Mulailah Membuka KBBI dan Menguji Kata


Jumat, 27 Mei 2016 - 04:04:05 WIB
Mulailah Membuka KBBI dan Menguji Kata

Saya yakin bahwa banyak orang yang menganggap kata mencontek sebagai bentuk yang benar. Mungkin banyak orang yang akan mengatakan saya salah kalau saya menulis kata menyontek. Saya menyarankan kepada orang yang berpikiran demikian untuk segera membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pusat Bahasa Edisi IV (2008).

Dalam kamus ekabahasa itu memang tertulis kata con­tek. Akan tetapi, di sana contek tidak diberi arti. Pem­baca disarankan untuk me­rujuk ke entri sontek. Lema sontek (kata kerja) di sana diberi makna mengutip (tu­lisan dan sebagainya) seba­gaimana aslinya; menjiplak. Kata benda dari lema sontek adalah sontekan.    

Mengapa sontek menjadi menyontek? Sesuai aturan peluluhan konsonan, huruf awal sontek, yakni s, me­ngalami peluluhan apabila bertemu awalan me-. Hukum peluluhan seperti itu juga berlaku apabila awalan me- bertemu konsonan tunggal k, p, dan t.

Kalau pembaca masih tidak percaya, silakan lihat Kamus Tesamoko (Tesaurus Bahasa Indonesia) Edisi Ke­dua (2016) karya Eko En­darmoko dan Gerombolan Tesamoko. Dalam kamus si­no­nim itu juga terdapat lema sontek sebagai kata dasar menyontek. Kamus itu mem­berikan persamaan kata son­tek sebagai mencontoh, me­ngutip, dan menjiplak. Orang yang menyontek disebut penyontek.

Masih tidak percaya?

Mencontek

Mencontek adalah kata yang lazim diketahui dan digunakan oleh pengguna bahasa Indonesia, baik dalam lisan maupun tulisan. Ini salah kaprah yang terjadi karena kebiasaan pengguna bahasa tidak peduli dengan benar atau tidaknya kata yang ia pakai. Kesalahan ini bisa terjadi karena pengguna ba­hasa Indonesia jarang mem­buka kamus bahasa Indonesia (kalau tidak mau dikatakan tidak pernah).

Apa dampaknya kalau jarang atau tidak pernah mem­buka kamus? Pengguna ba­hasa Indonesia akan se­ring salah kaprah dalam meng­gunakan kata. Contoh salah kaprah penggunaan kata se­lain mencontek ada­lah al­pukat. Bentuk yang benar dari alpukat sesuai yang tertera dalam KBBI adalah avokad. Avokad terdengar seperti sinonim dari pengacara. Bu­kan. Avo­kad adalah buah, sementara persamaan kata pengacara adalah advokat.

Contoh lain dari salah kaprah penggunaan kata ada­lah dipungkiri dan partisipatif. Bentuk yang benar dari di­pung­kiri adalah dimungkiri. Kata dasarnya menurut KBBI adalah mungkir (kata kerja), yang berarti (1) tidak me­ngaku(i); tidak mengiakan; (2) tidak setia; tidak menepat (janji); menolak; menyangkal. Saya menduga, dipungkiri galib dipakai karena kata dasarnya dianggap pungkir, yang dalam bentuk kata kerja aktifnya adalah memungkiri, dan barangkali karena me­mungkiri dianggap bentuk peleburan awalan me- saat bertemu pungkir.

Sementara untuk par­tisiti­patif, bentuk yang benarnya dalam KBBI adalah partisi­patoris. Kata dasar par­tisi­patoris (kata sifat) adalah partisipasi. Partisipasi diserap dari bahasa Inggris, yakni participation (kata benda). Dalam bahasa Inggris, kata sifat dari participation adalah participatory. Oleh karena itu, salah besar kalau orang Indo­ne­sia menganggap bahwa pa­rtisipatif sebagai kata sifat da­ri partisipasi. Padahal, su­dah jelas dalam KBBI Pusat Edisi IV terdapat lema parti­si­pa­toris, yang berarti keadaan mem­beri kesempatan berpar­ti­si­pasi.

Saya mengira bahwa parti­sipatif dianggap sebagai kata sifat dari partisipasi berda­sarkan pola kata serapan lain, contohnya konsumsi, yang kata sifatnya adalah kon­sumtif. Konsumtif adalah bentuk yang benar karena kata sifat consumption dalam ba­ha­sa Inggris adalah consum­ptive. Pola ini sama dengan kata declaration (deklarasi) yang kata sifatnya adalah declarative (deklaratif).

