Cerpen yang Berontak


Sabtu, 11 Juni 2016 - 01:12:54 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Cerpen yang Berontak Ilustrasi.

Pur membasuh muka kering­nya hingga kaki. Ia mengambil sarung yang tergantung di din­ding. Tampak urat yang menjalar dari lengannya. Lengan itu telah legam bersama cangkul ke­se­harian. Selesai berdoa, ia mulai menulis. Ya, sebuah cerpen baru mulai digarap. Baru saja menulis judul, ada suara dari dalam kamar mengalahkan bunyi hewan-hewan pagi cerah itu.

“Bang Pur, isikan ember, cuci bajunya... !” Suara itu kembali menggesek telinga. Bukan hanya telinga, dadanya juga mulai panas. Pur menguatkan diri untuk men­cuci kain. Tak hanya itu, ia juga menambahkan pewangi pakaian di bak besar—sebagaimana ia la­kukan semasa masih bujang. Sembari merendam pakaian, ia terus menahan suhu tubuh agar tak semakin panas. Dadanya lumayan kuat untuk saat ini. Sekuat dada itu, Pur kembali mendekati meja kerjanya. Jemari itu kembali ter­lihat menekan-nekan huruf di komputer lamanya.

Menikmati helaan napas pan­jang adalah hal yang men­yenang­kan. Angin dalam tubuh harus keluar dari hidung yang cukup lebar. Sejenak, ia mengangkat telinga, berjaga-jaga bila ada suara itu lagi. Sudah setengah menit tak ada suara serupa itu. Kali ini, tangannya sengaja dipercepat, agar kata-kata yang ada di ke­palanya tak terlambat keluar.

Kakinya tetap melangkah kembali ke ruang pengetikan. Membantu mengeluarkan kata-kata, lebih baik ketimbang me­menjarakannya berhari-hari. Hu­ruf-huruf itu begitu bebas dari jeratan di kepala. Mereka berlari sekencang-kencangnya dan m­e­nem­pel pada kertas putih. Se­belum berlari, mereka saling dorong dan himpit. Inilah pang­kal dari penyakit bagi huruf-huruf lain yang mulai tumbuh dan bercabang. Itulah alasan Pur sengaja membuka pintu lebar-lebar bagi huruf-huruf di kepala­nya. Satu huruf bisa merangsang huruf lain kian tumbuh. Pur terus menyiram huruf yang bertunas muda, menyiang rerumputan di sekelilingnya, dan mengeluarkan huruf yang sudah matang untuk dilekatkan pada kertas putih itu lagi.

“Bang Pur, dasar bodoh!” suara itu baru kali ini ia dengar langsung. Mulut itu seperti ber­ganti mulut sesosok siluman bergigi tajam dan bermata merah bara. Pur memejamkan matanya sesaat dan mengehela napas panjang. Itu tak cukup untuk meredam telinganya yang mulai memerah. Tangan kanannya me­nge­lus dada naik-turun berulang-ulang. Bibirnya mulai bergerak-gerak, tampak seperti komat-kamit. Barangkali ia mengucap kata-kata penenang hati. Betapa tidak, kata-kata itu bahkan tak pernah keluar dari mulut orang tuanya.

Dada Pur semakin bergejolak, entah hendak berbuat apa. Se­men­tara suara itu terus mengiang dan bertambah keras. Tangannya mulai mengepal lagi gemetar. Tetapi pikirannya masih me­mutih. Ia menggeleng berulang-ulang dan semakin kencang. Tidak. Tidak mungkin itu terjadi. Demikian bahasa dari gerak kepa­lanya. Pur melangkah ke sumber suara. Ia menyaksikan wanita itu mem­bongkar pakaian dari ember besar sambil menggerutu batu. Ia geram betul dengan pakaian yang lang­sung diberi pewangi, se­mentara belum dibilas terlebih dahulu. Meskipun pakaian itu sebenarnya bisa langsung di­bilas—se­bagai­mana yang tertulis dalam bung­kusan pewangi. Itu juga yang Pur lakukan saban hari semasa di rumah dahulu. Ia men­cuci semua pakaian di rumah, sebab tak ada anak perempuan. Tak ada masalah selama di kampung.

***

Pikirannya semakin kalut. Hari-hari tak jauh berbeda dari hari biasanya. Kata-kata penuh bara dan api memenuhi kepalanya pula. Sampai badannya menjadi lemas, selera makan menjadi hilang, daya pikir pun melemah. Kali ini perutnya tak tinggal diam. Sebuah jarum menusuk-nusuk lambung dan ususnya. Sesekali ia meremas perut dengan wajah meronta. Seluruh tubuhnya se­akan merasakan tusukan satu demi satu.  Hanya gambar Ibu yang dilihatnya berulang-ulang. Itulah yang membawa Pur masih saja mau menjalani hari dengan kata-kata. Seolah gambar itu berkata sesuatu, ketika Pur melihatnya. Entah apa.

“Bang Pur, sapu rumah atau cebokin anak?” Tak cukup satu, kali ini ada dua pilihan. Pur harus memilih salah satu. Ia me­mu­tus­kan untuk menyapu lantai rumah. Lantai yang di semen kasar. Asalkan Tuan tahu. Bila Tuan memijak lantai itu, Tuan akan merasakan seperti bekas pasir. Ya, anak-anak tetangga berkaki ko­tor-kerap bermain-main di rumah itu. Pur mengambil sapu yang tergantung di dekat pintu bela­kang dan memulai mengayunkan sapuan demi sapuan ke lantai. Sesekali tangan kanannya me­megangi perut. Entah ada apa lagi, sehingga dahinya semakin me­nge­rut, wajahnya pucat, sa­puan­nya juga melambat.

