Mempromosikan UMKM


Selasa, 17 Mei 2016 - 03:51:24 WIB
Mempromosikan UMKM

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) merupakan produk ekonomi masyarakat kelas menengah kebawah. UMKM ini merupakan suatu usaha yang bersifat home industry dengan bercirikan modal yang tidak terlalu besar (kecil) dan tidak terlalu banyak menyerap tenaga kerja.

Selain itu, UMKM ini masih menggunakan cara produksi yang masih tra­disio­nal dengan hanya mengan­dalkan tenaga manusia dan mesin-mesin manual sebagai basis kegiatan produksinya.

Baca Juga : Ayo Berkolaborasi Ciptakan 100.000 Entrepreneurs Milenial Minang!

Berbicara UMKM, saya jadi teringat ketika menonton salah satu acara televisi kesu­kaan saya, yakni:  Ragam Indonesia dan Eksis Abis di Trans 7. Acara ini mena­yangkan  produk-produk hasil home industry yang kreatif bermodalkan bahan baku dari barang-barang yang ada di sekitar mereka yang di olah secara kreatif serta memiliki ciri khas tersendiri yang me­wa­kili kebudayaan tradisional daerah setempat seperti : kerajinan topeng dari batok kelapa, lampu tidur dari sa­rang burung tampuo yang sudah tidak dihuni, miniatur kapal layar dari pelepah ke­lapa, dan kerajinan miniatur tabuik pariaman dari kertas koran bekas dan masih ba­nyak yang lainnya.

Tentunya masih segar di ingatan publik, ketika debat calon presiden pada tahun 2014 yang lalu. Saya meng­garis bawahi pernyataan Ca­lon Presiden Jokowi ketika itu, yang intinya bahwa beliau sangat mendukung dan men­dorong pertumbuhan UM­KM sebagai penopang eko­nomi nasional yang berlan­daskan pada inovasi-inovasi produk kreatif sehingga mam­pu menyerap atau mem­buka lapangan kerja baru, minimal di lingkungan sekitar mereka.

Baca Juga : SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

Namun, kenyataanya hing­ga hari ini tampaknya peme­rintah Indonesia masih sete­ngah-setengah milirik UM­KM sebagai pondasi ekonomi nasional. Tentunya hal ini bisa saja kita lihat dari berbagai kebijakan yang telah di ke­luar­kan presiden jokowi dibi­dang ekonomi. Sebelas paket kebijakan ekonomi yang dike­luarkan pada umumnya untuk menjamin kemudahan ber­bisnis bagi para pengusaha pemilik modal besar. Akan tetapi, sebelas paket kebijakan ekonomi ini direspon lambat oleh para pengusaha lantaran tersendat dalam imple­men­tasi di tingkat daerah.

Selain itu, saya cukup terkejut mendengar per­nya­taan menteri Kete­naga­ker­jaan, Hanif Dhakiri yang me­nya­takan bahwa tidak sang­gup bila harus sendirian men­cetak lapangan kerja hingga 2019. Hal ini disebabkan lantaran keterbatasan angga­ran (Rp.3,8 triliun/tahun). Kemenaker juga menyatakan hanya akan bertindak sebagai koordinator dalam program pemerintah itu dengan me­ngoordinasikan semua pihak untuk mencetak lapangan kerja (Media Indonesia, Sela­sa, 19 April 2016)

Baca Juga : Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

Tentunya pernyataan dari Menteri Tenaga Kerja tersebut merupakan antithesis dari janji Presiden Jokowi ketika kampanye dulu. Padahal, Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam dan kebudayaan (multikul­tural). Mengapa pemerintah tidak mencoba serius ber-inovasi dengan mengem­bang­kan UMKM dan memulai membangun pertumbuhan ekonomi nasional dari keka­yaan dan keberagaman da­erah-daerah dalam membuka lapangan kerja dan menyerap tenaga kerja?.

Memberdayakan Masyarakat

Baca Juga : Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

Merunut pada Pasal 28C UUD 1945, dimana ma­sya­­­rakat ber­­hak men­­­da­pat man­­fa­at  pen­­di­di­­­kan, IP­TEK,  se­­­ni dan bu­daya de­mi me­ning­­­kat­kan kua­­litas dan kese­jah­­teraan hi­dup­nya serta berlan­daskan  pada Pasal 33 ayat (4) UUD 1945, yang merupakan dasar politik eko­nomi nasio­nal. Pere­kono­mian nasional itu di seleng­garakan  dengan prinsip ke­ber­samaan, ke­adilan, berke­lanjutan dan kemandirian serta berwa­wasan lingkungan dengan rasa persatuan dan ke­satuan dalam bingkai NK­RI.

Amanat konstitusi dalam Pasal 28C dan Pasal 33 ayat (4) UUD 1945 secara gam­blang meng-isyaratkan bahwa pemerintah harus mampu memberdayakan masyarakat sebagai subjek dari pem­ba­ngu­nan ekonomi nasional. Su­dah menjadi rahasia umum, bahwa pelaku usaha UMKM ini sangat minim akan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam skema bis­nis, pelaku UMKM ini sering diterkam oleh industri ber­skala besar lantaran minim­nya penge­tahuan tentang bis­nis.

Ditambah lagi, keter­ba­tasan skill dan kreativitas yang rendah dari masyarakat mem­buat UMKM dilirik sebagai mata pencarian alternatif di samping pekerjaan sebagai PNS yang masih menjadi primadona di kalangan ma­sya­rakat kita.

Perlu diketahui, peme­rin­tah melalui Kementerian Pen­dayaan aparatur negara (Ke­menpan –RB) telah me­nge­­luarkan moratorium ter­ka­it peneriman PNS pada ta­hun 2016 hanya pada bagian ter­tentu saja seperti guru dan te­naga kesehatan dalam jum­lah yang kecil dan terbatas yang hanya pada intansi dan da­erah tertentu saja. Hal ini je­las berpotensi menambah jum­lah pengangguran di Indo­ne­­sia.

Di tengah kondisi eko­no­mi yang kian pelik, tentunya kita tidak ingin menambah jumlah pengangguran dan meningkatkan angka kemis­kinan. Untuk mencegah hal tersebut, kita perlu men­dorong pertumbuhan UM­KM dikalangan masyarakat. Pemerintah harus mampu membangkitkan gairah dan geliat berwirausaha didalam diri masyarakat. Caranya, ten­tu peme­rin­tah harus gen­car mela­ku­kan sosia­li­sasi, pen­di­di­kan, dan pe­la­tihan ke­wi­ra­usa­ha­an dengan kon­sep eko­no­mi kreatif berbasis UMKM berdasarkan potensi yang ter­dapat pada suatu daerah, ba­ik sumber daya manusia mau­pun sumber daya alam­nya.

Esensi dari sosialisasi, pendidikan,dan pelatihan UMKM ini tak perlu teori ekonomi yang ribet, yang paling penting mampu me-revolusi mental para pelaku usaha UMKM yang pada umum­­nya minim kom­pe­tensi, inovasi dan tidak berani mengambil resiko usaha. Out­­put yang hendak dicapai adalah bagaimana mereka dapat memahami mekanisme pasar, cara pemasaran, pola prilaku konsumen dan faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan konsumen yang beru­bah-ubah tiap detiknya.

Promosi Lewat Aplikasi

Semua kegiatan di bidang eko­nomi merupakan produk glo­bal. Isu yang dikaitkan ke­mudian adalah pasar bebas atau pasar global. Dalam men­datangkan permintaan dan penawaran dari pasar luar ne­gri, tentunya para pelaku UM­KM harus gencar mem­pro­mosikan dan mem­publi­ka­si­kan produk UMKM-nya agar dikenal masyarakat luas. Ken­dala yang selama ini diha­da­pi para pelaku UMKM da­lam memperluas wilayah pe­masa­ran produknya adalah ma­salah jarak yang jauh, cua­ca, beban biaya operasional, mi­nimnya akses penjualan dan rumitnya melayani pe­lang­gan.

Namun, sekarang masalah tersebut sudah bisa diatasi seiring dengan kemajuan tek­no­logi dengan memanfaatkan penggunaan website, blog, media sosial dan aplikasi pada gadget. Pemerintah me­la­lui Menkominfo, telah me­lun­curkan toko on­line yang khu­sus menjual pro­duk UM­KM. Toko online www.­ukm­market.co.id ter­sebut digagas oleh Kadin Indonesia bidang UKM dan koperasi. Aplikasi ini hadir untuk mendorong pro­duk­tivitas industri UM­KM da­lam negeri untuk men­ja­di lebih berdaya, tangguh, ino­vatif dan kreatif. Aplikasi ini menyediakan layanan on­li­ne sebagai media perantara an­tara penjual dengan pem­beli.

Para pelaku UMKM yang ingin bergabung dengan apli­kasi ini cukup mudah. Para pelaku hanya perlu mela­kukan registrasi, daftarkan produk, terima pesanan, ke­mas dan kirim lalu terima uang dan feedback. Kelebihan dari aplikasi ini yakni, akses transaksi 24 jam antara pen­jual dan pembeli, adanya program berbagi informasi dan pelatihan langsung kepa­da komunitas UMKM di seluruh Indonesia dan pro­gram kreatif yang siap mem­bantu dan menciptkan konten produk/merk yang menge­sankan untuk mem­pro­mo­sikan bisnis dan penjualan pelaku usaha UMKM.

Selain itu, aplikasi ini juga me­lakukan promo lintas pu­lau dan negara melalui ber­ba­gai media informasi untuk me­masarkan produk UMKM se­cara luas, baik didalam ne­gri maupun ke luar negeri. La­lu, aplikasi ini juga menye­dia­kan menu konsultasi bis­nis untuk menjawab perta­nyaan seputar layanan dan bisnis yang bisa dilakukan dengan email, chatting, tele­pon hing­ga pertemuan lang­sung.

Melalui aplikasi ini, para pelaku UMKM dapat menjual produknya dalam beberapa pilihan kategori produk, yak­ni: mo­dern, ga­leri nu­san­tara, dan kre­­a­tif. Apli­kasi ini juga men­ja­lin kerja sama dengan beberapa bank seperti BCA, BRI, Mandiri, dan  CIMB NIAGA demi men­jamin ke­mu­dahan berbisnis antara penjual dan pembeli dalam melakukan transaksi jual beli.

Sudah saatnya para pelaku UMKM beralih dalam mema­sar­kan produknya dari yang awal­nya secara konvensional ke cara non konvensional de­ngan memanfaat teknologi apli­kasi. Sebab, di zaman di­gital ini, mereka yang me­ngua­sai teknologi akan unggul di­ban­dingkan mereka yang ma­sih berkutat dengan cara yang biasa saja. Tentunya kita ber­harap agar produk UM­KM yang inovatif, kreatif, dan me­miliki ciri khas dapat di kenal luas oleh seluruh lapi­san masyarakat yang ada di nusan­tara hingga masyarakat dunia.

Niscaya, produk-produk UMKM yang mampu me­nembus pasar luar negeri tak hanya bermanfaat bagi pelaku UMKM saja, tetapi juga dapat membuka lapangan kerja ba­ru, dan membantu proses pro­mosi pariwisata daerah setempat. Sudah saatnya UM­KM perlu didorong sebagai ujung tombak dalam me­ningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia dan menjadi senjata utama bagi Indonesia untuk keluar dari negara berpendapatan rendah. (*)

 

AGUNG HERMANSYAH
(Analis Hukum Teknologi dan Informasi FH Unand, Padang)

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 09 Maret 2021 - 15:54:07 WIB

    Ayo Berkolaborasi Ciptakan 100.000 Entrepreneurs Milenial Minang!

    Ayo Berkolaborasi Ciptakan 100.000 Entrepreneurs Milenial Minang! Ada lebih kurang 593.100 UMKM di Ranah Minang. Dari jumlah tersebut, 89,59% merupakan usaha mikro, 9,01% kecil, 1,33 % menengah. Dari data ini, bisa kita lihat bahwa UMKM di Sumatera Barat mayoritas adalah usaha mikro. Selanj.
  • Selasa, 09 Februari 2021 - 14:07:37 WIB

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam siswa Perlu Ditinjau Ulang

    SKB 3 Menteri Terkait Pemakaian Seragam  siswa Perlu Ditinjau Ulang Ternyata persoalan pemakaian jilbab bagi siswi Non Muslim di SMKN 2 Padang,  belum berakhir. Pemberitaannya hiruk pikuk dan viral  diperbincangkan secara nasional dalam dunia pendidikan. Sampai Mendikbud terpancing angkat b.
  • Kamis, 04 Februari 2021 - 14:45:37 WIB

    Jangan Ikuti! Iblis Penebar Hoaks Pertama

    Jangan Ikuti!  Iblis Penebar Hoaks Pertama Kita barangkali akrab dengan cerita Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah. Melalui anugerah ilmu, Allah memuliakan Nabi Adam di atas malaikat dan iblis..
  • Senin, 01 Februari 2021 - 16:58:52 WIB

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam

    Surau Inyiak Djambek, Warisan Gerakan Pembaruan Pemikiran Islam Syekh Muhammad Djamil Djambek adalah ulama pelopor pembaruan Islam dari Sumatra Barat awal abad ke-20, dilahirkan pada tahun 1860 di Bukittinggi, terkenal sebagai ahli ilmu falak terkemuka..
  • Senin, 04 Januari 2021 - 09:37:20 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq

    Prabowo dan Habib Rizieq Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]