pecah kongsi. Ia kembali menjadi pengangguran.

Pada 1997, Buyung merantau lagi ke  Jakarta. Setahun di Jakarta, ia tak kunjung menemukan peluang usaha. Ia kembali ke Padang pada 1998 karena tak tahan me­nganggur di Jakarta.

Baca Juga : Jadi Ujung Tombak Penyaluran BBM di Sumbar, Ini Modal Utama Elnusa Petrofin

Di Padang, ia memulai lagi usaha membuat sandal. Setelah disurvei beberapa tempat, akhirnya ia mengontrak kedai di kawasan Gunung Pangilun. Modal awalnya Rp1 juta. Untungnya, ia sudah punya berbagai peralatan. Jadi, dana Rp 1 juta itu bisa digunakan untuk beli bahan.

Ia kembali memulai usahanya dari nol dengan membuat sandal dan rehabilitasi. Rezekinya mulai membaik. Berselang setahun, ia sudah merekrut 4 orang tenaga kerja terampil. Pemasaran sandal ketika itu di Batam dan Jambi.

Baca Juga : Jumlah Kolam Budidaya Perikanan Masyarakat di Pariaman Terus Bertambah

Saat usahanya mulai berkembang, ia menikah. ”Tak lama setelah menikah, daya beli mulai sepi kembali, sampai 2004,” ungkap jelas pria yang lahir di Pariaman, 20 Februari 1972 itu belum lama ini.

Memasuki 2005, bisnisnya mulai mem­baik lagi dan berlangsung hingga 2010. Tenaga kerja masih ada 3 orang. Setelah itu, isterinya sakit, sehingga ia banyak menge­luarkan biaya untuk pengobatan. Akhir 2013, istrinya meninggal dunia.

Pada 2014, usahanya membaik. Ia dibantu 2 orang tukang. Ia tetap membuat sandal dan rehabilitasi. Ia menjual sandalnya dengan harga bervariasi, berkisar Rp50.000 hingga Rp150.000 per pasang. “Omzet rata-rata hanya sekitar Rp5-7 juta per bulan,” tambahnya. (*)

 

Laporan: RUSDI BAIS

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]