Kue Kering Rose Penuhi Kebutuhan Lebaran


Kamis, 23 Juni 2016 - 04:23:11 WIB
Kue Kering Rose Penuhi Kebutuhan Lebaran Anak-anak Roslaini, produsen kue Rose, Susan, Merry, Yani, Patricia dan Linda bersama produk kue Rose memperlihatkan kue Rose di rumah mereka, Jl. HOS Cokroaminoto No.75, Padang, Selasa (21/6). (ATVIARNI)

PADANG, HALUAN — Se­lama lebih dari 50 tahun, kue kering untuk Lebaran ber­merek “Rose” selalu dicari para pelanggannya. Setiap tahun pula, Roslaini, produsen kue tersebut, bersama anak-anak­nya sibuk membuat kue yang dipesan oleh para pelanggan.

Selama Ramadan, kesibu­kan Roslaini dan anak-anaknya memang seolah tak terben­dung. Mereka harus mengawal 30 pekerja yang membuat aneka kue kering. Kue yang banyak mereka buat adalah jenis kue yang sudah sangat lama, yang saat ini jarang dijumpai di pasaran. Dengan mempertahankan resep asli yang diperoleh Roslaini sejak zaman penjajahan Belanda serta menjaga kualitas dan cita rasa melalui bahan baku yang berkualitas, kue Rose selalu dicari dan bertahan hingga lebih dari 50 tahun.

Baca Juga : Wow! Punya PER Terkecil di LQ45, Seperti Apa Kinerja dan Kesehatan Keuangan SRIL?

“Kami mulai memproduksi kue ini sejak 1960. Jenisnya tidak terlalu banyak, di antara­nya kue semprit, kacang tum­buk, kue benang, kue dahlia, nastar, keju, skippy, cornflakes, spekulas, kue cherry, coklat chip, dan kue koya,” ujar Merry di rumahnya, Jl. HOS Cokroa­minoto No.75, Padang, Selasa (21/6).

Meski menggunakan ba­han-bahan berkualitas, namun har­ga jual kue Rose sangat terjangkau oleh berbagai kala­ngan. Dengan kemasan plastik seperempat kg, kue Rose dijual dengan harga Rp45 ribu hingga Rp55 ribu per kotak.

Baca Juga : Sinkronisasi Program Pertanian, Genius Umar Kunjungi UPT Balai Benih Induk di Padang

Semua kue kering tersebut diolah tanpa menggunakan bahan pengawet. Meski de­mikian, kue-kue itu tetap awet hingga berbulan-bulan. “Ra­hasianya ada pada cara pem­bakaran kue. Pembakaran kue Rose dilakukan dengan perno (bahasa sanskerta) yang berarti tungku (oven) batu yang sudah berusia sangat lama. Dengan menggunakan tungku ini, pem­bakarannya berlangsung sem­purna sehingga kue men­jadi kering dan renyah, serta tahan lama,” tutur Ferry Rusli, anak Roslaini didampingi anak yang lain, yakni Linda, Merry, dan Yani.

Linda menuturkan, kue tersebut dipasarkan di rumah tersebut dan ke berbagai toko yang menjual P&D serta oleh-oleh khas dari Padang. Bebe­rapa toko yang menjadi sasaran pemasaran tersebut, misalnya Toko Ayu, Christine Hakim, Tiki (Jl. Nipah), Sherly, Nan Salero, Toko Ida, dan Toko On. Produsen kue Rose juga ba­nyak menerima pesanan kue hingga ke Pekanbaru dan Su­ngai Penuh. Maka, wajar jika produksi kue Rose mencapai 9 ton untuk memenuhi kebu­tuhan selama Ramadan dan Lebaran.

Baca Juga : Merger Gojek-Tokopedia, Driver Yakin Orderan Makin Gacor

Pada umumnya, pelanggan mereka adalah pelanggan lama yang sudah turun temurun. “Mulai dari nenek, ibu bahkan cucunya ada yang jadi pe­langgan setia kami,” ujar Linda sambil mengungkapkan bahwa promosi kue Rose hanya ber­langsung dari mulut ke mulut, namun kue tersebut tetap dicari karena kualitas dan cita rasa yang selalu diper­tahankan. (h/atv)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]