Kisah Abdullah Shrem, Penyelamat Ratusan Budak Seks ISIS

Perawan Gadis Yazidi Dihargai Rp122 Juta


Jumat, 03 Juni 2016 - 04:10:34 WIB
Perawan Gadis Yazidi Dihargai Rp122 Juta ABDULLAH Shrem menuturkan kisahnya menyelamatkan ratusan gadis Yazidi dari tangan ISIS.

Abdullah Shrem mem­per­lihatkan ponselnya, me­nun­juk­kan caranya menyelamatkan gadis Yazidi yang menjadi budak seks ISIS.

“Tawaran dibuka di harga US$9.000 (Rp122 juta). Untuk penjualan? Gadis Yazidi. Dia cantik, pekerja keras, perawan. Dia juga baru berumur 11 tahun.”

Baca Juga : Sedih, Ada Orang Tua di India Buang Bayinya yang Kena Corona

Demikian bunyi iklan yang terpampang di layar ponsel Shrem. Iklan itu dipasang di pasar daring yang digunakan oleh ISIS untuk melakukan barter budak seks.

Bukan berniat membeli, tapi Shrem melacak keberadaan para gadis Yazidi itu melalui ke­terangan dalam iklan tersebut. Terkadang, iklan-iklan itu men­cantumkan detail seperti foto bahkan lokasi gadis itu.

Baca Juga : "Pantun Cerewet" Doni Monardo untuk Sadarkan Masyarakat

Hingga saat ini, sudah 240 gadis Yazidi yang ia berhasil selamatkan. Keberhasilan ini bu­kan tanpa perjuangan panjang. Se­muanya bermula pada 2014.

Saat itu, Shrem menjalani kehidupan suksesnya sebagai seorang pebisnis Irak dengan koneksi perdagangan mencapai Aleppo di Suriah, ketika tiba-tiba ISIS datang dan menculik lebih dari 50 anggota keluarganya dan ribuan gadis Yazidi lainnya dari Provinsi Sinjar.

Baca Juga : Akhirnya, Penggunaan Vaksin Covid-19 untuk Anak-anak Disetujui

Tertekan dan marah melihat kurangnya dukungan dari komu­nitas internasional, ia mulai me­nyusun rencana untuk me­nye­lamatkan keluarganya dengan cara sendiri. Ia mulai merekrut pe­nyelundup rokok yang men­jalankan bisnis gelap di wilayah ISIS. Mereka diminta untuk melacak keberadaan para gadis Yazidi.

“Tak ada pemerintah atau ahli yang melatih kami. Kami belajar dengan melakukannya. Selama satu setengah tahun belakangan, kami mulai ber­pengalaman,” tutur Shrem kepada CNN.

Baca Juga : Setelah Satu Bulan Wafat, Penyebab Pangeran Philip Meninggal Diungkap

Dalam beberapa kasus, para penyelundup mengikuti petunjuk yang ada dalam iklan untuk mengetahui keberadaan korban. Namun dalam kasus lain, para sandera sendiri yang meminta tolong. Mereka berusaha mem­berikan informasi detail, seperti lokasi, nama kota yang sering mereka dengar, bahkan tempat terkenal di sekitar lokasi mereka.

Ketika mereka sudah dapat berhubungan, tahanan itu diberi instruksi mengenai kapan dan ke mana mereka harus pergi untuk bertemu dengan penyelundup rokok yang sudah bersiap di dalam mobil. 

Proses ini biasanya memakan waktu berhari-hari atau mingguan, bahkan berganti-ganti kendaraan, untuk keluar dari wilayah ISIS dengan selamat. 

Pengalaman itu harus dibayar mahal, bahkan Shrem nyaris bangkrut karena hampir semua tabungannya dipakai untuk mem­beli gadis Yazidi dari ISIS dan membayar penyelundup rokok.

Bagi orang yang langsung terjun ke wilayah ISIS, taru­han­nya bahkan lebih tinggi lagi. Beberapa penyelundup rokok bahkan sudah ditangkap dan dieksekusi oleh ISIS ketika sedang melacak keberadaan para gadis Yazidi.

Namun menurut Shrem, risiko itu sepadan dengan hasil yang didapat. “Ketika saya me­nye­lamatkan seseorang, saya men­dapatkan kekuatan dan keya­kinan untuk terus melakukannya sam­pai saya dapat menyelamatkan mereka semua,” katanya.

Salah satu yang berhasil diselamatkan adalah saudaranya sendiri. Delapan bulan lamanya Shrem tak mendengar kabar dari saudaranya itu. Tiba-tiba sau­daranya menelepon dari Anbar.

“Ada istri dari militan ISIS yang memberikannya telepon dan berkata, ‘Mungkin kamu bisa menyelamatkan dirimu sendiri,’” tutur Shrem.

Saudaranya itu akhirnya men­deskripsikan keadaan ling­kungan sekitarnya. Shrem akhirnya dapat melacak dengan tepat lokasi itu.

Shrem akhirnya me­nye­la­matkan saudaranya bersama putranya. Namun, Shrem masih tak dapat melacak keberadaan dua putra dan satu putri dari saudaranya itu. Kedua putra saudaranya dikirim ke kamp pelatihan ISIS, sementara pu­trinya diculik untuk dijual.

Ribuan warga Yazidi lainnya masih terperangkap di wilayah ISIS. Shrem khawatir, semakin lama mereka terperangkap, kian dalam pula radikalisasi yang ditanamkan. Ia pun mendesak komunitas internasional untuk beraksi.

“Jika ada 50 saja, bukan 5.000, warga Eropa yang diper­kosa setiap hari oleh ISIS, apakah Eropa akan diam? Tentu tidak. Pasti akan ada operasi dan apa pun akan dilakukan untuk me­nye­lamatkan mereka,” kata Shrem.

Melanjutkan seruannya, Shrem kembali berkata, “Na­mun, ketika 5.000 orang Yazidi di­perkosa, anak-anaknya dilatih dan menjadi bom berjalan, tidak ada yang melakukan upaya. Kami ditelantarkan,” katanya. (h/cnn)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]