Wanita itu masih membasuh kotoran anaknya—sekalian me­man­di­kannya. Gemercik air sira­man di kamar mandi mengiringi sapuan Pur yang terus berayun. Pelan dan semakin pelan-dengan mata yang tak sepenuhnya ter­buka lebar. Dikuatkan juga kaki dan tangannya mengayunkan sapu membawa debu dan kotoran lain. Sapu tak sempat di­gan­tungkan kembali, sementara tu­buh Pur terlanjur ambruk di depan lemari yang telah rapuh dimakan rayap. Napasnya lemah satu-satu, matanya sayu, badannya miring ke kiri. Hanya lantai yang ia tatap-bersama matanya yang ber­de­katan tikar.

“Dasar nggak becus! Apa ini? kotoran di mana-mana!” suara itu beriringan dengan suara empasan bedak, minyak, dan kain handuk. Tepat di wajah Pur semua benda-benda itu mendarat bebas. Pur tak tinggal diam. Pur mengamuk sejadi-jadinya. Ia sapu bersih benda-benda di depan mata ber­kat tangannya. Cukup sekali sapu, benda-benda itu berserak tak tentu arah. Tubuhnya yang lemah, se­ketika mendapatkan kekuatan yang entah dari mana datangnya. Ia tak mampu me­nang­kap ba­yangan apa yang di depan matanya. Semuanya tampak meng­hitam. Seisi lemari dihan­cur­kan­nya, dibuang, dihempaskan, di­se­rak­­kan, juga ditendang tak karuan.

Wanita itu hanya bisa me­lon­go melihat suaminya bertingkah aneh seperti itu. Baru kali ini ia melihat suaminya mengamuk sejadi-jadinya. Padahal, yang ia kena—selama ini suaminya selalu menuruti apa yang dimintanya. Sementara Pur masih me­ng­ge­ra­ham seraya napasnya terengah-engah. Matanya masih merah, dengan sorotan masih tertuju pada wanita itu. Apa yang ada dipikiran Pur, seakan terbaca. Sempat menyurutkan mata wanita itu.

“Hei setan, aku sakit! Kalau hanya marah, aku juga bisa!” kata-kata itu seiringan mata yang menyorot tajam. Dari ujung je­marinya, menetes darah segar—bekas sayatan kaca cermin. Pur gemetaran, sekujur badannya memerah, wajahnya paling parah. Pur terus melihat wanita dan anak yang ada di gendongan. Wanita itu memeluk anak erat dan men­yembunyikan di belakang badan. Takut sewaktu-waktu Pur berbuat sesuatu padanya. Wanita itu me­mu­tuskan berlari ke kamar dan menguncinya. Sementara bayi itu menangis sekeras-kerasnya.

Pur kehilangan kekuatan se­ke­tika. Tubuh pucat itu kembali lemas dan bertambah-tambah. Matanya berkunang-kunang. Rebah adalah pilihan terbaik saat ini. Dalam mata yang terpejam itu, terdengar bunyi tangis wanita terisak-isak. Terus masuk ke telinganya hingga gelap men­yelimuti matanya. Suara itu lama-lama hilang bersama tubuh yang kehilangan cahaya.

***

Pur merasakan ada sesuatu yang mengusung tubuhnya. Se­saat, sudah banyak saja yang menggerayangi kepalanya. Ma­tanya dikejutkan rangkaian kata-kata-yang telah ditulisnya me­mukul-mukul kepala. Mereka adalah kata-kata yang berontak keluar dari kepala. Tak cukup demikian, mereka juga memijak-mijak kertas putih dalam ketikan. Seingat Pur, ia baru men­ye­lesai­kan bagian kaki cerpen. Oh, inilah bentuk kaki cerpen yang protes pada Tuannya. Sementara badan dan kepalanya belum usai. Mereka meneriaki Pur, minta diselesaikan bangunan tubuh dan kepalanya. Mereka juga ingin Pur segera bangun dan merangkai kata-kata guna membentuk bagi­an tubuh cerpen setelah itu. Apalagi mereka juga tak ingin Pur jatuh seperti saat ini.

Satu cerpen yang hendak selesai pun—bila tak segera di­selesaikan, akan mengusik ke­palanya. Pur mendengarkan jerit­an dari dalam kamar. Suara itu sudah biasa di telinganya. Se­sungguh­nya wanita itu tengah dijajah kaki cerpen lain yang selama ini tertinggal organ tu­buhnya. Bunyi benturan keras silih berganti, menghantam din­ding-dinding penuh warna merah. Hempasan turut menyertai kege­lapan kamar.

Tahukah Tuan? Pur kerap membuat cerpen sangat murka. Betapa tidak, siapa pun ingin seluruh bagian tubuhnya sem­purna. Bila itu tak terwujud, inilah satu dari cerita yang men­datangi penulis dan orang-orang di sekitarnya. Mereka minta diselesaikan seperti tubuh utuh penulisnya pula. Pur bangkit dan mendekati komputer itu. Di sana tersisa gambar kaki yang me­ng­hitam legam. Di sekeliling gambar itu, ada darah bercucuran, peng­galan tubuh manusia dimana-mana, juga rambut panjang milik wanita yang berserakan. Semacam suara mengerang masuk ke te­linga, memenuhi kepala, me­merah­kan telinga, melaju napas­nya, mempercepat detak jantung­nya, mengepal kedua tangannya. Merah bara mukanya. Aaarg­hhh....*

 

Cerpen Oleh: DODI SAPUTRA



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM