Saluran Pipet, Drainase Mampet


Sabtu, 25 Juni 2016 - 02:45:27 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Saluran Pipet, Drainase Mampet BANJIR terparah menerjang Komplek Perumahan Adinegoro Indah, Kota Padang. Seorang warga terpaku menyaksikan kondisi rumahnya yang terndam air.

Setiap kali hujan le­bat dalam durasi la­ma, maka Kota Pa­dang dipastikan ak­an kebanjiran. Tak tanggung-tanggung, ban­jir menyebabkan aktivitas di ibu kota provinsi ini, lumpuh. Tak ada akses jalan terutama di pusat kota yang bisa dile­wati.  Semuanya direndam banjir.

“Banjir Kamis (16/6) lalu, seluruh kecamatan direndam banjir. Sembilan kecamatan diantara mengalami dampak cukup parah, kecuali Kuranji dan Pauh. Karena itu, kita tetapkan Padang darurat ban­jir,” kata Kepala BPBD Padang, Rudy Rinaldy.

Peristiwa berulang ini se­per­tinya belum bisa diatasi Pemko Padang. Banyak pihak menyebut, banjir itu di­sebab­kan drainase kota yang jelek. Karena sejumlah ruas jalan utama, drainasenya banyak tersumbat.

Setali tiga uang dengan pemukiman. Komplek peru­ma­han yang dibangun pe­ngem­bang, juga minim drai­nase. Jika pun ada, ukurannya sangat mini. Sebagian lainnya, tak terawat, penuh sampah dan terjadi pendangkalan.

Drainase Tersumbat

Hal itu tak dibantah Rita, warga Kompleks PGRI Gu­nung Pangilun, Padang. Saat hujan lebat Kamis (16/6) lalu, rumahnya kebanjiran. Karena rumahnya lumayan tinggi, maka air yang masuk hanya sejengkal. Di jalanan kom­plek, air sudah mencapai lutut orang dewasa.

“Drainase tak mampu me­nam­pung air hujan sehingga meluber ke jalan dan me­ma­suki rumah warga,” katanya.

Menurutnya, jalanan kom­plek itu memiliki drainase pada setiap sisinya. Dulu, biasanya warga selalu beriuran dan gotong royong mem­ber­sih­kan drainase. Namun be­la­kangan ini, aktivitas itu sudah jarang dilakukan.

Dari pantauan Haluan, pada beberapa titik tebing bandar itu sudah runtuh dan materialnya masuk ke aliran air. Akibatnya terjadi pen­dangkalan. Rumput juga mulai tumbuh. Ditambah lagi sam­pah yang dibuang ke selokan.

Hal senada disampaikan warga Kompleks PGRI lain­nya, Eva Suryani. Lebih parah lagi, Eva selalu kebanjiran setiap hujan lebat. Tinggi air dalam rumah mencapai 50 cm. Diduga drainase jalan dekat rumahnya tersumbat oleh material pekerjaan pem­bangu­nan gedung Kejaksaan Negeri Padang beberapa waktu lalu.

“Sekarang, kami rutin di­lan­da banjir. Hal ini di­sebab­kan drainase tersumbat diduga akibat material bangunan yang masuk aliran air,” katanya.

Masalah ini, lanjutnya, sudah disampaikan warga ke pihak kejaksaan. Namun pi­hak kejaksaan minta laporan resmi warga ke Pemko Padang yang tembusannya ditujukan ke Kejaksaan Negeri Padang. 

Bandar Sangat Kecil

Derita serupa dialami war­ga sejumlah kompleks pe­rumahan di Kecamatan Koto Tangah. Banjir Kamis (16/6), bukan musibah pertama bagi mereka. Pada 24 Maret lalu, warga juga kebanjiran.

“Kalau banjir Maret lalu, ketinggian air mencapai 2 meter. Sedangkan banjir 16 Juni, tinggi air sekitar satu meter,” kata Indra Sakti Nauli, warga Kompleks Perumahan Adinegoro Indah, Kelurahan Batang Kabuang Gantiang, Koto Tangah.

Tah hanya Kompleks Pe­rumahan Adinegoro yang ban­jir, tetapi kompleks ber­se­be­lahan seperti Perumahan Bun­da, Taman Bunga, Kharis­matama dan lainnya juga banjir. Penyebab utama banjir karena curah hujan tinggi, sementara bandar di kom­pleks perumahan itu kecil.

“Ditambah pula saluran pembuangan akhir tidak per­manen, dangkal dan ditum­buhi semak. Saluran  pem­buang­an akhir di jembatan kereta api sebelum Pasar Lu­buk Buaya, Simpang Kalum­pang, perlu dinormalisasi,” pintanya.

Bagi Indra, kesedihan tidak saja karena barang-barang di kediamannya rusak berat. Te­tapi juga karena PAUD/TK Islam Smart di Perumahan Cendana Mata Air, Kecamatan Lubuk Begalung yang dike­lolanya, juga terkena banjir.

“Gedung TK juga ke­banjir­an. Seluruh dokumen pen­didikan, barang-barang dan alat kebutuhan murid TK habis terendam. Ketinggian air kurang lebih satu meter,” katanya.

Meski demikian, ke depan dia berharap, Pemko Padang serius  menangani ma­salah banjir ini. Per­bai­kan riol dan pengerukan muara sungai harus jadi prioritas. 

“Untuk apa trotoar cantik, kalau saluran pembuangannya jelek,” kata Indra.

Bukan Sekedar Musibah

Lain lagi cerita War­ga Kompleks Kuala Nyi­ur II, Pasie Nan Tigo, Koto Tangah. Sepanjang 20 tahun terakhir, ka­wasan itu tak pernah di­landa banjir. Pertama kali banjir menyapa war­ga setempat 23 Maret lalu dan disusul Kamis (16/6).

“Sebelumnya, meski curah hujan cukup tinggi tetapi tidak sampai me­ren­dam rumah ma­sya­rakat,” sebut warga se­tem­pat, Nasrul Azwar.

Ketinggian air di ru­mah warga saat banjir Maret, men­capai 75 cm. Kala itu, nyaris semua rumah dimasuki air.

Di kompleks itu ada ban­dar yang mengalir membelah sejumlah komplek pe­mu­ki­man warga, seperti Kompleks Kuala Nyiur II, Singgalang, Jihad, Permata Biru, dan Pa­lapa. Bandar selebar 2 meter dengan kedalaman 1 meter, adalah satu-satunya tempat bermuaranya air hujan.

“Banjir yang terjadi me­mang masif, tetapi bukan berarti “dipasrahkan” sebagai musibah dan cobaan,” ujar Nasrul Azwar.

Pemko Tidak Serius

Menurut Nasrul, banjir ini terjadi merupakan ke­tidak­seriusan pemerintah dalam membenahi saluran air, daerah aliran sungai, dan makin berkurangnya resapan air di Kota Padang karena terdesak pengembangan pemukiman. Drainase yang ada kian tak terurus.

Malah, ada drainase dan riol diperbaiki tapi saat hujan lokasi itu menjadi banjir. Ini bisa lihat di Jalan Veteran, Padang. Sebelumnya, tak per­nah banjir saat hujan turun. Tapi setelah diperbaki, malah kawasan itu menjadi banjir.

“Sebabnya, saluran drai­nase dan riol diperkecil. Saya tak mengerti mengapa saluran itu diperkecil sesuai dengan lebar batu cetakan saat mem­bangun,” ujar Nasrul Azwar.

Selanjutnya masalah izin bagi pengembang. Pemko Padang mengeluarkan izin sepertinya tidak mem­pe­r­tim­bangkan dampak negatifnya sepertinya hilangnya resapan air, lahan produktif yang dijadikan pemukiman, dan seterusnya.

“Kami minta Pemko mela­kukan kaji ulang dan menge­valuasi izin-izin yang diberi­kan. Pemko juga harus tegas terhadap pengembang untuk menyediakan drainase stan­dar,” katanya.

Selanjutnya, tambah Nas­rul, masyarakat juga harus diberi kesadaran terkait deng­an pembuangan sampah di saluran air.   

Selain itu, Pemko juga harus mengakolasikan ang­garan yang cukup untuk peng­galian dan pelebaran muara sungai. Ada banyak muara sungai di Padang ini yang tak pernah dikeruk dan diperlebar.

“Contohnya, sungai yang tak jauh dari Simpang Ka­lum­pang, Lubuk Buaya. Daerah aliran sungai itu sudah men­yempit dan akan meluap jika hujan turun di hulunya. Hal ini menyebabkan banjir di kiri kanan aliran sungai. Ini harus dibersihkan,” tandasnya.

Segera Normalisasi

Harapan yang sama di­sam­p­aikan Indra Sakti Nauli, agar Pemko Padang benar-benar serius menangani banjir ini. Jangan sampai terulang kali. Cukup banyak kerugian harta benda yang harus ditanggung masyarakat akibat banjir itu.

“Bandar yang tersumbat atau rusak, saluran pem­buang­an akhir yang tidak permanen, dangkal dan ditumbuhi se­mak, harus diperbaiki segera,” ujar Indra.

Sebelumnya, Pemko sudah berjanji untuk menyegerakan normalisasi saluran itu. Tapi sampai sekarang ceritanya hilang dibawa angin. Hendak­nya itu jadi prioritas Pemko ke depan. “Kalau tidak, kami tetap marasai ketika curah hujan tinggi,” ujarnya. (h/*)

 

Laporan: DEVI/HUDA



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM