Teknologi Pengendali Banjir


Jumat, 24 Juni 2016 - 05:25:04 WIB
Teknologi Pengendali Banjir Ilustrasi.

Hujan lebat disertai angin kencang yang mengguyur Kota Padang beberapa waktu lalu, mulai dari sejak kamis sore, 16 Juni hingga jumat, 17 Juni 2016 telah menyebabkan ribuan rumah terendam banjir dan longsor di beberapa titik.

Tercatat ada 10 kecamatan di Kota Padang yang terendam oleh banjir, yakni kecamatan koto tangah, Nanggalo, Ku­ranji, Bungus, Teluk Kabung, Lubuk Begalung, Lubuk Ki­langan, Padang Selatan, Pa­dang Timur, dan Padang Uta­ra. Selain bencana banjir, bencana tanah longsor juga terjadi di jalan yang meng­hubungkan Padang-Painan di kilometer 18.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq

Kepala badan penang­gulangan bencana daerah (BPBD) Sumatera Barat, Zul­fiat­no, mengatakan banjir merata terjadi di Kota Padang. Ketinggian genangan air di taksir 1,2 meter. Selain itu cuaca ekstrem juga melanda beberapa wilayah di Sumatera Barat, seperti Kabupaten Pa­dang Pariaman dan bagian pesisir.

Menurut kepala seksi ob­ser­­vasi BMKG stasiun Mete­ro­logi Minangkabau, inten­si­tas hujan mencapai 167 mili­meter dalam 3 jam (Tem­po, Kamis 16 Juni 2016) . Ting­ginya curah hujan juga telah menyebabkan 7 pener­bangan menuju Bandara Inter­nasional Minangkabau (BIM) di­alih­kan ke bandara Kuala Na­mu, Medan dan bandara Sul­tan Syarif Kasim II, Pekan­baru.

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

Setiap turun hujan disertai angin badai, hampir bisa di pastikan kota padang akan selalu di genangi oleh air yang tak di undang (banjir). Ber­bagai ulasan pun telah me­ngemuka ke ruang publik mencoba memberi analisa mengenai penyebab bencana tersebut. 

Virtous Setyaka (baca: mas vi) dalam tulisannya yang berjudul ‘’Penanggulangan Banjir di Kota Padang’’ (Pa­dek,18 Juni 2016) menjelaskan penyebab utama banjir di kota Padang adalah sistem drainase yang kurang baik. Pernyataan Mas vi ini di kuatkan melalui riset awal yang beliau lakukan melalui media sosial Black­berry Massanger pada hari Sabtu tanggal 28 Mei 2016.

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun (2): Kita Sungguh Perlu Bersatu

Mundur kebelakang, ala­san sistem drainase yang ku­rang baik juga pernah dikemu­kan oleh Mohammad Isa Gau­tama (baca: Bang MIG) dalam tulisan beliau pada kolom komentar koran Singgalang yang bertajuk ‘’Nasib Drainase Kita’’ (Singgalang, 17/10/2015).  Dalam tulisannya, bang MIG sempat melakukan survey kondisi drainase di beberapa sudut kota Padang. Terbukti, nyaris tak satu pun sistem drainase yang dalam keadaan layak dan siap untuk me­nampung air hujan atau air pasang.

Dalam tulisanya di media massa tersebut, kedua penulis ini juga memberikan sebuah win win solution penang­gulangan banjir di kota Pa­dang. Mas vi melalui tulisanya menekankan perlunya peme­taan secara tuntas penyebab banjir dan kemudian melalui pemetaan tersebut juga di rancang sistem penang­gula­ngan banjir dalam jangka pendek, menengah, dan pan­jang (Padek,18 Juni 2016).

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun(1) : Ekonomi Menyedihkan

Selanjutnya, bang MIG dalam tulisannya yang berta­juk ‘’Banjir, Wako, Kita’’ (Ha­luan, Jumat, 1 April 2016)  juga hampir berpendapat yang sama. Pem­ko harus meme­takan daerah mana yang pa­ling rawan, kemudian fo­kus­kan perbaikannya di situ yang meliputi pem­benahan, pele­baran serta pengerukan drai­nase sampai ke pelosok-pelo­sok, terutama daerah yang ke­tinggian tanahnya sangat ren­dah. Selain itu, bang MIG juga menyarankan untuk mengajak para ahli tata kota dan peren­canaan wilayah serta Lembaga Swadaya Ma­sya­rakat yang terbukti selama ini sangat concern terhadap an­caman bahaya banjir di kota Padang.

