Ide Sekadar untuk Tuan Scorsese


Sabtu, 14 Mei 2016 - 01:41:46 WIB
Ide Sekadar untuk Tuan Scorsese

SEBELUM riwayat ini benar-benar dimulai, kami per­nah saling berdekatan da­lam jarak yang boleh di­kata nyaris tak berjarak. Begitu dekat begitu rapat hingga wangi kibasan rambutnya yang sekelebat melintas di ujung hidungku, masih saja selalu terkenang-kenang. Tapi kukira wangi itu bukan hanya datang dari ram­but­nya. Laki-laki sepertinya pastilah pengoleksi bangsa-bangsa wewangian yang memang sengaja dirancang untuk tersimpan lama da­lam kenangan.

Aku tak tahu namanya. Kami sempat bersama-sama beberapa malam, tapi aku memang tidak tahu nama­nya. Seperti dalam sandi­wara panggung paling ko­nyol, aku memanggilnya Bung dan dia memanggilku Nona.

Baca Juga : Beragam Tradisi Unik Masyarakat Adat Indonesia di Bulan Rajab

“Aku bukan Nona,” ka­taku waktu itu.

“Maaf telah salah me­ngira, Nyonya.”

Baca Juga : Ini Daftar Hewan Langka yang Perlu Kamu Lihat Sebelum Punah

“Sesungguhnya tidak juga.”

Ah, ya, ya. Cerai atau mati?”

Baca Juga : Berminat untuk Menjadi Penyelam? Ini Tipsnya untuk Pemula

“Satu cerai satu mati.”

Wah! Jadi bagaimana? Setengah Nyonya setengah Nona, pernah jadi Nyonya tapi sekarang Nona yang bukan lagi seutuhnya Nona. Repot sekali.”

Baca Juga : Pembelajaran Ideal Anak saat Pandemi

“Sudahlah, Nona saja. Kedengarannya juga lebih nyaman di telinga.”

Percakapan ini terjadi pada pertemuan kedua. Di satu bar kecil yang riuh oleh suara-suara buruk dari me­sin musik murahan. Aku hendak ke toilet dan dia baru keluar dari sana. Di bar ini, satu toilet bercampur perempuan laki-laki. Kami berpapasan di lorongnya yang sempit dan meski da­lam ketemaraman aku me­ngenalinya lewat wangi yang hampir mencekam tadi. Tepat pada posisi ber­hada­pan tatkala saling memi­ringkan badan, untuk barangkali empat atau lima detik, kukira kami saling bersitatap. Aku tersenyum padanya. Tanpa sadar. Mung­­kin dia juga. Aku tak tahu. Pastinya, saat aku kembali ke meja bar, dia mendatangiku dan mena­warkan sebotol bir.

“Kau bisa memesan Mar­­tini atau Margarita. Ta­pi kusarankan bir saja, No­na. Kuberitahu padamu. Martini di tempat ini adalah Martini paling menye­dih­kan di dunia. Aku sering mendapati cocktail buruk. Tapi belum pernah ada yang campurannya sengawur ini,” katanya diikuti tawa berderai.

Dia begitu suka tertawa dan berbicara, ternyata. Kami baru bertemu dan bahkan belum saling mem­perkenalkan nama, namun hanya dalam tempo kurang dari satu jam, aku sudah tahu ba­nyak tentang dirinya. Dia polisi. Detektif berpangkat ser­san. Spesialis tugas luar.

“Aku jarang ke kantor dan tidak per­nah mengikuti upa­cara apalagi mengisi absen. Aku hanya me­nge­nakan seragam saat sedang libur,” ucapnya.

Ini kali tanpa tawa. Tapi entah mengapa aku tetap tertawa, dan kian kencang pula saat ditegaskannya bahwa ia tidak sedang ber­canda.

Tepat sebulan se­belum pertemuan itu usianya 34 dan belum menikah dan sedang mendekati putri pamannya yang disebutnya seaduhai Brigette Lin. Upaya yang menurut dia sungguh ruwet lantaran dua perkara: (1) Perempuan itu sudah punya pacar dan su­dah beberapa kali me­nun­jukkan sinyal-sinyal penola­kan terhadap cintanya; dan (2) orang­tuanya, sungguh celaka, men­dukung sikap tersebut.

“Aku menelepon ke ru­mahnya saban hari. Kadang dua sampai tiga kali sehari. Kami tak pernah bicara. Ada saja alasan paman dan bibiku untuk tidak me­nyam­bungkan teleponku padanya. Dia sedang me­masak. Dia sedang pergi bersama-teman temannya. Dia sedang mandi. Dia sudah tidur. Dia sedang tidak ingin bicara karena sakit gigi. Aku tahu mereka sengaja melakukannya. Aku tak peduli. Aku akan terus menelepon,” katanya.

