Lestarikan Permainan Tradisional di Dharmasraya

Bupati dan Wabup Main Tangkelek Panjang


Kamis, 26 Mei 2016 - 05:26:54 WIB
Bupati dan Wabup Main Tangkelek Panjang Bupati Sutan Riska Tuanku Kerajaan dan Wabup H.Amrizal Dt.Rajo Medan seperti kembali ke masa silam. Keduanya bermain tangkelek panjang, permainan tradisional anak Nagari yang kini sudah langka. (MARYADI)

DHARMASRAYA, HALUAN — Tidak seperti biasanya. Pada Rabu pagi kemarin, halaman Kantor Bupati Dharmasraya dipenuhi ribuan anak sekolah yang berasal dari SD dan SLTP. Di tengah mereka seketika tampak Bupati Sutan Riska Tuanku Kerajaan dan Wabup H.Amrizal Dt.Rajo Medan menganyunkan kaki beralaskan sepasang tangkelak panjang. 

Demikian pula dengan Dandim 0310 SSD, Let­kol. Zusnan Hadi Hudaya, Ka­polres dan Kajari serta Ketua DPRD dan pejabat lainya. Semua seperti kembali ke masa silam dengan penuh canda dan gelak tawa me­main­kan alat permainan tra­disional yang kini kian ter­pinggirkan oleh ke­canggihan teknologi.

Baca Juga : Update! Lima Daerah Kuning, 14 Lainnya Ditetapkan Masuk Zona Oranye di Sumbar

Siswa dan siswi juga mem­bawa berbagai macam alat permainan tradisional, seperti tengkelek panjang, engrang, pelepah pinang, karet gelang, galah, layang-layang, yoyo dan berbagai bentuk alat per­maianan lainnya. Mereka mengikuti Festival Permainan Anak Nusantara ke 3, yang diselenggarakan dalam rang­ka memperingati Hari Ke­bangkitan Nasional ke 108 tahun 2016 ini. Festival yang terselenggara atas kerjasama Kodim 0310 SSD dengan Pem­kab Dharmasraya, dalam hal i­ni Dinas Perhubungan Komunikasi Informatika Pa­riwisata dan Budaya (Dis­hub­kominfibud), Dinas Pen­di­dikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora), serta Museum Adi­tyawarman Provinsi Su­matera Barat tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati Dhar­­masraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan.

Bupati Sutan Riska me­ngung­kapkan, bahwa di­ada­kan­nya festival itu dalam upaya untuk mengangkat kem­bali khasanah permainan anak nusantara dan membuka ke­nangan budaya dalam bentuk mewariskan budaya, me­ne­ruskan perjuangan serta mem­bangun karakter bangsa. “Se­­iring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan tek­nologi yang semakin canggih, serta pengaruh era globalisasi, telah berdampak pada pola hidup generasi muda kita. Kondisi yang demikian dik­ha­watirkan akan merusak ta­tanan hidup dan perubahan orientasi pandangan pada kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Bupati yang juga Rajo Koto Besar itu.

Baca Juga : Jumlah Kesembuhan Pasien Covid-19 di Sumbar Bertambah 212 Orang

Ditambahkannya, saat ini permainan warisan budaya kita sudah banyak yang ter­lupakan bahkan tidak dikenal lagi oleh kalangan generasi penerus bangsa.”Jika kita kaji kembali, permainan anak nagari itu sangatlah banyak, yang me­rupakan warisan budaya yang harus kita les­tarikan, kem­bangkan dan sosialisasikan kepada generasi mu­da kita, agar warisan bu­daya ini tidak hilang begitu saja ditelan ke­majuan tekno­logi dan era glo­balisasi,” kata Bupati termuda se Indonesia itu.

Kepada guru dan SKPD terkait, ia menghimbau agar menggiatkan kembali per­mainan anak nusantara ini dengan membuat even per­mainan antar sekolah se-Kabupaten Dharmasraya.

Dalam kesempatan itu, Dandim 0310 SSD, Let­kol. Zus­nan Hadi Hudaya me­nga­takan, festival ini adalah yang ke tiga kalinya kita gelar, dengan tujuan untuk me­nge­nalkan kepada generasi muda kita tentang jenis-jenis per­mainan yang diwariskan ne­nek moyang. Saat ini tidak bisa kita pungkiri, dengan semakin canggihnya ilmu dan teknologi, generasi muda kita sudah banyak yang lupa bah­kan tidak lagi mengenal jenis-jenis permainan yang diwa­ris­kan nenek moyang kita dulu.

Ia menambahkan, ke­ma­juan ilmu dan teknologi itu memiliki sisi positif dan ne­ga­tifnya. Namun sisi negatif teknologi sudah sangat mem­pengaruhi alam bawah sadar generasi muda dan me­na­namkan dalam jiwa dan ka­rakter generasi muda kita untuk tidak memperdulikan orang lain.”Memang per­mai­nan tradisional ini bentuknya sepele, namun banyak nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, yang bisa dijadikan pedoman dalam hidup. Di­antaranya nilai-nilai kerja­sama, kekompakan, gotong royong, kemandirian, cinta alam dan lingkungan, dan kreativitas,” tutur Dandim tiga wilayah ini.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala UPTD Museum Adityawarman Provinsi Sum­bar, Novianti A,SH,MM mengatakan, bahwa kegiatan festival ini adalah merupakan sebuah pelajaran informal bagi siswa dalam pengenalan dan pelestarian nilai-nilai luhur budaya. (h/mdi)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]