Melalui tulisan ini, saya mencoba memberikan pan­dangan saya untuk turut serta meramaikan diskusi publik tersebut dan sekaligus mem­bantu memberikan win win solution dalam mengatasi permasalahan bencana banjir yang terjadi di kota Padang.

Penggunaan Teknologi

Banjir yang terjadi pada setiap musim hujan  sudah menjadi peristiwa yang rutin terjadi di Kota Padang. Menu­rut hemat saya, bukan hanya permasalahan sistem drainase saja sebagai penyabab utama banjir di kota Padang. Keber­sihan selokan sebagai tempat lalu lalang air dan berku­rangnya atau menghilangnya  ruang terbuka hijau dan da­erah resapan air karena di sulap menjadi kompleks peru­ma­han mewah dan pusat-pusat perbelanjaan/pertokoan juga turut berkontribusi mem­per­buruk banjir yang terjadi di kota Padang.

Permasalahan banjir meru­pakan permasalahan yang harus segera ditangani dan di perlukan suatu upaya pe­nanggulangan secepatnya. Hal ini dilakukan agar banjir di Kota Padang menemukan so­lu­si yang tepat sehingga tidak terulang di ke­mu­dian hari. Mengingat kota Padang  me­rupakan ibu kota dan pusat pe­me­rintahan pro­vinsi Su­ma­te­ra Barat yang sekaligus me­rupakan ikon Ranah Mi­nang. Usa­ha-usaha untuk men­­cegah dan mengurangi akibat terjadinya banjir harus sesegera mungkin dilakukan. Karena banjir yang ber­ke­panjangan akan semakin me­rugikan banyak pihak, teru­tama manusia itu sendiri.

Terkait dalam upaya pe­ngen­dalian banjir, saya sendiri mencoba mengusulkan cara alternatif, yakni dengan peng­gunaan teknologi pengendali banjir dengan tujuan untuk mengendalikan aliran banjir yang semakin meluas.  Alter­natif teknologi pengedalian banjir merupakan upaya alter­natif terkahir yang dilakukan dalam penanganan masalah banjir setelah  sistem peren­canaan tata ruang kota, peng­hijauan, dan reboisasi tidak memberikan dampak yang banyak dalam pengendalian banjir.

Dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), maka sedikit banyak telah mem­bantu mengatasi perma­sala­han banjir. Dari sekian ba­nyak­nya teknologi pengen­dali banjir yang ada di dunia ini, Ada beberapa teknologi pe­ngen­dali banjir yang saya rasa cocok dengan kondisi geo­grafis kota Padang dan mung­kin bisa diterapkan untuk mengatasi masalah banjir di kota yang berjuluk kota beng­kuang ini. upaya pengen­dalian banjir melalui pe­manfaatan teknologi itu ada­lah sebagai berikut:

Pertama, dengan membuat lubang resepan biopori. Tek­nologi ini digunakan untuk kawasan perumahan dan pusat pertokoan/perbelanjaan yang merupakan perubahan tata guna lahan dari areal resepan menjadi kedap air. Teknologi lubang resapan biopori ber­fungsi untuk mengurangi limpasan air hujan dengan meresapkan lebih banyak volume air ke dalam tanah sehingga mampu memi­ni­malkan kemungkinan terja­dinya banjir.

Lubang resapan biopori  merupakan salah satu reka­yasa teknik konservasi air. Be­rupa lubang-lubang yang dibuat pada permukaan bumi yang berperan sebagai pintu masuk air hujan yang jatuh ke permukaan bumi.

Kedua ,menggunakan drai­nase  sumur resapan. Tek­nologi ini memanfaatkan ruang kosong di antara butir-butir tanah di atas permukaan air tanah untuk mengalirkan air hujan hingga ke muka air tanah. Dua syarat minimal yang diperlukan agar sistem sumur resepan bekerja adalah adanya ruang antara dasar sumur dengan muka air tanah dan permeabilitas tanah yang cukup. Teknologi ini cen­derung mudah untuk di apli­kasikan. Hal pertama yang harus diketahui adalah keda­laman muka air tanah dari permukaan tanah. Hal ini bisa diketahui dari kedalaman sumur di sekitarnya.