Aku ingin tak peduli, tapi sungguh teramat sial, akhirnya jadi terbawa-bawa untuk ikut peduli. Tentu saja bukan atas nasib cintanya yang sontoloyo. Melainkan nasibku. Nasib yang boleh jadi tak akan datang menghampiri kalau saja aku tak melayani segala ocehannya dan pergi dari bar sialan itu sedikit lebih cepat.

Lepas tengah malam, saat kami berjalan di trotoar yang masih sesak oleh sengkarut kehidupan, tanpa sengaja aku melihat seorang India yang telah menipuku mentah-mentah. Bajingan ini, beserta enam re­kan­nya yang ke­li­ha­tan lugu dan du­ngu, mem­bawa lari barang yang hen­dak kuse­lun­dup­kan ke luar ne­geri. Padahal rencana sudah ma­tang benar. Identitas baru, kamuflase-kamuflase, juga tentunya upah yang telah kubayarkan separuhnya. Di bandara, saat aku hen­dak menuntaskan kong­kali­kong dengan petugas imigrasi dan bea cukai, mereka meng­hi­lang. Selu­ruh kon­takku, termasuk orang yang mere­komen­dasikan ketujuh India ini, mengaku tak tahu-menahu. Kukira ini mustahil. Anjing! Pasti mereka telah be­kerjasama.

Segera kukejar India itu. Dia melihatku dan segera kabur, tapi aku berhasil menyusulnya. Dia memang tidak terlalu cepat. Perutnya yang buncit membuat langkah kakinya terseok-seok. Namun, segera pula kusadari bahwa aku telah terjebak di salah satu daerah paling rawan di Hongkong. Kawasan tempat orang-ora­ng India perantauan ber­kuasa. Belasan orang ber­diri mengadang. Beberapa di antaranya memegang pe­mukul bisbol.

Tentu saja, kemudian, ganti aku yang mengambil langkah seribu. Sebenarnya, aku menyimpan sepucuk Colt kaliber 22 di dalam tas. Tapi kupikir akan sangat riskan jika ku­gu­nakan di tempat seperti ini.

Langkah sembarang membuatku tersudut ke wilayah yang benar-benar asing. Aku terjebak! Namun tepat pada momentum paling krusial sebelum aku betul-betul tidak bisa lagi kema­na-mana, nyaris se­konyong-konyong dia mun­cul dan menarik tanganku dan me­nyeretku ke balik tembok satu kedai yang telah tutup. Aku nyaris ber­teriak jika saja ia tak cepat membekap mulutku. Ini aku, bisiknya, sembari me­letakkan telun­juk di bibir­nya yang bagus.

 “Sebenarnya aku bisa saja menangkapmu, Nona,” katanya setelah para pe­ngejar berlalu, kurang lebih setengah jam berselang.

“Lalu kenapa tidak?”

“Kukira kita bisa ber­sepakat.”

Bersepakat? Yeah...

Kami kemudian me­nyewa kamar hotel. Meme­san salad dan bistik, juga bir dingin dan CocaCola, lalu tidur. Bukan tidur bersama. Aku tidur di ranjang yang satu dan dia duduk di ran­jang lain, menonton televisi. Aku tak tahu apakah pada akhirnya dia ikut tidur atau tidak. Sebab saat aku terjaga kurang lebih empat jam kemudian, dia sudah tidak ada. Dia meninggalkan seca­rik pesan. Janji perjumpaan berikut: tanggal, jam, dan tempat, berikut nomor pa­ger.

Pembicaraan me­nyang­kut ke­sepakatan baru kami bahas se­rius pada per­te­muan ke­em­pat. Per­temuan ke­tiga, kami hanya keluar makan bakmi dan dia men­dadak pergi sete­lah men­dapat panggilan lewat pager­nya. Aku ingat bagai­mana dia sangat ber­sema­ngat ka­re­na berharap pang­gilan tersebut datang dari A Mei, perem­puan yang me­nu­rut­nya mirip Briggette Lin itu.

“Kau tinggal menun­juk­kan jalan. Setelah itu biarkan kami yang sele­saikan,” ka­tanya pada perte­muan ke­empat, sepekan berselang. Di hotel yang sama, namun kamar berbe­da.

“Tidak,” jawabku.

“Tidak?”

“Aku ingin menye­lesai­kannya sendiri. Dan sete­lahnya, biarkan aku pergi.”

“Kau tahu, permin­taan­mu menyulitkan aku, No­na.”

“Terima atau tidak, ter­serah padamu. Toh sejak awal kau tahu aku tak peduli jika harus mendekam dalam penjara. Paling tidak di sana, aku bisa sejenak menarik napas lega.”

“Seandainya kau dihukum mati?”

“Itu bahkan jauh lebih baik. Tapi kau juga tahu, Bung, aku tidak akan mem­buat kesepakatan bodoh. Ini bisnis. Dan kukira, ta­wa­ranku cukup adil, bagiku dan bagi ka­lian.”

Dia menyerah. “Kau ya­kin akan ber­hasil?” tanya­nya.

“Sembilan puluh dela­pan persen.”

“Dua persen sisa­nya?”

“Tergantung ke­sia­pan kalian dan mi­natnya padaku.”

“Minat?”

“Persis.”

Aku mengenal laki-laki bajingan ini kurang lebih sepuluh tahun lalu. Dia yang membuat aku jadi se­perti sekarang: perempuan bermantel hujan, dengan kacamata dan wig blonde. Identitas tolol yang be­rang­kat dari fantasi seks­nya yang liar.

Pascakegagalan penye­lundupan, aku menemuinya dan dia memberiku waktu 3x24 jam untuk men­dapat­kan kembali barang-barang miliknya. Tugas yang tak kunjung kukerjakan karena memang tidak ingin ku­kerjakan. Aku sudah lelah. Lelah jadi budak seks. Lelah jadi budak narkotika. Apa­kah dia akan membunuh­ku? Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Bartender pe­rempuan yang bekerja di bar miliknya, bilang betapa dia justru makin tergila-gila padaku. Makin doyan ber­cinta dan tiap kali melakukannya aku harus berdandan seperti kamu, katanya.

Maka selanjutnya mu­dah bagiku. Kukontak dia. Kukatakan aku belum ber­hasil menemukan barang­nya. Tapi kujanjikan perte­muan. Percintaan diiringi desau nada-nada reggae. Dan persis dugaanku, dia menyambut antusias.

SAAT riwayat ini akan benar-benar berakhir pada sore berhujan itu, sesung­guhnya kami tetap tak ter­lalu berjarak. Setidaknya, dari tempatku berdiri, ma­sih bisa kuhirup wangi ram­but dan tubuhnya.

Dia tak mengenalku. Ti­dak tanpa wig dan kacamata yang kutinggalkan di sisi mayat jahanam itu, yang kutembak dua kali di ke­pala. Itulah kali terakhir aku melihat dia. Konon ku­dengar, beberapa hari sete­lah mendapat peng­har­gaan atas keberhasilan menun­taskan kasus, dia datang ke kantor, mengenakan sera­gam lengkap, mengikuti upacara dan mengisi absen, lantas mengajukan pengun­duran diri.***

 

Cerpen: T AGUS KHAIDIR

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Ahad, 21 Februari 2021 - 13:33:23 WIB

    Beragam Tradisi Unik Masyarakat Adat Indonesia di Bulan Rajab

    Beragam Tradisi Unik Masyarakat Adat Indonesia di Bulan Rajab Masyarakat adat di Indonesia memiliki tradisi unik dalam menyambut momen-momen tertentu, salah satunya saat memasuki bulan Rajab..
  • Ahad, 14 Februari 2021 - 16:34:31 WIB

    Ini Daftar Hewan Langka yang Perlu Kamu Lihat Sebelum Punah

    Ini Daftar Hewan Langka yang Perlu Kamu Lihat Sebelum Punah Saat ini ada berbagai lembaga di seluruh dunia yang sedang mengupayakan penyelamatan terhadap hewan-hewan langka yang terancam punah. Meski begitu, daftar hewan langka mungkin tak akan habis, karena jumlahnya terus bertambah..
  • Ahad, 07 Februari 2021 - 19:13:51 WIB

    Berminat untuk Menjadi Penyelam? Ini Tipsnya untuk Pemula

    Berminat untuk Menjadi Penyelam? Ini Tipsnya untuk Pemula Menikmati pemandangan bawah laut memiliki kenikmatan dan keasyikan tersendiri. Beraneka ragam kehidupan berseliweran dalam perairan tersebut begitu memikat untuk ditatap dan disingkap kehidupan bawah laut tersebut yang sampai.
  • Senin, 01 Februari 2021 - 22:36:28 WIB

    Pembelajaran Ideal Anak saat Pandemi

    Pembelajaran Ideal Anak saat Pandemi Pandemi COVID-19 membawa dampak besar pada dunia pendidikan di Indonesia. Sebagian besar sekolah memutuskan untuk melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar online dari rumah..
  • Sabtu, 30 Januari 2021 - 11:17:10 WIB

    Nobody Wants To Be Stupid

    Nobody Wants To Be Stupid Seorang guru menyampaikan dalam rapat. “Kelas saya adalah kelas istimewa”. Mencoba mengangkat posisi , dan semua orang sudah mengira kata istimewa adalah konotasinya positif. Yang terbayang adalah anak-anaknya kreatif, ra.
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]