Merawat Budaya dari Usia Dini


Sabtu, 28 Mei 2016 - 05:56:55 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Merawat Budaya dari Usia Dini SEJUMLAH anak- anak membawakan Tari Piriang di Sekolah Alam Minangkabau di Jalan Ujung Pandang No.11. Ulak Karang, Kota Padang, Kamis (26/5). (RIVO SEPTI ANDRIES)

Bukan kami kinari sajo, kinari basamo anak rang tiku. Bukan kami kamari sajo, gadang mu­kasuik yang kami tuju. Alah lamo kami dek mansi, rabab tasanda di pamatang, alah lamo kami dek mananti, apo sabab talalai datang (Bukan kami kinari saja, kinari bersama anak orang tiku. Bukan kami kemari saja, besar maksud yang kami tuju. Sudah lama kami man­si/cumi-cumi, rabab ter­sandar di pematang, sudah lama kami menanti apa sebab telat datang). Begitu tutur Nazwa (10), dan Tiwi (10) yang baru saja berbalas pantun di sekolahnya.

Meski sempat terbata-bata, dua murid kelas 5 yang ber­pakaian Baju Kuruang Basiba itu tetap melanjutkan tugasnya da­lam acara Alek (pesta) Minang­kabau dengan tema Tradisi Baba­ko atau pelepasan mempelai wanita (anak daro) oleh keluarga ayah (bako).

Setelah berbalas pantun, seke­lompok anak perempuan lainnya yang berpakaian adat minang, dan tanpa alas kaki mulai mem­bawakan Tari Pasambahan diatas jalan aspal yang masih lembab. Rintik hujan yang membasuh Sekolah Alam Minangkabau yang berlokasi di Jalan Ujung Pandang No.11, Ulak Karang, Kota Padang, membuat hangat suasana pagi itu, Kamis (26/5).

Diiringi musik gandang tasa, dan pupuik (sejenis seruling), sejumlah orang tua murid yang ikut menyaksikan kegiatan anak­nya berpacu mengabadikan mo­men dengan menggunakan kame­ra handphone. Meski bukan ajang kontes kencantikan seperti yang ada televisi, mayoritas orangtua murid tersebut terlihat bangga.

Tarian yang dikhususkan un­tuk menyambut tamu tersebut, juga diikuti dengan prosesi pem­berian siriah jo carano (sisih dan cerana) kepada keluarga bako yang datang. Dalam pemberian siriah jo carano tersebut, tamu wajib memakan siriah yang dibe­rikan sebagai tanda penghor­matan. Dalam tradisi baralek di minangkabau, prosesi babako salah satu bagian penting yang dilakukan. Sedangkan tujuan babako pun adalah memberi pituah kepada kepada anak daro saat memasuki kehidupan ber­keluarga.

Tidak lama setelah penari cilik membawakan Tari Pasam­bahan, iring-iringan keluarga bako sambil membawa joadah (sejenis makanan khas daerah pariaman yang disusun tinggi dengan dulang) mulai berjalan perlahan, memasuki sekolah yang beratap rumbia itu. Terlihat sekelompok anak lainnya yang juga memakai pakaian adat leng­kap mengiringi tamu untuk ber­simpuh di ruang kelas berlantai kayu. Sesuai tugas masing-ma­sing, murid lainnya menyiapkan hidangan yang akan disantap secara bersama sama.

Sementara, dilapangan seko­lah yang luasnya sekitar lapangan futsal itu, murid lainnya mem­buat makanan khas daerah seperti lapek (lepat) dengan cara bergo­tong royong. Di ruang yang lain murid-murid bersiap memain­kan tradisi randai serta permai­nan anak nagari lainnya.

“Sekitar 4 bulan mempelajari tradisi budaya ini. Kami diajar­kan fasilitator tentang pantun, petatah dan petitih,” ujar Nazwa.

Bagi Nazwa dan 80 murid Sekolah Alam Minangkabau lainnya, sudah menjadi kegiatan rutin setiap semester memba­wakan tradisi budaya mi­nang­kabau. Bahkan sekolah yang menggunakan konsep alam itu mengutamakan pelajaran serta praktik, terutama tentang budaya. Berbeda dengan sekolah lainnya, sekolah yang bangunannya ter­buat dari kayu itu  tidak pernah menggunakan pakian seragam pada muridnya. Hal itu bertujuan untuk tidak memberi kebebasan kepada murid dan orang tua dalam memilih pakaian sesuai dengan kemampuan dan kondisi perekonomiannya.

Menurut fasilitator (sebutan guru) di Sekolah Alam Minang­kabau Putra Amanda, di sekolah tempat ia mengajar tersebut lebih mengedepankan peran keluarga dan kebersamaan. Sehingga diha­rapkan dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan kemandirian anak.

“Ini alek minangkabau yang ke empat. Kami membawakan tema tradisi babako, dan setiap semester akan terus diadakan pelajaran seperti ini. Ini juga sebagai bentuk muatan lokal yang ada dalam pelajaran,” terang alumni fakultas hukum itu.

