PT. BPR Labuah Gunung

Berupaya Mengembangkan Ekonomi Kerakyatan


Sabtu, 14 Mei 2016 - 01:43:32 WIB
Berupaya Mengembangkan Ekonomi Kerakyatan GEDUNG PT.BPR Labuh Gunung cukup megah.

Masyarakat nagari, utamanya kalangan pengusaha mikro, kecil, dan rumah tangga masih mendambakan keberadaan PT. Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Karena banyak masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah yang menjadi nasabah PT. BPR, seperti pengusaha, pedagang, peternak ikan, petani, penjual bahan kebutuhan pokok, dan jualan di kios-kios dan pasar tradisional.

“Salah satu Bank Per­kreditan Rakyat yang dimi­nati untuk menabung dan meminjam uang untuk tam­bahan modal usaha adalah PT. BPR Labuah Gunung di Simpang Empat Labuh Gu­nung, Kecamatan Lareh Sago Halaban,” ungkap nasabah PT. BPR La­buh Gunung, Zul­fahmi Dt. Ban­da­ro dalam per­ca­kapan de­ngan Haluan di na­­­gari s­e­tem­pat be­be­ra­pa hari yang lalu.

Baca Juga : Beragam Tradisi Unik Masyarakat Adat Indonesia di Bulan Rajab

Ia me­nu­­­turkan, per­tum­buhan PT. BPR nam­­pak­nya masih ba­gus walau pe­ro­le­han laba bank itu pada ta­hun buku 2015 sedikit me­nurun akibat beberapa hal. Tapi yang jelas segala akti­vitas perbankkan yang di­lakukan PT. BPR tersebut masih sesuai dengan hara­pan na­sa­bah. Urusan me­min­jam uang ber­lang­sung cepat jika persayaratan yang ditetapkan dipenuhi na­sabah.

Begitu juga dengan na­sabah yang menabun. Salah satu produk yaitu, tabungan bajapuik dapat me­ringan­kan beban warga karena tabungan itu sudah dijemput petugas bank. Selain itu, ada tabungan pelajar, tabu­ngan anak nagari. Bahkan tak sedikit nasabah mem­buka kredit modal kerja maupun investasi, bagi pela­ku usaha agar usaha yang dikelola mereka berkem­bang, ujarnya.

Baca Juga : Ini Daftar Hewan Langka yang Perlu Kamu Lihat Sebelum Punah

 Dirut PT.BPR Labuh Gunung, Abdul Aziz Dt. Gindo Malano berharap, pemerintah hendaknya mam­­­pu meningkatkan daya beli masyarakat dengan mem­­­perbaiki harga bebe­rapa komoditi ekspor kare­na nasabah yang bekerja sebagai pedagang keliling, penjual bahan kebutuhan pokok di pasar pasar tra­disional, peternak ayam, pembudidaya ikan, penjual barang kebutuhan pokok langsung ke pemukiman penduduk yang mengelola kebun komodit ekspor, se­perti kopi, gambir, karet dan sawit, mengalami penu­runan pendapatan akibat daya beli masyarakat yang rendah akhir-akhir ini. Me­nu­runnya daya beli mas­yarakat tersebut disebabkan oleh harga komoditas eks­por itu jatuh harga. Hal itu berimbas terhadap perkem­bangan PT. BPR. Oleh kare­na itu, Abdul Aziz meminta pemerintah untuk mem­perkuat ekonomi masya­rakat, termasuk pendapatan di sektor pertanian dan perkebunan, serta men­sta­bilkan harga produk rakyat itu termasuk harga karet, gambir dan sawit.

Jika harga harga komo­ditas ekspor itu meningkat, daya beli masyarakat akan tinggi. Dampaknya, akan semakin banyak masyarakat yang menabung ke bank. Pemerintah bisa saja mem­beli karet rakyat dan mem­produksi ban asli dari karet. Kesimpulannya, tergantung cara pemerintah untuk mem­bangkitkan ekonomi rakyat, sehingga daya beli­nya juga akan meningkat,” ujar mantan Ketua PGRI Limapuluh Kota itu.

