Ahok dan Komunikasi Politiknya


Kamis, 12 Mei 2016 - 04:48:19 WIB
Ahok dan Komunikasi Politiknya

Fenomena kontroversi Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, atau yang lebih dikenal sebagai Ahok, dalam segala dimensinya begitu dominan dihantarkan media, terutama sepanjang Maret-April lalu. Meskipun sudah mulai tergusur oleh isu-isu lainnya, namun apa pun yang berkenaan dengan Ahok pasti akan menjadi konsumsi head-line dan tetap aktual dibahas.

Tensi pemberitaan me­ningkat manakala beberapa kasus dugaan korupsi mulai menyeruak ke publik. Disusul kemudian dengan pengun­duran diri beberapa pejabat (terutama Walikota Jakarta Utara) beberapa waktu lalu.

Baca Juga : SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

Tak bisa dibantah, magnet Ahok mulai terbangun sejak ia mendampingi Joko Wido­do sebagai Wakil Gubernur Jakarta. Masa-masa sebelum Pilpres 2014 adalah saat di mana kepopuleran Ahok di Jakarta masih ‘tertutupi’ oleh ‘efek Jokowi’. Publik yang jeli dapat melihat betapa peranan Ahok di belakang Jokowi lama-kelamaan membesar, semakin dominan, menyita perhatian. Apalagi untuk urusan tertentu, Ahok diberi porsi yang cukup besar oleh Jokowi untuk langsung turun ke lapangan, satu hal yang membuat Ahok berke­sem­patan berhadapan langsung dengan media.

Sebagai efek magnet yang begitu besar serta kom­plek­sitas dan dinamika sosial-politik yang melingkupi wila­yah kerjanya (baca: DKI Ja­karta), ditambah gaungnya di media massa dan media so­sial, publik yang terbiasa mengikuti sepak terjang Ahok sejak menjadi pe­mim­pin di ibukota pun terbelah. Kelompok pertama adalah mereka yang menilai cara kepemimpinan dan gaya ko­munikasi politik Ahok me­mang cocok untuk pro­vinsi seperti DKI Jakarta, arti­ku­latif. Se­ba­lik­nya, resistensi terhadap Ahok ter­for­­mula­si­kan ke da­­lam persepsi di benak ke­lompok lainnya bahwa cara komunikasi Ahok sudah me­lewati batas-batas ideal se­orang pemimpin, cenderung otoriter.

Baca Juga : Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

Ahok: Perspektif Artikulatif

Ditinjau dari perspektif komunikasi antar manusia, sejatinya Ahok berhasil me­menuhi dua dari tiga aspek dalam berkomunikasi, yaitu Clarity dan Direction. Semen­tara untuk aspek lainnya, Attitude, Ahok kerap gagal, dalam artian tidak terlalu mengindahkan untuk bersi­kap secara santun dalam ber­komunikasi. Sebaliknya, man­tan Bupati di Bangka Belitung ini seolah tidak peduli respon lawan bicara. Wajar, karena ia menekankan kejelasan (clarity), serta ke­langsungan/arah po­in-poin ko­mu­nikasi yang di­sam­­paikan (direction).

Baca Juga : Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

Konsekuensinya, siapa pun yang menjadi sasaran ‘peluru’nya akan merasakan poin-poin komunikasi Ahok mendarat tepat sasaran. Orang yang disebut-sebut dalam pernyataannya dijamin panas-dingin kupingnya. Apa­lagi, Ahok terbiasa menyerang dengan dalil-dalil dan data tertentu. Dampak berikutnya, sasaran tembak akan mudah terpancing untuk merespon secara emosional di lain wak­tu. Sebagai bukti, pertikaian komunikasi antara Ahok dan Lulung, Ahok-Yusril, dan Ahok-ketua BPK yang kerap dibingkai oleh media, kadang dibumbui sensasi di sana-sini.

Lebih jauh, dengan gaya­nya yang ceplas-ceplos dan apa adanya, publik jadi tahu apa yang terjadi sesungguhnya di balik seluruh per­nyata­annya. Alhasil, publik tidak ‘dipaksa’ untuk menebak-ne­bak, publik terbingkai un­tuk semakin menjurus men­citra­kannya sebagai sosok yang artikulatif, jujur, logis. Bisa jadi, ini merupakan antitesis gaya komunikasi era Orde Baru yang cenderung ‘mis­terius’, enigmatik, me­ngam­bang, menyembunyikan fakta, bicara di tataran yang nor­matif, dan menjauhi solusi.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq

Ahok: Perspektif Otoriter

Blake dan Maiton (2001) mengatakan, ada tiga tipe gaya kepemimpinan dalam ber­komunikasi. Ketiganya ada­lah; demokratis, parti­sipatif, dan oto­riter. Gaya ke­pemimpinan oto­riter dicirikan dengan pilihan kata yang tajam, gaya bahasa non­verbal-menekan, bahasa tu­buh yang cenderung agresif. Kepemimpinan otoriter bia­sanya bicara dengan tendensi membuka konfrontasi dengan lawan bicara, over-confidence, terlalu yakin dengan apa yang disampaikan dalam dialog.

Dan Nimmo (1999) me­nye­butkan, prilaku ko­mu­nikasi itu ada tiga. Pertama; asertif, kedua; pasif, ketiga; agresif. Ciri-ciri asertif; komu­nikator akan bertindak te­nang, santun, skala intonasi sedang. Pada prilaku pasif, komunikator cenderung ter­tutup, menghindari kon­fron­tasi, dan nada suara pelan. Sebaliknya, perilaku ko­mu­nikasi agresif ditandai dengan tindakan men­dominasi pem­bicaraan, memiliki kecen­drungan (ingin) menyerang sesuatu, nada suara keras, menekan. Bisa disimpulkan, pelaku komunikasi agresif bukanlah tipe pendengar yang baik.

Dapat disimpulkan, Ahok memilih gaya komunikasi ceplas-ceplos dan terbuka, straight to the point, bahkan terkadang meledak-ledak de­ngan intonasi tinggi, seolah antitesis gaya komunikasi Jokowi yang cenderung te­nang meski tetap terbuka. Konsekuensi negatif dari tin­dak komunikasi seperti ini bukan tanpa risiko. Biasanya, pemimpin yang memilih gaya ini potensial untuk terjebak ke dalam pola ke­pemim­pi­nan yang oto­riter. Ini dise­bab­kan teru­ta­ma oleh prasangka yang ter­lanjur tertanam di benaknya bahwa ia adalah satu-satunya aktor yang sedang mengubah lingkungan bobrok di sekitarnya.

Menarik menyigi survey Periskop Data pada akhir 2015 lalu yang secara garis be­sar cenderung menangkap ke­­san negatif publik akan ga­ya ke­pe­mim­pi­nan dan ko­mu­ni­ka­si po­li­tik Ahok. Terbukti, nyaris se­paruh da­ri res­pon­den (46,6%) menyatakan gaya bicara Ahok temasuk kategori ‘Tidak Baik’. Sekitar 70,4% publik menilai gaya bicara Ahok tidak santun. Sebanyak 77% responden setuju Ahok harus memperbaiki cara ber­komunikasinya. Sementara di ranah kepuasan akan kinerja, hanya 48,2% dari nara sum­ber penelitian yang me­nya­takan puas dengan kinerja Ahok sebagai gubernur.

Ahok dan Persepsi Abu-abu

Terlepas dari kontroversi dan resistensi terhadapnya, Ahok tetaplah aset ke­pe­mim­pinan bangsa. Cara ber­ko­munikasinya merupakan ko­drat yang melekat di ke­pri­badiannya. Meski masih ter­buka kemungkinan bagi­nya untuk mengubah tipikal ber­komunikasi, namun ke­mung­kinan itu sangat tipis, citra artikulatif-emosional seolah sudah menjadi trade mark, dan itu merupakan kele­ma­han sekaligus kele­bihan­nya.

Satu hal yang pasti, se­orang pemimpin tetap harus menyadari konteks dan si­tuasi berkomunikasi. Seba­gaimana yang dikatakan oleh Effendi Gazali, setiap orang, terutama pemimpin, harus tahu mana yang layak disam­paikan ke publik, mana yang (hanya pantas) di dalam ruangan (dikutip dari CNN­In­done­sia.com, 2015). Lebih lanjut, Gazali mengingatkan, jangan sampai pemimpin jatuh ke dalam dua hal; oto­riter, dan dikultuskan. Yang pertama akan mematikan nyali kha­layak yang dipim­pinnya, dan yang kedua me­matikan nalar semua orang di sekelilingnya.

Lebih jauh, Diana Booher (2010) mengatakan bahwa komunikasi yang dilakukan pemimpin pada bawahannya bertujuan untuk meng­gerak­kan perubahan, mengubah cara pandang dan pemikiran lingkungan organisasinya. Over-dosis dalam ber­ko­mu­nikasi sangat berpotensi justru mengundang blunder, sehing­ga tujuan awal untuk me­ngubah cara pandang dan pemikiran lingkungan or­ganisasi bisa jadi malah tidak tercapai.

Meski kini Ahok ‘dise­rang’ dari berbagai sisi (kita ingat betapa seorang SBY yang di-bully oleh Megawati, dise­rang kanan-kiri justru berbalik menang dalam kon­tes Pilpres 2004), kita mesti semakin berhati-hati mem­persepsi Ahok. Pengamat politik, M. Qodari, me­nga­takan, Ahok kini (mulai) dipandang tidak lagi secara hitam-putih oleh publik, namun bisa jadi sudah abu-abu (kompas.com, 12/4/16). Dua kasus, yaitu R.S. Sum­ber Waras dan rekla­masi pantai utara Jakarta kini menjadi batu sandungan yang berpeluang menjerat lang­kahnya untuk tetap ek­sis. (*)

 

MOHAMMAD ISA GAUTAMA
(Pengajar Komunikasi Politik, Fakultas Ilmu Sosial-UNP)

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 09 Februari 2021 - 14:07:37 WIB

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam  siswa Perlu Ditinjau Ulang Ternyata persoalan pemakaian jilbab bagi siswi Non Muslim di SMKN 2 Padang,  belum berakhir. Pemberitaannya hiruk pikuk dan viral  diperbincangkan secara nasional dalam dunia pendidikan. Sampai Mendikbud terpancing angkat b.
  • Kamis, 04 Februari 2021 - 14:45:37 WIB

    Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

    Jangan Ikuti!  Iblis Penebar Hoaks Pertama Kita barangkali akrab dengan cerita Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah. Melalui anugerah ilmu, Allah memuliakan Nabi Adam di atas malaikat dan iblis..
  • Senin, 01 Februari 2021 - 16:58:52 WIB

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam Syekh Muhammad Djamil Djambek adalah ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra Barat awal abad ke-20, dilahirkan pada tahun 1860 di Bukittinggi, terkenal sebagai ahli ilmu falak terkemuka..
  • Senin, 04 Januari 2021 - 09:37:20 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq

    Prabowo dan Habib Rizieq Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Kamis, 31 Desember 2020 - 20:46:02 WIB

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam TAHUN 2020 segera akan berakhir. Tahun 2021 segera akan tiba. "Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal tahun kelam. Selamat tinggal tahun yang penuh dengan kepahitan hidup. .
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]