Lebih lanjut ia menyam­pai­kan, selama ini pelajaran Budaya Alam Minangkabau (BAM) yang dipelajari murid mengalami kesulitan. Hal itu terlihat karena tidak banyak anak yang tahu bagaimana cara menggunakan­nya, maka dengan adanya pela­jaran praktik prosesi budaya tersebut diharapkan murid akan lebih mudah mempelajarinya.

Ia menambahkan, selain itu metode dalam memberikan pela­ja­ran murid-murid dibebaskan untuk belajar dimana pun di sekitar lingkungan sekolah, tidak wajib di dalam ruangan. Dan di pagi hari semua murid dari ting­kat penitipan anak hingga Seko­lah Lanjutan (SL) atau setingkat SLTP wajib mempelajari iqra dan al quran.

“Kemandirian, kekeluaragan, serta kekompakan, dan saling membantu dapat ditemukan di sekolah alam ini. Tidak hanya itu kecintaan akan budaya harus dipupuk sedari dini. Kalau bukan generasi ini siapa lagi yang akan mewarisinya,”paparnya.

Menurut pengawas di UPTD Kecamatan Padang Utara, Dinas Pendidikan Kota Padang Yu­helmi mengatakan, saat ini mulai terlihat fenomena anak-anak yang terjerumus pada pergaulan bebas. Hal ini menunjukan bahwa peran keluarga, dan sekolah penting dalam membentengi generasi penerus dari ancaman kehan­curan moral tersebut.

“Semua yang diketahui, seka­rang mulai lunturnya apa itu sopan santun, dan karakter budi pekerti. Ada anak-anak yang berani melawan guru, atau pun sebaliknya. Salah satu cara yang dapat mengembalikan semua itu adalah menerapkan pola pen­didikan dengan budaya lokal. Seperti mengajarkan pepatah petitih, pantun dan budaya lain­nya,” katanya.

Sementara itu, tokoh budaya­wan Sumbar, Musra Dahrizal atau yang sering disapa Mak Katik mengatakan, dalam budaya alam minangkabau telah lama me­ngajarkan pola pendidikan dari usia dini. Sehingga pepatah mi­nang yang mengatakan alam ta­kam­bang jadi guru itu sudah lama digunakan oleh orang minang.

Ia mencontohkan, di alam minangkabau ada dua prosesi bainduak bako baanak pisang. Pertama waktu anak baru lahir atau sekitar 40 hari setelah lahir anak akan dijemput oleh bako, dan setelah itu kembali dian­tarkan dengan membawa, beras, pisang, ternak dan pohon kelapa yang siap ditanam. Hal ini dikare­nakan dalam budaya minang ada kata bako dan baki, dimana sesuatu yang dibawa bako akan menjadi baki atau lambang ke­makmuran dan ekonomi.

“Ini menunjukan sejak lahir, sudah ada proses pendidikan yang mengajarkan tentang arti memberi, menerima serta lam­bang ekonomi. Jika pisang atau kelapa itu ditanam maka kelak sang ibu atau yang bisa berkata kepada anakanya, bahwa ini adalah pohon pemberian dari bakonya. Si anak pun akan pa­ham tentang arti memberi, me­nerima, dan arti kebersamaan dalam keluarga,”terangnya.

Mak Katik juga menjelaskan, kenapa di minangkabau ada yang dinamakan anak pisang. Hal itu mempunyuai filosofi penting yakni anak yang akan menjadi pelangi dalam rumah induak bako dan kaum. Lebih lanjut Mak Katik menjelaskan jangan pernah memakai filosofi anak batu lado (batu penggiling cabe), karena menurutnya batu lado mem­punyai sifat yang terus menggerus orangtuanya.

“Pelajaran budaya yang dila­ka­kan dari usia dini sangat pen­ting dalam membentuk karakter anak ke depannya. Bahkan orang tua pun harus mengerti tentang hal mendidik anak dari kecil,” ucapnya.

Budayawan yang ikut berpe­ran dalam film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck itu me­ngungkapkan, di budaya minang­kabau ada empat hal yang perlu diketahui penyebab saat anak (bayi) menangis. Pertama kain yang menyelimuti si anak basah, kedua anak sakit perut, ketiga makan, minum, dan terakhir belum mandi.

“Sekarang banyak terjadi si ibu membohongi si anak. Ini terlihat ketika anak menangis karena kain selimutnya basah, ia hanya menghentikan tangis anak dengan cara memberi buaian. Bayangkan jika hal buruk ini selalu diberikan kepada anak setiap harinya, maka saat dewasa ke­mungkinan anak juga akan mem­berikan hal yang buruk kepada orangtuanya,”ungkapnya. (*)

 

Laporan : RIVO SEPTI ANDRIES



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu, 18 Juni 2016 - 01:01:58 WIB
    Pelestarian Hutan Berbasis Nagari

    Merawat Jantung Sirukam dari Hulu

    Merawat Jantung Sirukam dari Hulu PADANG, HALUAN — Suara jangkrik dan burung saling men­ya­hut diantara pepohonan. Ma­ta­hari pagi tertutup karena rim­bun­nya dedaun di Hutan Lindung Nagari Sirukam, Kecamatan Pa­yung Sekaki, Kabupaten Solok, Minggu (.

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM