Gagal di Rantau

Gusnimar Sukses di Kampung Berbisnis Rakik


Senin, 16 Mei 2016 - 04:29:00 WIB
Gusnimar Sukses di Kampung Berbisnis Rakik GUSNIMAR memasak rakik kacang di rumahnya, Jl. SMP Negeri 21 Banda Buek, Kecamatan Lubuk Kilangan, belum lama ini. (RUSDI BAIS)

PADANG, HALUAN — Per­jalanan hidup tidak seorang pun yang tahu. Manusia be­ren­cana, Tuhan yang menen­tukan. Seperti dialami Gus­nimar (44). Anak ketiga dari 10 bersaudara, kelahiran Padang, 12 Agustus 1972 itu gagal di mengubah nasib di perantauan, namun sukses di kampung halamannya.

Pada 1995, ia dibawa suaminya merantau ke Pur­balingga, Jawa Tengah. Ha­nya dua tahun di sana, karena kondisi ekonomi tak kunjung membaik, ia dan suaminya pindah ke Biak, Papua. Di sana ia menyambung hidup dengan berjualan di kaki lima. Tak lama kemudian, bekerja dengan orang lain. Hanya lima tahun bertahan di sana, ia dan suaminya  kembali ke kampung di Padang. Menetap di rumah orangtuanya, Jl. SMP Negeri 21 Banda Buek, Kecamatan Lubuk Kilangan.

Baca Juga : Neraca Perdagangan Indonesia Januari 2021 Catatkan Surplus 1,96 Miliar Dolar AS

Untuk memenuhi kebu­tu­han harian, Gusnimar ber­sa­ma suami mencoba beter­nak puyuh dengan modal Rp2 juta. Usaha itu tidak membuahkan hasil. Ia men­jual perhiasan emasnya sebe­rat 17,5 gram untuk menam­bah modal. Hasilnya gagal, dan usaha itu diakhirinya.

Ia melelang kandang dan pe­ralatan ternak puyuh. Ha­sil lelang tersebut ia adikan uang muka kredit sepeda mo­tor bekas, yang kemudian di­gunakan untuk mengojek. Beberapa tahun kemudian, keadaan ekonomi makin tera­sa sulit. Maka, ia berinisiatif untuk memperoleh pen­da­patan tambahan, yakni mem­buat rakik kacang.

Baca Juga : Harga Kebutuhan Pokok di Padang Cenderung Stabil

Ia mengawali usaha itu dengan membuat 50 keping rakik kacang. Rakik itu ia titipkan di kedai-kedai ter­dekat, dengan harga Rp400 per keeping dan dijual pe­ngecer Rp500 per keping.   Penjualan perdana cukup ba­ik, setelah dihitung, hasil­nya tidak seberapa. Tetapi, cukup membantu. Karena itu, ia melanjutkan usahanya.  Sebu­lan kemudian ia juga mem­buat rakik maco seba­nyak 50 keping. Dari 50 ke­ping rakik kacang dan 50 rakik ma­co per minggu, terus me­ningkat, jum­lah kedai tempat me­nitipkan juga kian bertam­bah. Sehingga produksi rakik bua­tan Gus­nimar mencapai 400 keping per minggu. Pesa­nan juga ma­kin meningkat, te­rutama dija­dikan oleh-oleh ba­gi yang pergi ke luar pro­vin­si.

Selain membuat rakik, Gusnimar juga piawai mem­buat kue kering arai pinang. Awalnya, hanya menerima pesanan menjelang Lebaran. Karena banyak peminat, ia mencoba pula mengemasnya. Ternyata cukup meyakinkan. 

Baca Juga : Peluang untuk Tenaga Kerja, Dibuka Pendaftaran Kerja ke Jepang untuk Perawat

Setelah mendapat izin dari Dinas Kesehatan Pa­dang, Gusnimar menge­mas­nya de­ngan isi dua ons de­ngan me­rek “Diffa Family” lalu diti­tipkan di beberapa mini­market dan toko-toko kue.  Untuk meningkatkan mutu, ia membeli alat pe­ngering minyak seharga Rp4 juta. Separuhnya bantuan dari PT Semen Padang. “Kua­litas lebih baik, daya ta­han lebih lama dan renyah,” katanya berpromosi belum lama ini.

Kini produksi arai pinang saja mencapai 40 kg per 10 hari dengan penjualan Rp­40.000 per kg. Rakik kacang 250 keping per hari, diselingi dengan rakik maco dengan jumlah yang sama. Produksi sebulan berkisar 5.000-6.000 keping rakik dengan harga Rp800 per keping, arai pi­nang rata-rata 100 kg per bulan. “Alhamdulillah, pe­masaran juga cukup bagus,” katanya. (h/rb)

Baca Juga : Jadi Ujung Tombak Penyaluran BBM di Sumbar, Ini Modal Utama Elnusa Petrofin

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]