Dr. Juniator Tulius, Sosok Moderat yang Tetap Ngampung


Kamis, 23 Juni 2016 - 00:30:28 WIB
Dr. Juniator Tulius, Sosok Moderat yang Tetap Ngampung Juniator Tulius saat menjadi pembicara pada acara International Colloquium di Universitas Leiden Belanda, Oktober 2015 lalu.

“Tak dapat bangau terbang jauh dari kubangan. Karena sekalipun hujan emas di negeri orang, biarlah hujan batu di negeri sendiri. Sagu, tetaplah lebih nikmat daripada roti”.

26 tahun sudah dia meninggalkan tanah kelahirannya, sebuah pelosok bernama Muara Siberut di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Selama itu pula, doktor jebolan Universitas Leiden Belanda ini menghabiskan hari-harinya di negeri orang, mengenyam pendidikan, hingga akhirnya mendapat pekerjaan yang mapan.

Baca Juga : Berkat Bayar Listrik Awal Bulan, Rika Pun Pergi Umroh

Dia adalah Dr. Juniator Tulius, S.Sos, M.A, satu-satunya putra asli Mentawai penyandang gelar doktor, yang kini bekerja sebagai Research Fellow di Nanyang Technological University Singapore. Sepanjang perantauannya, tak satu dua pula negara yang sudah disinggahi lulusan S1 Antropologi Universitas Andalas Padang, tahun 2000 silam ini.

Perjalanan rantau pria kelahiran 24 Juni 1975 ini, dimulai ketika dirinya menamatkan pendidikan umum tingkat pertama di SMP Negeri Muara Siberut. Berbekal kebulatan tekad dan restu orangtua, tepat pada tahun 1990, Juniator akhirnya memutuskan merantau dan memilih untuk melanjutkan pendidikannya di Kota Padang. Dia tamat dari SMA Katolik Xaverius Padang pada tahun 1994, setelah sebelumnya sempat setahun di Kelas Persiapan khusus anak Mentawai, SMA Don Bosco.

Baca Juga : Tanggulangi Pengemis dan Gepeng, Dinsos Kota Padang Berikan Pelatihan Keterampilan

Meski terlahir dari keluarga sederhana, namun penekanan akan arti penting pendidikan, merupakan ajaran yang tak henti-hentinya ditanamkan oleh kedua orangtua Juniator. Maka tak heran, jika gelar doktor disandang peraih penghargaan “A Young Scientist and Environmentalist, In “Man and Biosphere Certificate (MaB)” granted by UNESCO Jakarta Office and LIPI (Indonesian Institute of Sciences) tahun 1999 lalu ini, diraihnya persis di usia yang masih relatif muda, yakni 37 tahun.

Jauh rantau, tingginya pendidikan dan saratnya pengalaman, sepertinya tak membuat sosok bersahaja yang selalu tampil sederhana ini, serta merta melupakan kampung halamannya. Setiap ada kesempatan, terutama saat mengisi waktu libur, Juniator selalu menyempatkan diri untuk mengobati kerinduan dengan menyilau tanah kelahirannya.

Baca Juga : 3.000 Dosis Vaksin Sinovac Sudah Sampai di Dharmasraya

Bagi mantan peneliti penuh pada Leiden Institute of Area Studies, the Faculty of Humanities - Leiden University di Belanda tahun 2003-2007 ini, Mentawai tetaplah surga dunia yang tiada tandingannya. Berjuta pesona dan keindahan alam yang memikat hati, tetaplah menjadi pemantik rindu yang selalu memanggilnya untuk pulang, pulang dan pulang.

“Ya, saya selalu rindu Mentawai, rindu jadi orang kampung. Tanah Sikerei selalu memanggil-mangil saya untuk pulang. Sekalipun hujan emas di negeri orang, biarlah hujan batu di negeri sendiri. Sagu, tetaplah lebih nikmat daripada roti,” ujar Junitor menjawab Haluan, Rabu (22/6).

Baca Juga : Menyigi Nagari Sungai Duo Dharmasraya, Nagari Statistik Pertama di Indonesia

Kecintaan Juniator terhadap kampung halamannya, memang tak perlu diragukan lagi. Tidak hanya rajin memberikan edukasi dan menyebarkan berbagai informasi kepada masyarakat Mentawai, baik yang ditemui secara langsung, maupun yang disampaikannya melalui sejumlah saluran media sosial dan informasi, Juniator di setiap kesempatan, juga tak bosan-bosannya ‘menjual’ Mentawai ke dunia luar melalui gelaran berbagai seminar.

Sesuai disiplin ilmu, latar belakang pendidikan dan pengalaman, berbagai sumbang saran, gagasan, ide dan pemikiran, juga tak habis-habisnya dituangkan Juniator sebagai wujud kontribusi nyata dan keikutsertaannya dalam sumbangsih membangun Mentawai. Namun anehnya, masih ada juga satu dua pihak yang mencibir, bahkan terkesan alergi dengan kritik membangun yang disampaikannya.

“Saya hanya ingin Mentawai lebih baik, lebih maju dan lepas dari status ketertinggalannya. Pembangunan harus merata. Masyarakat harus dilibatkan secara aktif, agar mereka juga bisa menikmati hasil dari pembangunan itu sendiri. Terpenting, kehidupan masyarakat harus lebih baik. Ini adalah sebagian dari mimpi-mimpi yang terus memanggil saya untuk pulang,” tandas Juniator.

Bak gayung bersambut, kerinduan demi kerinduan Juniator terhadap kampung halamannya, seperti mendapatkan respon khusus dari seantaro alam dan penduduk di Bumi Sikerei. Sentuhan tangan dingin Juniator lewat berbagai karya dan sumbangsih nyatanya untuk masyarakat dan daerah selama ini, seperti menuntut Juniator untuk bisa berbuat lebih.

Tak pelak, menyongsong helat Pilkada Mentawai yang sudah di depan mata, dukungan terhadap sosok yang digadang-gadang sebagai kandidat kuat calon Bupati Mentawai periode 2017-2022 itu, mulai mengalir deras dari berbagai kalangan di segala penjuru Mentawai, pun di perantauan. Oleh masyarakat, sosok Juniator diyakini akan membawa angin segar untuk perubahan-perubahan besar di Bumi Sikerei.

“Ya, sudah banyak yang menyatakan dukungannya kepada saya. Sebagai seorang yang dianggap layak oleh masyarakat, saya menyatakan mengapresiasi harapan banyak orang untuk maju di Pilkada Mentawai 2017 nanti. Dan jika memang Tuhan menghendaki, bersama-sama akan kita majukan Mentawai,” tandas Juniator. (**)

 

Laporan: RYAN SYAIR

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]