Sekali lagi, jamakanya penggunaan partisipatif oleh pemakai bahasa Indonesia karena hanya menggunakan kata berdasarkan kebiasaan kata tersebut didengar dan dilihat dalam kehidupan seha­ri-hari, dan tidak membuka kamus untuk mengecek kebenarannya.  

Mulai sekarang, pengguna bahasa Indonesia, terutama penulis, mesti sering mem­buka kamus agar tidak terjadi salah kaprah dalam menulis kata. Mulailah mencurigai setiap kata yang kita gunakan karena mungkin saja kata tersebut tidak baku. Bentuk kata tidak benar yang tanpa tidak sengaja kita tulis atau kita katakan dalam ruang formal terjadi karena kelazi­man kata tersebut dipakai.

Menguji kata

Cara lain untuk menge­tahui bentuk kata yang benar selain membuka kamus ada­lah dengan menguji kata. Kita tidak bisa sepenuhnya me­mercayai KBBI karena dalam kamus itu kadang terdapat kata yang tidak masuk akal. Salah satu contoh kata yang tidak logis dalam KBBI ada­lah dikarenakan. Dalam KB­BI, dikarenakan diberi tanda cak, yang berarti ragam caka­pan (untuk menandai kata yang berlabel digunakan da­lam tagam tidak baku). Se­lain ragam cakapan, dalam KBBI juga terdapat kata yang diberi tanda ark, singkatan dari arkais (untuk menandai kata yang berlabel tidak la­zim). Kenapa kata tidak baku dan tidak lazim terdapat da­lam KBBI? KBBI adalah kumpulan kata yang digu­nakan masyarakat, termasuk kata tidak baku dan tidak lazim.

Kalau benar dikarenakan adalah bentuk yang benar, mari kita uji kata ini. Cara menguji kata adalah dengan membolak-balikkannya. Kata dikarenakan adalah bentuk pasif. Coba ubah kata tersebut menjadi bentuk aktif, yakni mengarenakan. Pernahkah orang menulis atau menyebut kata mengarenakan? Tidak pernah. Bentuk dikarenakan adalah bentuk yang salah karena karena adalah kata penghubung atau kata sam­bung (konjungsi).

Menurut saya, bentuk di­ka­renakan dipakai karena dikarenakan disamakan de­ngan disebabkan yang berasal dari sebab. Sebab adalah kata benda yang lazim diberi im­buhan. Sementara karena adalah kata sambung yang biasanya tidak diberi imbu­han. Kalau kata penghubung diberi imbuhan seperti dika­renakan, pasti ada bentuk diagarkan (agar), disu­pa­ya­kan (supaya), dan diketikakan (ketika), atau mengataukan (atau), menatkalakan (tat­kala), menyehinggakan (se­hing­ga), mendengankan (de­ngan), menanpakan (tanpa), mem­bahwakan (bahwa), dan mendankan (dan). Sejak dulu sampai kini, bentuk kata-kata salah kaprah tersebut tidak saya temukan. Mungkin Anda menemukannya. Saya tidak tahu.        

Contoh kata lain dalam KBBI yang bisa kita uji adalah pengrajin. Kata ini tidak diberi arti dalam KBBI. Peng­guna KBBI direko­men­da­sikan untuk melihat kata pera­jin dengan arti (1) orang yang bersifat rajin; (2) sesuatu yang mendorong untuk menjadi rajin; (3) orang yang peker­jaannya (profesinya) mem­buat barang kerajinan.

Bentuk pengrajin sung­guh tidak lazim. Pengrajin berasal dari kata yang huruf awalnya r, yakni rajin. Kata lain yang huruf awalnya r, tidak menjadi peng ketika bertemu awalan pe-. Lihat saja kata rampok (peram­pok), renang (pe­re­nang), raih (peraih), rias (perias), dan ramu (peramu). Dari pola ini kita bisa tahu bahwa kata pengrusakan yang ka­dang ditulis oleh wartawan adalah bentuk yang salah.    Jadi, mulai sekarang se­ring-seringlah membuka KB­­­BI dan menguji kata. (*)

 

HOLY ADIB
(Wartawan dan Pemerhati Bahasa Indonesia)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]