Baca Juga : Berminat untuk Menjadi Penyelam? Ini Tipsnya untuk Pemula

Artinya, lanjutnya, harus ada pemikiran pemerintah untuk meningkatkan harga komoditas ekspor tersebut. “Jika perlu, lakukan inter­vensi harga komoditas andalan rakyat itu, agar harganya mencapai standar, terlebih lagi harga karet. Beberapa tahun lalu harga karet sempat mencapai Rp 11 ribu per Kg. Sekarang harganya antara Rp4 ribu hingga Rp5 ribu per Kg. Rendahnya harga karet ada­lah salah satu penyebab rendahnya daya beli seba­gian masyarakat,” paparnya.

Abdul Aziz juga tak m­enam­pik bahwa persaingan bank yang semakin ketat itu ditengarai tidak sekelas antara bank umum peme­rintah dan PT. BPR. Ia mencontohkan, dalam olah­raga tinju saja pertandingan sekelas, kelas berat ber­tanding sesama kelas berat, kelas ringan lawannya juga kelas ringan. Tapi per­sain­gan PT. BPR dengan bank umum pemerintah ibarat petinju kelas berat melawan petinju klas ringan.

Baca Juga : Pembelajaran Ideal Anak saat Pandemi

Gencarnya penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan anjloknya daya beli sebagian masyarakat di Kabupaten Limapuluh Ko­ta, khususnya, dan Sumbar pada umumnya, berimbas signifikan terhadap perke­m­bangan laba PT. BPR. Buk­tinya, laba bersih yang di­raih PT. BPR Labuh Gu­nung pada 2014 mencapai Rp329.826.000, turun men­jadi Rp173.050.000 pada 2015.

Oleh karena itu, Abdul Aziz juga berharap agar penyaluran KUR tidak seka­dar mencapai target, tapi harus selektif dan KUR bisa dimanfaatkan bagi mas­yarakat yang benar benar berusaha, sehingga upaya pemerintah dalam me­nye­jahterakan masyarakat ter­capai.

“Kami tidak ingin terjadi pada kredit Bimas pada masa lalu yang banyak terja­di tunggakkan,” ujarnya.

Tentang PT. BPR Labuah Gunung

PT. BPR Labuh Gunung sebelumnya adalah  lem­baga keuangan Lumbung Pitih Nagari (LPN). Lem­baga itu didirikan pada 19 Mei 1976, berdasarkan SK Gubernur Sumbar No.144/GSB/1975, 14 Agustus 1975. Usaha yang dila­ku­kan oleh lembaga itu untuk meningkatkan pereko­no­mian rakyat adalah me­ngumpulkan tabungan/simpanan dan menyalurkan dalam bentuk pinjaman modal kerja.

Abdul Aziz, dari tahun ke tahun LPN Labuh Gu­nung berkembang, sehingga me­narik perhatian Peme­rintah Provinsi Sumbar untuk men­jadikan lembaga tersebut sebagai LPN per­contohan. Pada Oktober 1989, LPN Labuh Gunung memperluas daerah ker­janya, dari yang semula hanya di Nagari La­buh Gu­nung, diberikan ke­sem­­patan menggaet nasabah seluruh nagari yang ada di Kecamatan Lareh Sago Ha­laban.

Dengan perluasan wila­yah kerja, memperlihatkan kenaikan jumlah nasabah dan modal berasal dari ang­gota PLN itu. Berdasarkan Undang-Undang Perb­ank­kan No.7/1998 status LPN ditingkatkan menjadi BPR-LPN dan diresmikan Men­tri Keuangan RI, JB Su­marlin 30 Oktober 1990 dengan aset waktu itu Rp125 juta. Setelah berjalan 8 tahun, BPR-LPN menga­lami perkembangan dengan menghimpun dana maupun pemberian kredit,” ungkap Ketua LKAAM Limapuluh Kota itu.

