Kongres Nasional PERKI

Indonesia Butuh Tambahan 990 Dokter Jantung


Sabtu, 04 Juni 2016 - 05:23:03 WIB
Indonesia Butuh Tambahan  990 Dokter Jantung GUBERNUR Sumbar Irwan Prayitno memukul gong tanda dibukanya Kongres Nasional PERKI ke-16 di Hotel Grand Inna Muara Padang, Jumat (3/6).Hadir saat itu Ketua PERKI Pusat Anwar Santoso. (ITA)

PADANG, HALUAN —Ke­tua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler (PERKI) Pusat, Anwar San­toso mengatakan setidaknya Indonesia butuh tambahan 990 dokter jantung hingga tahun 2019.

Hal itu diungkapkannya saat menghadiri Kongres Nasional PERKI ke-16 di Hotel Grand Inna Muara Padang, Jumat (3/6) yang dibuka Gubernur Sumbar Irwan Prayitno.

Baca Juga : Temui Mantan Wawako Padang Yusman Kasim, Hendri Septa Bicarakan Hal Ini

Kongres tertinggi PERKI dengan agenda sidang orga­nisasi dan sidang ilmiah

tersebut berlangsung selama dua hari hingga Sabtu, 4 Juni 2016,  dihadiri sekitar 200 dokter jan­tung dan pembuluh darah se-Indonesia.

Baca Juga : Bekas Atom Center Padang Disulap jadi Penampungan Anak Yatim

Dikatakan Anwar pada tahun 2019, semua penduduk Indo­nesia wajib menjadi peserta jaminan kesehatan nasional yang dikelola oleh Badan Penye­lenggara Jami­nan Sosial (BPJS) Kesehatan.

“Setidaknya ada 330 rumah sakit rujukan untuk mendukung program tersebut. Satu rumah sakit, harus punya sedikitnya tiga dokter ahli termasuk dokter spe­sialis jantung.

Sehingga tiga kali 330 artinya sebanyak 990 dokter spesialis jantung dibutuhkan untuk men­dukung program itu,” ujar Anwar yang saat itu didamping Ketua PERKI Cabang Padang Dr. Mu­hammad Fadil.

Dikatakan dia lagi, saat ini ada sebanyak 890 dokter spe­sialis jantung di Indonesia, na­mun sa­yang­nya penyebarannya tidak merata. Masih dominan di kota besar.

“Akibatnya ketika ada orang yang kena sakit jantung d Sa­wahlunto misalnya, sedangkan di sana tidak ada spesialis jantung dan rumah sakit di sana pera­latannya tak memadai, resiko kematian bertambah,” jelasnya.

“Terkait pendistribusian ini, kita sudah ingin beraudiensi dengan Presi­den Joko Widodo untuk menerbitkan semacam relugasi mendorong distribusi dokter spesialis jantung ke dae­rah-daerah.

Dengan adanya relugasi ter­sebut, maka pemerintah pusat atau daerah berkewajiban me­nye­diakan sarana dan fasilitas­nya, seperti rumah sakit dileng­kapi dengan alat-alatnya,” katanya.

Ditambahkannya jantung masih menjadi pembunuh no­mor satu di Indonesia. Dari data BPJS pada 2014, setidaknya biaya yang diklaim ke BPJS untuk penyakit jantung menca­pai Rp15 Triliun.

“Selain memang karena biaya­nya yang mahal, juga karena penyakit akibat pola hidup yang tidak sehat ini banyak menye­rang masyarakat Indonesia sehingga klaimnya besar,” ka­tanya lagi.

Ditambahkannya, untuk me­ngatasi penyakit ini, maka harus dimulai dengan memutus rantai hulu atau penyakit di bawahnya yakni hipertensi (darah tinggi), obesitas (kegemukan) diabetes (gula) dan stroke.

“Nah, penyakit di atas adalah penyakit yang menimbulkan resiko sakit jantung sehingga kalau ingin terhindar sakit jan­tung, hindari resiko penyakit hulunya dulu,” tambahnya.

Dikatakannya, resiko kema­tian akibat hipertensi, bisa men­capai 30 persen dari jumlah penderita. Sedangkan untuk obesitas, resiko kematian 20 persen dari jumlah penderita.

Selanjutnya resiko kematian akibat diabetes, 10 persen dari jumlah penderita, resiko ke­matian akibat stroke mencapai 27 persen dari jumlah penderita.

“Pola hidup sehat, banyak berolahraga, tidak  merokok, jangan sering makan makanan cepat saji dan istirahat yang cukup, bisa mencegah penyakit hulunya sehingg hilirnya yakni penyakit jantung tidak terjadi, “katanya lagi.

Disamping itu, untuk men­cukupi kebutuhan dokter spe­sialis jantung di daerah-daerah, Anwar Santoso optimis pada 2019 bisa terpenuhi. Sebab saat ini ada 12 pusat pendidikan dokter jan­tung di Indonesia.

Sebanyak 12 Pusat Pendi­dikan Jantung itu yakniFakultas Ke­dokteran (FK) Universitas Indonesia (UI), FK Airlangga Surabaya, FK Universitas An­dalas (Unand), dan FK Univer­sitas Sumatera Utara (USU) Medan.

Lalu FK Universitas Padja­jaran Bandung, FK Universitas Di­po­negoro Semarang, FK Uni­versitas Negeri Sebelas Maret Solo, dan FK Universitas Bra­wijaya. Kemudian FK Univer­sitas Gajah Mada Yogyakarta, FK Universitas Hasanudin Ma­kasar, FK Universitas Sam Ratulangi Manado dan FK Universitas Udayana Bali.

Sementara itu Ketua Panitia KOPERKI XVI, Muhammad Fadil menjelaskan agenda dari kongres ini memilih Presiden Elect PP PERKI baru. Saat ini dijabat Anwar Santoso, yang akan di­gantikan, ketua terpilih sebelum­nya, Ismoyo Suni.

Disamping itu, ada pemilihan Ketua Kolegium Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah yang sebelumnya dijabat, Su­narya Soerianata. Kedua posisi ini sangatlah penting dalam menen­tukan masa depan pelayanan dan pendidikan dokter spesialis jan­tung di Indonesia. (h/ita)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]