Foto


Sabtu, 25 Juni 2016 - 02:37:30 WIB
Foto Ilustrasi.

Aku sedang menjalani liburan ke luar kota ketika sahabatku, Selfi, dikabarkan meninggal se­cara tragis. Selfi meninggal karena jatuh dari atas gedung lantai tiga belas. Kata saksi yang sempat menyaksikan kejadian tersebut, pagi itu Selfi sedang asyik me­ngam­bil foto dirinya dari puncak gedung. Sendirian. Lalu, entah terpeleset atau didorong jin, tiba-tiba Selfi terjatuh dan meng­hempas ke lantai dengan begitu sadis. Darahnya bergelimangan di permukaan aspal. Beberapa tu­lang­nya dinyatakan patah serius. Selfi meninggal di tempat.

Selfi memang seorang gadis yang narsis. Dia juga pemberani. Dan, kadang nekat. Usianya yang masih labil mungkin menjadi salah satu penyebab kenapa dia bisa begitu. Walau bagaimanapun, Selfi adalah anak yang periang. Dia juga penyayang kepada bany­ak orang. Tapi, sayang dia telah berpulang dengan tidak tenang. Selfi yang malang. Dia akan selalu kukenang. 

Dua hari sesudah kabar duka itu datang aku kembali pulang ke kotaku. Hari itu juga aku langsung pergi ke rumah mendiang. Di halamannya tenda hitam masih berdiri menyambut pelayat. Suasa­na kematian terasa merasuk di ambang pintu. Aku mem­berani­kan diri masuk ke dalam. Tanpa bisa kutahan, aku menangis lagi.

***

Hujan turun dengan deras. Aku dan adikku sedang di kamar ber­main komputer. Kami ingin men­yalin foto-foto selama per­jalanan di luar kota. Sangat bany­ak sekali momen yang kami foto selama liburan. Satu per satu kuamati foto itu sambil me­nging­at-ingat kembali suasana tempat­nya. Adikku antu­sias sekali mal­am itu, meskipun di luar deru hujan dan gemuruh senan­tiasa mengamuk. Dia selalu beru­saha menceritakan setiap foto yang terdapat potret dirinya. Dengan lapang dada aku pun me­ladeni kegirangannya sambil terus ter­senyum.

Tapi, senyum itu akhirnya hilang ketika sebuah foto tiba-tiba mencuri perhatianku. Foto itu foto diriku saat sendirian di kamar hotel. Foto yang berlatarkan jendela itu di balik kacanya ada bayangan seseorang yang seakan ingin mengintip. Tidak begitu jelas. Terlalu samar. Aku mencoba memperbesar foto itu.  Tapi, masih juga belum jelas. Dari rupa-rupanya bayangan itu seperti sesosok perempuan. Berambut panjang.

Permasalahannya, kenapa ora­ng itu bisa berada di sana. Di balik jendela itu tak ada ruangan lagi. Kamarku juga berada di lantai empat.

Sebelum pikiranku dipenuhi hal-hal negatif aku segera meng­ganti foto itu dengan foto berikut­nya. Untungnya adikku tak sem­pat menyadari kejanggalan di dalam foto tadi. Dia tidak begitu peduli dengan foto-foto yang tak melibatkannya. Hanya saja aku mulai gelisah.

Aku semakin gelisah ketika satu lagi foto janggal terpampang di depan mata. Foto saat aku berdiri sendirian di pinggir jalan. Lagi-lagi ketika sedang sendiri. Dalam foto itu ada sebatang pohon di kejauhan–sekitar lima puluh meter dari tempatku ber­diri. Seseorang berdiri di bela­kang­nya. Badan bagian kirinya terpotong oleh batang pohon. Lalu, sebagian kakinya juga tertutup oleh pagar pembatas jalan. Entah kebetulan atau tidak, dia sedang meng­hadapkan wajah­nya ke arahku. Aku ingin mem­per­besarnya, tapi tidak jadi. Aku takut nanti adikku menanyakan hal-hal yang tak bisa kujawab. Akhirnya foto itu dilalui saja dahulu. Aku berusaha me­nenang­kan diri.

Belum selesai pikiranku mem­pertanyakan foto-foto janggal tadi, adikku mencegatku pada sebuah foto ketika kami sedang bersama.

