Kerupuk Sagu Mandiri

Pasar Bagus, Produksi Terkendala Mesin


Kamis, 23 Juni 2016 - 04:22:10 WIB
Pasar Bagus, Produksi Terkendala Mesin Martinis memasukkan kerupuk sagu yang ia produksi ke dalam plastik besar di rumahnya, Pilakuik Gunuang Sarik RT 01/ RW VI, belum lama ini. (RUSDI BAIS)

PADANG, HALUAN — Martinis memproduksi kerupuk sagu  rata-rata 40 pak per 10 hari. Satu pak ia jual Rp20.000. Kerupuk itu ia titipkan ke lebih dari 25 warung di Kota Padang. Harga eceran sejak setahun lalu ia tingkatkan menjadi Rp1.000 per bungkus. Pasar kerupuk tersebut bagus. Sayangnya, ia terkendal mesin untuk memproduksi lebih banyak.

“Peluang pasar masih ter­buka lebar. Pesaing tidak ba­nyak. Persoalan yang saya ha­dapi, selain belum memiliki mesin penggilingan, semuanya dikerjakan dengan tangan, juga belum punya mesin pengering. Untuk mengeringkan kerupuk mentah masih mengandalkan cahaya matahari. Kalau musim hujan, produksi langsung an­jlok,” ujarnya kepada Haluan di rumahnya, Pilakuik Gunuang Sarik RT 01/ RW VI,  Kecamatan Kuranji, Padang, belum lama ini.

Ia menceritakan, bila dua hari saja tidak kering dijemur, kerupuk akan berjamur. Kalau digoreng, rasa kerupuk tersebut berubah dan kerupuk banyak mengandung minyak. Oleh Kare­na itu, ia sangat membutuhkan alat pengering, sehingga ia bisa mengatur produksi, tidak lagi dipengaruhi oleh cuaca.

Ia memulai usaha tersebut dengan belajar membuat mem­buat kerupuk sagu dari familinya. Motivasinya belajar membuat kerupuk sagu adalah dengan niat menjual kerupuk tersebut untuk menambah penghasilan. Saat itu ia menjalankan usaha kecil-kecilan di rumahnya dengan menjual bermacam  makanan ringan yang dibuatnya, seperti rakik kacang, rakik maco dan bakwan. Akan tetapi, usaha itu tak berkembang.

Setelah belajar membuat ke­ru­­puk sagu, Martinis men­co­ba membuat sendiri kerupuk ter­se­but dengan modal yang di­mi­likinya. Pada 2014, ia mu­lai membuat kerupuk itu de­ngan satu  gantang tepung sagu. Dari tepung sebanyak itu, hanya dapat 3 pak kerupuk, setiap pak berisi 25 bungkus. Satu pak dijual seharga Rp10.000, yang ke­mudian ia titipkan di warung-wa­rung ter­dekat. Harga eceran di warung hanya Rp500 per bung­kus.

Sistem penjualan tidak tunai. Sepuluh hari kemudian baru dicek, apakah sudah terjual atau belum. Kerupuk sagu yang diba­yar hanya yang terjual. Sisanya sudah merupakan resiko, ter­paksa dibuang karena tidak bisa lagi diolah.

Setahun kemudian, ia me­ngem­bangkan pemasaran, se­iring dengan meningkatnya produksi. Kerupuk itu beri merek “Kerupuk Sagu Mandiri”. Seba­gian besar ia titipkan di warung lontong pagi karena kerupuk sagu sangat cocok dimakan dengan lontong.

Demikianlah ceritanya, hing­ga kini ia cukup banyak mem­pro­duksi kerupuk sagu. Namun, ia terkendala mesin yang tidak ia miliki untuk menambah pro­duk­si. (h/rb)




Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM