Pemilihan Lembaga Kemahasiswaan

Fakultas Tak Campur Tangan


Jumat, 13 Mei 2016 - 03:30:52 WIB
Fakultas Tak Campur Tangan DEKAN Faperta UMMY Solok, Syahro Ali Akbar, saat memberi arahan sebelum dilakukan musyawarah mahasiswanya, Selasa (10/5) di Kampus Jalan Sudirman Kota Solok. (ALFIAN)

SOLOK, HALUAN — De­kan Fakultas Pertanian Uni­versitas Mahaputra Mu­hammad Yamin (Faperta UMMY) Solok, Prof DR. Syahro Ali Akbar menga­takan, dalam pemilihan lem­baga kemahasiswaan, se­perti Badan Eksekutif Ma­hasiswa (BEM), Gubernur maupun Resimen Maha­siswa (Menwa), fakultas tidak akan ikut campur kare­na itu wadah mahasiswa.

“Hanya saja, fakultas meminta pada mahasiswa agar dalam memilih lem­baga disuatu perguruan ting­gi hendaklah yang punya waktu, punya kemampuan dan berjiwa sosial karena jabatan dalam lembaga ke­ma­hasiswaan banyak ber­sifat sosial,” jelas Syahro Ali Akbar, ketika membuka musyawarah mahasiswa Fa­perta UMMY Solok di kam­pus Faperta Selasa (10/4).

Baca Juga : Rusma Yul Anwar: Pembangunan Harus Terukur

Lembaga yang ada di kampus merupakan milik mahasiswa, lembaga itu tempat bermusyawarah mu­fakat, menentukan sikap dan bisa juga sebagai ke­kuatan kampus, setiap ke­gia­tan yang ada di kampus haruslah dimotori ma­hasis­wa melalui lembaga yang ada, makanya lembaga itu milik mahasiswa dan meru­pakan mitra bagi dekan.

Dibeberapa perguruan tingggi negeri dan swasta terkemuka di Indonesia, lembaga yang ada selalu tanpil ke depan dalam mem­persoalkan kebijakan yang tidak populer bahkan meng­kebiri hak-hak rakyat. Lem­baga mahasiswa tanpil kede­pan memberikan peringatan pada pengambil kebijakan namun tetap dalam ke­rang­ka solidaritas dan kepen­tingan rakyat.

Baca Juga : PKKM Sumbar 2020, Sembilan Kepala Madrasah Agam Masuk 10 Besar

“Kendati sudah terpilih sebagai ketua lembaga, se­but saja BEM, Gubernur mahasiswa maupun Menwa, jangan sampai lupa kuliah, kesibukan menjadi pim­pinan suatu lembaga jangan dijadikan alasan untuk me­lalaikan kuliah. Ingat, orang tua membiayai kuliah untuk bisa menyelesaikan studi tepat waktu,” terang Syahro Ali Akbar.

Konsep belajar diper­gurun tinggi bukan lagi ber­o­rientasi menjadi pegawai negeri karena jumlah lulu­san perguruan tinggi tidak seimbang dengan kuota pe­ne­rimaan pegawai negeri sipil tiap tahun. Oleh kare­nanya lulusan perguruan tinggi hendaklah bisa man­diri dengan membuka lapa­ngan usaha baru.

Baca Juga : DLH Kabupaten Pessel: Kepekaan Siswa Secara Dini Terhadap Ancaman Lingkungan Perlu Dilakukan

Jika disimak laporan media massa, baik cetak maupun elektronik, banyak lulusan perguruan tinggi membuka lapangan usaha baru, ilmu yang diperoleh diperguruan tinggi tidak membeku ibarat es, melain­kan makin mencair dan bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. Untuk itu, ma­hasiswa Faperta UMMY hendaklah bisa membuka usaha yang memiliki daya saing setelah tamat kuliah nantinya. (h/alf)

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]