“Tunggu, Kak! Ini tangan siapa?” tanyanya sambil me­nunjuk layar; gambar sebuah tangan di atas pundak kananku. Dalam foto itu hanya ada aku, ibu, dan adikku. Aku berdiri di se­belah kanan ibu dan adikku di sebalah kirinya. Posisi kami rapat sekali sehingga tangan ibu me­rang­kul kami dari belakang. Tapi, yang jelas saat itu tangan ibu tidak sedang tarangkat. Kira-kira berada di pinggangku. Tak mungkin sampai ke atas pundakku.

“Hmm... iya ya.” Aku lalu men­coba mencari penjelasan yang bijak. Tapi, otakku tak men­dukung untuk berpikir jernih. Berbagai bayangan-bayangan mengerikan terlanjur merasuki ruang kendaliku. Aku sungguh ketakutan. Namun, masih berpura-pura tenang.

Mataku masih terpaku kepada potongan tangan itu. Pertanyaan adikku belum terjawab. Dia masih bolak-balik memandangiku dan layar komputer. Sejurus kemudian guntur meledak dan listrik padam. Semuanya mendadak gelap.

***

“Rin, kamu kenapa?” suara Dara mengusik lamunanku yang dari tadi entah ke mana-mana saja perginya. Dia baru saja memesan jus mangga dan nasi goreng. Matanya menyidikku dengan tajam ketika hendak duduk.

Aku memandanginya tanpa ekspresi. Aku tahu dia ke­bin­gung­an. Tapi, untuk sementara aku memilih diam. Kasak-kusuk di kantin siang itu membuat suasana menjadi tidak begitu aneh di antara kami.

“Kamu merindukan Selfi?” Dara kembali berusaha meng­gubris­ku. Tapi, lagi-lagi diam. Aku belum bisa mengucapkan sepatah kata pun. Dara mema­jukan wajahnya dan menatap mataku lebih dalam. “Aku juga, Rin. Tapi, kita harus bisa merela­kan takdir. Hidup harus terus berlanjut. Jangan sedih lagi....”

Aku mengangguk kecil dan tersenyum tipis kepada Dara. Dia pun membalas dengan senyuman lebar yang selalu menyejukkan. Masalah kematian Selfi memang sangat memukulku  akhir-akhir ini. Apalagi saat berada di sekolah, di mana kami sering bertemu dan berbagi cerita. Tapi, sebenarnya ada masalah lain yang mem­buatku menjadi hilang gairah hari ini. Foto-foto liburan tadi malam.

Pesanan Dara datang. Mu­lutnya mulai diam–sibuk me­nguny­ah nasi goreng sambil terus mengawasiku. Untaian denting sendok yang beradu dengan piri­ng mengisi kekosongan komu­nikasi kami untuk sementara.

Setelah cukup lama me­nim­bang-nimbang kegelisahan yang ingin kusampaikan, aku siap untuk bicara. “Ra,” suaraku se­benar­nya pelan, tapi Dara meres­ponnya seperti orang yang di­panggil dengan berteriak.

“Ya?” Badannya ditegakkan. Mulutnya masih mengunyah pelan. Matanya berbinar dan telinganya menunggu kelanjutan kalimatku.

“Mungkinkah Selfi men­da­tangi­ku saat liburan kemarin?” nada suaraku ragu.

Dara tiba-tiba tersedak. Dia langsung menyedot jus mangga di sebelah piringnya dengan mata yang setengah terpicing menahan penjanggal di kerongkongannya.

“Siapa tahu dia ingin me­ne­muiku untuk yang terakhir kali­nya,” aku melanjutkan. Tidak peduli dengan kekagetan Dara.

“Kenapa kamu bisa berpikiran begitu?” bicaranya masih ter­sedak.

“Aku....” Sebenarnya aku ingin menyampaikan masalah foto-foto liburan itu kepada Dara. Tapi, entah kenapa niat tersebut malah mundur. Mungkin aku telah salah prasangka kepada foto-foto itu.

“Aku yakin Selfi menyayangi­ku.” Akhirnya aku beralih sekena­nya.

“Ya, pastilah Karin.” Raut wajah penasaran Dara mulai hi­lang. “Memangnya kamu punya masalah yang belum kelar dengan Selfi?”

“Tidak,” jawabku cepat. Aku akhirnya menyerah dan kembali diam. Rasanya lebih baik diam. Arus pikiranku sedang be­ranta­kan.

Entah berapa lama hening me­magari kami. Dara telah selesai makan. Dia masih mengawasiku dengan sorot mata aneh. Seperti ada yang salah saja dengan diriku. Mungkin memang begitulah fak­ta­nya.

“Rin,” akhirnya Dara me­negur­ku. “Tolong simpan dulu kesedihan­mu. Sebentar lagi kita akan menga­mbil foto kelas.” Kami berdua bangkit dan berjalan menuju kelas. Kakiku melangkah di antara lamun­an yang tak ber­kesudahan. Masih diam. Dara berjalan sedikit men­dahului; aku di belakang me­ngikuti. Ini tak seperti biasanya.

***

Semua teman sekelasku telah berkumpul. Guru kami, Pak Her­man, sedang berbincang-bincang dengan sang fotorgrafer, Pak Edo, yang masih sibuk menyiapkan kamera dan tripodnya. Aku di sudut ruang mengamati dinamika yang berlangsung. Ada yang kurang rasanya. Selfi.

“Rin, hanya untuk beberapa menit saja. Tolong....” Dara masih melihat kesalahan di ekspresi wajah­ku. “Simpan dulu sedihmu. Ok?” pinta Dara sekali lagi. Tepatnya untuk yang terakhir kalinya hari itu. Lalu, Dara pergi. Meninggalkanku yang tak ber­geming.

Sejurus kemudian kami mem­bentuk formasi di depan kamera. Jumlah keseluruhan murid di kelasku adalah tiga puluh orang. Formasi itu terdiri dari dua saf. Bagian depan duduk di kursi, sedangkan bagian belakang ber­diri. Pak Herman mengarahkan posisi kami sebelum kemudian masuk ke dalam formasi yang berdiri. Posisi paling tengah.

Aku berada di posisi paling ujung sebelah kanan. Berdiri. Awalnya ini bukanlah kehendak Pak Herman. Dari awal pem­bentu­kan formasi aku telah berdiri di posisi itu. Dan, Pak Herman tak melihat ada yang salah di sana. Aku bersyukur. Aku sedang merasa tidak percaya diri.

Dara berada dalam deretan siswa yang duduk. Paling ujung sebelah kiri. Sesekali dia be­rusaha mengecek ekspresiku. Melongok untuk menjangkau pandangan. Aku masih tidak peduli. Setelah itu, tak terlihat lagi sorot mata Dara ke arahku.

Persiapan terakhir telah se­le­sai. Pak Edo mulai memasukkan pandangannya ke dalam lensa kamera. Membidik. Kami men­coba untuk setenang mungkin. Mematung. Ada keheningan sejenak. Kecuali aku, semua murid memasang wajah berseri.

“Yang di pojok tolong lebih merapat,” pinta Pak Edo tiba-tiba. Tangannya mengarah kepa­daku. Sebenarnya tidak tepat ke arahku. Aku bergeser sambil menunjuk diri untuk me­masti­kan.

“Bukan kamu. Yang di se­belah­nya.” Pandangan Pak Edo masih di dalam lensa kamera. Aku mulai kebingungan. Yang di sebelahku?

Mungkin karena sedikit ke­sal akhirnya Pak Edo menge­lurakan pandangannya dari da­lam lensa kamera. Dia menga­rahkan sorot matanya ke arahku. Bukan. Ke arah di sebelahku. Saat itu juga dia terkejut. Aku makin terheran. Semua terheran.

Tanpa sempat berkata-kata, cepat-cepat Pak Edo kembali me­masukkan pandangannya ke dalam lensa kamera. Ekspresi wajahnya mengisyaratkan ada rasa ke­tidak­percayaan. Aku tiba-tiba merasa ada yang ganjil. Keganjilan yang meng­genapkan segala keganjilanku beberapa waktu belakangan ini.

Pak Edo kembali menge­luarkan pandangannya dari da­lam lensa. Keningnya telah ber­kerut dan matanya dihinggapi kecemasan. Dia melihat gambar di dalam lensa lagi. Lalu, men­dadak terjatuh. Pingsan.

 

Cerpen Karya: RIKI FERNANDO

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]