Ketiga, sistem sumur in­jek­si. Teknologi ini telah digu­nakan oleh pemerintah Jerman untuk mengolah na­tural re­source menjadi lebih berguna. Pada sistem ini air di­man­faatkan sebagai po­tensi dalam memperbaiki lingkungan, se­dang­kan pada waduk dan sod­den air yang melimpah di­alirkan kelaut secara Cuma-Cu­ma.

Keempat, pemanenan air hujan (rainwater harvesting). Upaya yang satu ini sudah diterapkan oleh nenek mo­yang bangsa Indonesia ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Konsep pemanenan air hujan adalah penerapan kon­sep detensi dan retensi, yaitu menahan atau menampung air hujan yang selanjutnya dise­rapkan ke dalam tanah. Tu­juan pemanfaatan kolam de­tensi dan retensi adalah untuk menurunkan puncak banjir dan memperbaiki kandungan air tanah suatu wilayah.

Selain upaya-upaya pe­ngendalian banjir dengan pemanfaatan teknologi, maka diperlukan pula pengendalian oleh manusia itu sendiri. Berpegangan pada pepatah petitih ‘’alam takambang jadi guru’’, maka keseimbangan antara manusia dengan eko­sistem alamlah yang menjadi kunci utama dari segala per­masalahan lingkungan. De­ngan menjaga dan memelihara alam, maka tidak ada dampak yang merugikan, baik itu un­tuk alam maupun manusia itu sendiri.

Dengan melakukan hal-hal positif di lingkungan kita, ma­ka kita dapat mambantu dalam mengatasi solusi keru­sakan lingkungan termasuk banjir. Misalnya dengan cara memfungsikan sungai dan selokan sebagaimana mes­tinya. Sungai dan selokan adalah tempat aliran air dan jangan sampai bertransfromasi menjadi tempat sampah. Me­nanam pohon dan tidak mene­bang pohon-pohon yang ter­sisa. Pohon adalah salah satu penopang kehiduoan di suatu kota.

Selain itu, pemerintah di­harapkan mengatur tata ruang kota agar sesuai dengan perun­tukan ruangnya dan mem­berikan sanksi yang tegas ter­hadap pembangunan liar yang menyebabkan penyem­pitan ruang terbuka hijau dan pe­nyempitan aliran sungai. Di­tengah pesatnya pertum­buhan pembangunan dan pe­re­kono­mian kota Padang, Pe­merintah Kota Padang ditun­tut untuk mampu berinovasi mem­beri­kan terobasan-tero­basan baru yang berwawasan lingkungan dalam mengawal pem­bangu­nan di wilayahnya. ***

 

AGUNG HERMANSYAH
(Analis Hukum Teknologi dan Informasi Fakultas Hukum Unand, Padang)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 04 Januari 2021 - 09:37:20 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq

    Prabowo dan Habib Rizieq Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Kamis, 31 Desember 2020 - 20:46:02 WIB

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam TAHUN 2020 segera akan berakhir. Tahun 2021 segera akan tiba. "Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal tahun kelam. Selamat tinggal tahun yang penuh dengan kepahitan hidup. .
  • Senin, 28 Desember 2020 - 14:48:33 WIB

    Catatan Akhir Tahun (2): Kita Sungguh Perlu Bersatu

    Catatan Akhir Tahun (2): Kita Sungguh Perlu Bersatu DARI pengalaman kita selama di tahun 2020 yang nyaris tak berhenti hidup dalam pertengkaran, hidup dalam perseteruan politik dan hukum yang berkepanjangan, sudah selayaknyalah kita mengubah pola hidup begini kepada pola hidup.
  • Ahad, 27 Desember 2020 - 21:15:22 WIB

    Catatan Akhir Tahun(1) : Ekonomi Menyedihkan

    Catatan Akhir Tahun(1) : Ekonomi Menyedihkan Begitu wabah Corona atau Covid-19 dinyatakan mewabah di Indonesia pada bulan Maret lalu, ekonomi langsung anjlok, karena kegiatan pasar langsung stagnan tiba-tiba. Pasar banyak yang ditutup. Mulai dari kegiatan pedagang kaki .
  • Jumat, 25 Desember 2020 - 13:51:03 WIB

    Pendukung Sandiaga Uno: Di Sana Engkau Tersenyum, di Sini Kami Menangis

    Pendukung Sandiaga Uno: Di Sana Engkau Tersenyum, di Sini Kami Menangis Sebagaimana kita ketahui, mantan Calon Wakil Presiden(Cawapres) Sandiaga Uno baru saja dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) bersama 5 orang Menteri lainnya, hasil reshuffl.
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]