Giliran Padang Digoyang Kasus Amoral

Oknum Guru Diduga Cabuli 15 Siswi


Jumat, 20 Mei 2016 - 05:14:06 WIB
Oknum Guru Diduga Cabuli 15 Siswi Ilustrasi.

Orang tua, waspadalah dengan kasus asusila. Belakangan, media dihebohkan dengan laporan tentang kasus yang menjadikan perempuan sebagai sasarannya. Kini, hal itu ada di sekitar kita di Padang ini

PADANG, HALUAN — Kasus amo­ral yang menghebohkan jagat nu­santara, mulai dengan kasus Yy di Bengkulu yang diperkosa banyak pria, lalu kasus Eno di Kosambi, Tangerang, Banten, ternyata juga terjadi di Sumbar. Ada dua peristiwa serupa yang muncul ke publik sekaligus, sepanjang pekan ini di Padang.

Tragisnya, salah satu aksi cabul itu diduga kuat dilakukan seorang oknum guru SDN di Pauh. Korban­nya bahkan sampai 15 orang siswi belia. Pada kasus lain, justru terjadi kasus perkosaan terhadap seorang gadis berkebutuhan khusus.

Kasus yang melibatkan oknum guru olahraga itu kini ditangani penyidik Polsek Pauh. Pria ber­inisial N itu sudah diamankan di Polsek Pauh, Kamis (19/5). Penang­kapan ini dilakukan setelah bebera­pa orang tua korban, melaporkan ke polisi di Polsek Pauh, Senin (16/5).

Informasi yang berhasil dihim­pun Haluan, kejadian ini baru diketahui pada tanggal 9 Mei 2016 lalu pukul 08.00 WIB di lingkungan sekolah.  Menurut Kapolsekta Pauh, Kompol Wir­man aksi ini sudah dilakukan pelaku se­jak dua tahun yang lalu. Sayangnya, tak ada korban yang melapor ke polisi.

“Informasi sementara yang kami dapat, ada 15 korban yang sudah mendapat perlakuan tin­dak asusila dari pelaku. Namun, dari dugaan korban sebanyak itu, baru lima laporan polisi yang kami dapat dari orang tua peserta didik tersebut,”katanya.

Rata-rata, korban masih ber­umur sembilan tahun dan ada yang masih berumur 12 tahun. Rata-rata, siswi yang jadi korban itu masih berada di bangku kelas IV SD.

“Modus yang dilakukan pela­ku adalah memberikan gerakan olahraga kepada siswa yang tidak pantas untuk dilakukan. Hal ini sudah direncanakan oleh pelaku karena adanya niat untuk me­lakukan perbuatan yang tidak senonoh itu,” ungkap Wirman.

Saat ini, pelaku sudah dinya­takan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian, dengan diberi­kan sanksi sesuai dengan pasal 76 E jo 82 Undang-Undang Repu­blik Indonesia Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 ta­hun 2002 tentang pelindungan anak.

Salah satu orang tua korban berinisial R mengatakan, korban pencabulan tersebut diduga dipe­gang pelaku pada beberapa ba­gian tubuh anaknya. “Dia (pelaku N, red) memegang bagian tubuh para anak-anak yang menjadi korban, dan juga menciumnya. Ini yang tidak bisa kami terima sebagai orang tua, karena bukan seperti itu karakter seorang pen­didik. Seharusnya pendidik mem­­berikan contoh yang benar terhadap para peserta didiknya sendiri,” tuturnya.

Menanggapi ini, Kepala UPTD Dinas Pendidikan Kota Padang Kecamatan Pauh, Sya­frizon mengatakan bahwa pihak­nya telah mengetahui kondisi lapangan. Namun, ia enggan mengomentari hal ini panjang lebar .

Terpisah, Kepala Dinas Pen­didikan (Kadisdik) Kota Padang, Habibul Fuadi yang diwakili oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Padang, Syofrizal, Kepala Bidang Pendidikan Menengah (Kabid Dikmen) Fauzil Mah­fudz, Kepala Seksi (Kasi) Kuri­ku­lum, Ramson, dan Kepala Seksi Pendidikan Dasar dan Kesiswaan, Ruzamzaini saat ditemui Haluan di kantor yang beralamat di Jalan Bagindo Aziz Chan tersebut mengatakan bahwa saat ini belum bisa mengeluarkan tindakan dan statement yang terlalu jauh terkait persoalan tersebut.

“Jika nantinya pelaku ter­bukti melakukan tersebut, kita tentu akan proses sesuai dengan aturan yang ada pada Aparatur Sipil Negara (ASN). Tindakan tegas akan diambil ketika pelaku benar-benar terbukti. Saat ini kami akan merapatkan hal terse­but dan akan diputuskan hari ini, Jumat (20/5),” ucap Syofrizal.