Pada 1999, BPR-LPN Labuh Gunung mempe­roleh badan hukum PT, lengkapnya PT. BPR LPN Labuh Gunung. Setelah izin perubahan nama dari BI pada 2009, BPR-LPN beru­bah nama menjadi PT. Bank Perkreditan Rakyat Labuh Gunung, dan terbentuk visi dan misi PT. BPR Labuh Gunung. Visinya adalah “bank yang sehat untuk meningkatkan ekonomi rak­yat”. Sedangkan misinya adalah mengembangkan bank secara wajar sebagai bank yang andal untuk meng­gerakkan dan me­ning­katkan pertumbuhan eko­nomi rakyat, menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk tabungan dan depo­sito, kemudian menya­lur­kan kepada masyarakat da­lam bentuk kre­dit. Selan­jutnya, menciptakan lapa­ngan kerja dalam upaya menanggulangi pe­ngang­guran, menjalin hubungan yang harmonis sesama lem­baga, masyarakat dan peme­rintah, membantu pemerin­tah dan masyarakat dalam percepatan pembangunan.

Berdasarkan laporan ne­raca publikasi PT. BPR Labuh Gunung pada 31 Desembr 2015, jumlah aset BPR tersebut mencapai Rp21,3 miliar lebih, penda­patan Rp173 juta lebih, dan kredit yang dikucurkan ber­variasi sesuai dengan kebu­tuhan nasabah, mulai dari jutaan rupiah hingga ratusan juta rupiah. (h/zkf)

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Ahad, 21 Februari 2021 - 13:33:23 WIB

    Beragam Tradisi Unik Masyarakat Adat Indonesia di Bulan Rajab

    Beragam Tradisi Unik Masyarakat Adat Indonesia di Bulan Rajab Masyarakat adat di Indonesia memiliki tradisi unik dalam menyambut momen-momen tertentu, salah satunya saat memasuki bulan Rajab..
  • Ahad, 14 Februari 2021 - 16:34:31 WIB

    Ini Daftar Hewan Langka yang Perlu Kamu Lihat Sebelum Punah

    Ini Daftar Hewan Langka yang Perlu Kamu Lihat Sebelum Punah Saat ini ada berbagai lembaga di seluruh dunia yang sedang mengupayakan penyelamatan terhadap hewan-hewan langka yang terancam punah. Meski begitu, daftar hewan langka mungkin tak akan habis, karena jumlahnya terus bertambah..
  • Ahad, 07 Februari 2021 - 19:13:51 WIB

    Berminat untuk Menjadi Penyelam? Ini Tipsnya untuk Pemula

    Berminat untuk Menjadi Penyelam? Ini Tipsnya untuk Pemula Menikmati pemandangan bawah laut memiliki kenikmatan dan keasyikan tersendiri. Beraneka ragam kehidupan berseliweran dalam perairan tersebut begitu memikat untuk ditatap dan disingkap kehidupan bawah laut tersebut yang sampai.
  • Senin, 01 Februari 2021 - 22:36:28 WIB

    Pembelajaran Ideal Anak saat Pandemi

    Pembelajaran Ideal Anak saat Pandemi Pandemi COVID-19 membawa dampak besar pada dunia pendidikan di Indonesia. Sebagian besar sekolah memutuskan untuk melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar online dari rumah..
  • Sabtu, 30 Januari 2021 - 11:17:10 WIB

    Nobody Wants To Be Stupid

    Nobody Wants To Be Stupid Seorang guru menyampaikan dalam rapat. “Kelas saya adalah kelas istimewa”. Mencoba mengangkat posisi , dan semua orang sudah mengira kata istimewa adalah konotasinya positif. Yang terbayang adalah anak-anaknya kreatif, ra.
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]