Tujuh Caketum Tolak Pemilihan Terbuka

Munaslub Golkar Diwarnai Kericuhan


Senin, 16 Mei 2016 - 04:28:06 WIB
Munaslub Golkar Diwarnai Kericuhan Para calon ketua umum Partai Golkar dari kiri ke kanan, Mahyudin, Aziz Syamsuddin, Ade Komarudin, Airlangga Hartarto, Priyo Budi Santoso dan Syahrul Yasin Limpo bergandengan tangan seusai memberi keterangan pers di sela Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar 2016 di Nusa Dua, Bali, Minggu (15/5). (ANTARA)

JAKARTA, HALUAN — Dua organisasi ma­sya­rakat (ormas) Partai Golkar, diputuskan tidak memiliki hak suara dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) di Bali. Keputusan ini diambil setelah terjadinya dualisme kepengurusan ormas Golkar yang telah membuat suasana Munaslub menjadi memanas.

Pada kesepakatan se­belum­nya, hak suara dari Kosgoro dan Soksi yang memiliki dualisme ke­pe­ngu­ru­san ini diputuskan oleh Komite Adhoc. Hasil rapat Komite Adhoc yang dipimpin oleh Theo L. Sam­bu­aga memutuskan ke­pe­ngu­rusan yang memiliki hak suara adalah kepengurusan Kosgoro yang dipimpin oleh Agung Laksono. Sedangkan untuk Soksi, pemilik suara yang sah menjadi milik Ade Komaruddin.

Baca Juga : Terancam Tajir Nih! Tunjangan Pensiun PNS Bisa Tembus Rp 1 Miliar

Namun, keputusan Ko­mite Etik ini mendapat protes dari pihak yang tidak mendapat suara. Suasana di sidang Munaslub akhirnya memanas dan terjadi adu argumen dengan interupsi. Pimpinan Sidang, Nurdin Halid kemudian mengambil alih sidang dan menawarkan solusi. 

‘’Saya usul keduanya kita terima, tapi hanya punya satu suara, kaloau berbeda maka akan dibuat nol suara­nya,’’ tutur Nurdin dari meja pimpinan sidang, MInggu (15/4).

Baca Juga : Siapkan dari Sekarang, Ini Syarat Daftar CPNS 2021 yang Dibuka Sebentar Lagi

Sementara Rapat Pari­purna Munaslub Partai Gol­k­ar, Minggu (15/5) sekitar pukul 21.45 WITA, sempat diwarnai adu mulut. Dua oknum yang diduga pro­vo­kator beradu fisik sehingga memancing emosi para pe­serta lainnya. “Mereka ber­dua duduk,” teriak Nurdin Halid yang jadi Pimpinan Munaslub.

Puluhan pasukan penga­manan berbaju loreng kemu­dian masuk ke ruangan dan mengelilingi dan meng­gi­ring dua oknum tersebut ke luar dari arena Paripurna di BNDCC, Nusa Dua, Bali. “Provokator keluarkan!,” teriak peserta Munaslub lainnya.

Baca Juga : Menkes Tinjau Kegiatan Vaknsinasi 500 Pengurus MUI Pusat

Tolak Pemilihan Terbuka

Tujuh dari delapan bakal calon ketua umum Partai Golkar sepakat untuk meno­lak wacana pemilihan mela­lui voting terbuka. Me­ka­nisme pemilihan terbuka itu sempat muncul sebelum digelarnya musyawarah na­si­o­­nal luar biasa (Mu­nas­lub), Sabtu (14/5). Peno­la­kan itu diutarakan Ade Ko­ma­rudin, Airlangga, Priyo Budi S, Mahyudin, Aziz Syamsudin, Indra Bambang dan Syahrul Yasin Limpo.

Baca Juga : Komisi VIII DPR RI: Pemerintah Harus Prioritaskan Vaksinasi Calon Jemaah Haji

Ade mengatakan, pe­mi­lihan secara terbuka akan menimbulkan potensi in­ti­midasi terhadap pemilik suara. “Saya menolak keras upaya yang mengarah ke pemberlakuan pemilihan secara terbuka,” ujarnya di Bali, Minggu (15/5).

Menurut Ade, pe­mi­li­han ketua umum harus me­me­nuhi prinsip kejujuran, langsung, bebas dan rahasia. Ia menilai, pemilihan se­cara tertutup adalah me­ka­nisme pemilihan yang dia­tur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tang­ga Golkar.

Serupa, Priyo mema­par­kan, merujuk penga­laman­nya mengikuti pemilhan ketua umum Gol­kar, vo­ting­secara tertutup selama ini selalu menjadi meka­nisme yang digunakan par­tai berlambang beringin itu.

Kalaupun pemilihan akhirnya dilakukan dengan voting terbuka, Priyo ber­kata, pemilihan itu men­ya­lahi AD/ART dan peraturan yang dibentuk Steering Co­mmittee. “Itu menyalahi pakem demokrasi,” ujarnya.

Syahrul Yasin Limpo mengaku heran dengan wa­cana pemilihan secara ter­buka yang kembali mengu­at. Menurutnya, itu tidak sesuai dengan prinsip pe­nye­lenggaraan munaslub, yakni demokratis, re­kon­siliatif dan transparan. “Asas utama demokrasi adalah kebebasan. Itu tercermin dari pemilik suara yang terlepas dari intimidasi, tekanan dan bebas me­nen­tu­kan siapa yang ingin di­pilihnya,” kata Syahrul.

Setya Novanto tercatat sebagai satu-satunya bakal calon ketua umum Golkar yang tidak mendorong pe­milihan secara tertutup. Mantan Ketua DPR itu beralasan, ia akan men­g­hormati apapun keputusan peserta munaslub terkait metode pemilihan. (h/cnn)

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]