Ia pun mengakui bahwa bebe­rapa hari yang lalu pihaknya menerima surat pengaduan dari beberapa orang tua korban ter­kait ulah guru yang baru dipin­dah­kan dari Kota Sawahlunto tersebut.

“Kami tunggu saja proses hukum yang berjalan. Saat ini, kami belum turun ke lapangan. Baru sebatas info dari orang tua korban dan pihak UPTD Pauh,” katanya.

Belum usai cerita kasus pele­ce­han terhadap wanita di bawah umur, warga di Kota Padang kembali dikejutkan dengan kasus pemerkosaan terhadap gadis berkebutuhan khusus.

Korban diketahui berinisial AAR (25). Warga Kecamatan Padang Selatan ini diduga di­perkosa oleh kedua pria ber­inisial “R” dan P. Berdasarkan pengakuan dari pelaku yang didampingi oleh kakak iparnya, Leni menceritakan awalnya ia kenal dengan salah satu pria, “R” melalui media sosial facebook.

Tak lama, ia diajak ketemuan oleh R pada Selasa (17/5) lalu. Korban sendiri kemudian mene­rima ajakan korban untuk berte­mu di kawasan Seberang Padang. Setelah diajak bertemu, korban kemudian dibawa ke kediaman P yang berada di kawasan Sim­pang Haru.

“Sesampainya di sana, AAR diajak berfoto-foto dan korban pun diberi minuman air mineral oleh R dan P. Tidak beberapa lama korban mengalami pusing sebelum diperkosa oleh kedua orang ini. AAR awalnya takut untuk menceritakan hal tersebut kepada keluarganya, hanya bera­ni menceritakan kepada saya, karena kami sangat dekat. Dia bercerita bahwa korban sempat mendapatkan perlakuan kasar dari kedua pelaku. Hal ini terbuk­ti dengan dada korban yang membiru oleh pelaku,” ujar Leni.

Leni menambahkan bahwa pelaku R sempat mengirimkan pesan kepada korban melalui pesan di Blackberry Messenger (BBM) agar korban meminum air nanas dan tape untuk mence­gah korban hamil. “Tidak lama kemudian pelaku R menghapus kontak korban di BBM dengan tujuan untuk menghilangkan jejak,” ungkapnya.

WCC Lapor Polisi

Merasa mendapatkan perla­kuan yang tidak mengenakkan, korban yang didampingi oleh Direktur Woman Crisis Center (WCC) Nurani Perempuan Suma­tera Barat, Yefri Heriani pun melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian. Korban yang melapor pada Rabu (18/5) sedari pukul 17.00 WIB pun sempat diopor oleh petugas untuk me­min­dahkan laporan dimana pada awalnya ke Polsekta Padang Utara, kemudian ke Polsekta Nanggalo, sebelum akhirnya dipindahkan ke Polresta Padang.

Menanggapi hal tersebut, Kapolsekta Nanggalo AKP Gus­di yang didampingi oleh Kanit Reskrim Nanggalo, Ipda Wilmar Sianturi dan juga sempat dida­tangi Kanit Reskrim Polsekta Padang Utara, Ipda SH Sitorus mengatakan bahwa pihaknya bukan sengaja mempersulit kor­ban, hanya saja pihaknya me­lakukan olah TKP.

“Korban ini pada awalnya mengatakan tempat kejadiannya di Tunggul Hitam, dimana itu merupakan wilayah Polsekta Padang Utara. Namun setelah dilakukan pengecekan, lokasi kejadian lebih mengarah ke wilayah Koto Tangah, untuk itu kami arahkan yang bersangkutan ke Polresta Padang untuk mem­buat laporan di Unit Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polresta Padang karena disana ada unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA),” kata Gusdi.

Korban sendiri pun membuat laporan ke Mapolresta Padang dengan nomor laporan : LP/666/K/V/2016/SPKT Unit III Tanggal 18 Mei 2016. Kedua pelaku itu kini tengah diburu petugas.

Kejadian ini membuat Direk­tur WCC Nurani Perempuan Sumbar, Yefri Heriani angkat bicara. Menurutnya, tindakan perkosaan yang dilakukan oleh lebih dari dua orang disebutnya juga (gank rape), yaitu perkosaan yang dilakukan lebih dari satu orang pelaku.

“Saat ini kami terus menga­wal kasus yang dialami AAR ini. Korban saat ini mengalami trau­ma, takut, gugup, cepat lelah, dan kesakitan yang luar biasa pada alat reproduksinya,” ungkapnya.

Yefri meminta pihak kepoli­sian dalam hal ini Polresta Padang agar memproses kasus yang dilaporkan dan memastikan tidak menunda penangkapan terhadap pelaku.

“Karena dibeberapa kasus, pelaku kejahatan seksual mela­rikan diri dan polisi tidak dapat melakukan penangkapan, se­hing­ga proses hukum tertunda. Selain itu dengan tidak mem­biarkan terjadinya kejadian yang sama dengan modus yang lebih kompleks,” imbuhnya.

Dukungan yang sama juga diberikan oleh Badan Pember­dayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPr & KB) Suma­tera Barat. Kepala Bidang (Ka­bid) Perlindungan Perempuan dan Anak, Ifrah kepada Haluan mengatakan bahwa kejadian pelecehan seksual terhadap pe­rem­puan belakangan ini dise­babkan oleh banyak faktor. Me­nurutnya, banyak faktor yang menyebabkan itu terjadi.

Seperti faktor budaya pa­triarkhi (sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama yang sentral dalam organisasi sosial) yang masih banyak memandang perempuan lebih rendah diban­ding laki-laki. Kekerasan terha­dap perempuan dan anak di atas berlaku umum dan tidak memi­liki relevansi dengan jenis pendi­dikan, pekerjaan dan pengha­silan, kedudukan sosial dan lainnya. “Dari situ bisa dilihat kalau kekerasan terhadap perem­puan dan anak terjadi pada semua jenis strata sosial,” terang Ifrah.

Kekerasan yang dialami ka­um lemah tersebut mulai dari fisik, psikis, mental, seksual, penelantaran dan lain-lain. Mere­ka perlu ditangani secara terpadu oleh penyelenggara layanan, baik pemerintah, masyarakat dan semua unsur terkait.

Seperti Pusat Pelayanan Ter­pa­du Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), sebagai wadah pelayanan perempuan dan perlindungan anak berbasis mas­yarakat.

“Keterpaduan dalam pena­nga­nan tindak kekerasan dilaku­kan dengan penguatan jejaring. Antara lain kerjasama rumah sakit dalam bidang rehabilitasi kesehatan crisis center dengan rehabilitasi sosial dan reintegrasi sosial,” terangnya lebih jauh.

Seayun seirama, tokoh mas­ya­rakat Sumatera Barat yang juga ketua Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MTKAAM), Irfianda Abidin saat dihubungi Haluan menga­takan tindakan asusila terhadap perempuan dan anak-anak bela­ka­ngan ini di beberapa tempat di Indonesia menggambarkan le­mah­nya penegakan dan pengawa­san hukum yang ada selama ini.

“Tidak ketinggalan di Kota Padang, hal ini menjadi bukti bahwa perempuan selama ini dianggap remeh dan gampang dilecehkan oleh kaum pria. Perlu penegakan hukum yang kuat untuk menekan angka pelecehan ataupun tindakan asusila dari perempuan,” ujarnya. (h/mg-adl)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat, 23 September 2016 - 18:26:43 WIB

    Diduga Terlibat Illegal Loging, Oknum Polisi di Pessel Ditangkap Propam

    Diduga Terlibat Illegal Loging, Oknum Polisi di Pessel Ditangkap Propam PAINAN, HALUAN - Seorang oknum anggota Kepolisian Resor (Polres) Pesisir Selatan, ditangkap tim Propam karena diduga terlibat kasus illegal logging pada Jumat (23/9) dini hari, sekira pukul 01.00 WIB..
  • Sabtu, 23 Juli 2016 - 23:37:50 WIB

    Warga Tangkap Basah Oknum Guru TK yang Sedang Asik Berindehoi

    Warga Tangkap Basah Oknum Guru TK yang Sedang Asik Berindehoi PADANG, HALUAN - Seorang Guru Taman Kanak-Kanak (TK) berinisial R (26) di kawasan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang diamankan oleh warga setempat setelah tertangkap basah berbuat mesum bersama pasangannya, E (24.
  • Rabu, 22 Juni 2016 - 19:40:38 WIB
    Kasus Kepemilikan Sabu

    Oknum Pengaman Lapas Muaro Dituntut Lima Tahun

    Oknum Pengaman Lapas Muaro Dituntut Lima Tahun PADANG, HALUAN - Syahrial (36), warga Kuranji yang juga oknum petugas pengamanan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Muaro Padang, dituntut dengan hukuman lima tahun penjara atas kasus kepemilikan narkotika jenis sabu,.
  • Selasa, 26 April 2016 - 03:53:58 WIB

    Mantan Oknum TNI Didakwa Merambah Hutan

    PADANG, HALUAN – Didakwa melakukan penebangan dan mengangkut hasil hutan tanpa izin di Bengkalis, Provinsi Riau, mantan anggota TNI, Sudikdo (46) disidang di Pengadilan Militer 1-03 Padang, Senin (25/4)..
  • Kamis, 21 April 2016 - 03:10:19 WIB
    Lakukan Kekerasan Terhadap Wartawan

    KWAK Desak Oknum Pejabat Dipecat

    KWAK Desak Oknum Pejabat Dipecat Padang, Haluan — Puluhan wartawan yang tergabung dalam Koalisi Wartawan Anti Kekerasan (KWAK) Sumbar men­datangi Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Ham (Kanwil Kemen­kum­ham) Sumbar yang berlokasi di Jalan S,Parman, Pa.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]