Pasie Nan Tigo, Kawasan Wisata yang Tenggelam


Sabtu, 25 Juni 2016 - 02:47:23 WIB
Pasie Nan Tigo, Kawasan Wisata yang Tenggelam OBJEK wisata Pasie Nan Tigo kini tinggal kenangan. Abrasi pantai menyebabkan daratan terus tergerus. Bahkan ombak sudah menyentuh sudah warga. (ANGGA)

Dulu, jika orang Padang membincangkan Pasie Nan Tigo, terlintas dibenak me­reka ada suasana riang nan menawan di tepi pantai. Para wisatawan bersahutan dan riuh sembari menikmati indahnya mentari terbenam kala sore hari. Di tepi pantai, berjejeran lapak dan dangau bagi mereka yang ingin bersantai ria. Di Pantai Pasie Nan Tigo ini, Kota Padang pernah menggantungkan harapannya untuk sektor pariwisata setelah Pantai Padang.

Kini, pesona dan ke­molekan Pasie Nan Tigo telah tiada. Indahnya ke­perawanan pantai Pasie Nan Tigo telah terenggut oleh abrasi yang setiap tahun datang dengan semena-m­e­na. Bangunan dan pohon kelapa tempat wisatawan bersandar, kini telah menjadi terumbu karang. Eksotisnya Pasie Nan Tigo kini hanya tinggal kenangan. Erosi pantai memaksa Pasie Nan Tigo kian terjepit dan ter­kikis.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq

Mak Apuak (68), salah satu pribumi Pasie Nan Tigo me­nuturkan, dulu Pasie Nan tigo adalah tujuan wisata orang Pa­dang. Di sini para anak muda menghabiskan waktunya untuk memadu kasih. Bahkan sering juga anak-anak sekolah dari luar daerah datang untuk jalan-jalan. Keramaian Pasie Nan Tigo begitu jaya kala tahun 70-80an.

“Jika kita membicarakan du­lu, Pantai Pasie Nan Tigo ini jadi tujuan wisata orang Padang. Bahkan banyak juga wisatawan dari luar daerah yang kesini. Tapi itu dulu, sekitar tahun 70-80an,” kata Mak Apuak kepada Haluan.

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

Sekarang lapak-lapak, pohon kelapa, dangau, dan arena bermain yang didiri­kan dulu telah berada di tengah laut. Abrasi pantai yang melanda Pantai Pasie Nan Tigo semenjak tahun 90-a hingga seka­rang, telah menenggelamkan daratan Kota Padang sekitar 50-60 meter.

Bahkan pada rentang tahun 2011 hingga saat ini, abrasi sudah merengut 20 meter daratan Pasie Nan Tigo. Masyarakat di sana sekarang ini hanya menanti ru­mahnya ditenggelamkan oleh waktu.

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun (2): Kita Sungguh Perlu Bersatu

“Setiap tahun terjadi pe­ngi­kisan oleh air laut. Abrasi pantai ini mulai parah semenjak tahun 1992. Pada abrasi 2011, warung saya yang berada 20 meter dari bibir pantai, sudah tidak terlihat atapnya sekarang. Sudah jauh air laut memakan daratan. Sekarang warga sini hanya menunggu waktu untuk tenggelam,” kata Mak Apuak lagi.

Hal senada dikatakan Basri (68). Dia masih mengingat ke­nangan lama Pantai Pasie Nan Tigo yang penuh dengan hiruk pikuk keramaian. Sekarang ini sudah sunyi senyap dibayang-bayangi gelapnya malam di te­ngah lautan.

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun(1) : Ekonomi Menyedihkan

Jika berdiri dibibir pantai, deburan ombak hanya menambah kepiluan. Pasalnya, bapak tiga anak ini tak hanya kehilangan kenangan indah bersama Pantai Pasie Nan Tigo, namun rumahnya juga telah tergerus oleh fenomena alam ini.

“Dulu banyak pribumi setem­pat menggantungkan hidupnya di pantai ini. Sejak abrasi menggila dan daratan kian hilang, disitu juga mata pencaharian ratusan pribumi hilang. Lapak dan wa­rung yang didirikan telah hilang. Bahkan rumah yang berdiri di tepi pantai juga sudah hilang. Ter­masuk rumah saya,” katanya.

Sekarang, suasana Pasie Nan Tigo hanya dimanfaatkan oleh masyarakat yang rumahnya masih belum terkena abrasi. Rata-rata mereka adalah nelayan yang menggantungkan hidupnya di lautan. Bukan lagi pedagang yang mengharapkan rejeki dari wisat­awan. Disini, suasana sepi sudah menjadi keseharian. Keramaian sudah tak lagi dijumpai, hanya kenangan yang masih membekas dipikiran para tetua pribumi.

674 Rumah di Zona Merah

Sementara itu Lurah Pasie Nan Tigo, Alizar menyebut, seba­nyak 674 rumah yang dihuni 1.164 KK berada di zona merah dan ber­potensi tergerus abrasi dalam 5 tahun ke depan. Pasal­nya, jarak antara bibir pantai dengan rumah hanya berkisar 3-7 meter.

“Kami sudah mendata di se­pan­jang Pantai Pasie Nan Tigo mulai dari Ujung Batu hingga Muaro Anai. Seluruhnya ada 674 rumah yang berada di Zona Me­rah. Jarak hanya berkisar 3-7 meter dari pantai,” kata Alizar.

Ia juga mengatakan, memang dalam beberapa tahun terakhir ini gerusan pantai cukup tinggi sehingga banyak rumah yang terkena imbas abrasi. Bahkan pada tahun 2016 ini sudah ada 12 rumah yang hancur diterjang ombak. Dalam waktu dekat ini ada 24 rumah yang akan rusak karena ombak sudah sering sampai ke dinding belakang rumah.

“Kasihan penduduk di sini. Mereka hanya menunggu hancur saja. Ini jelas persoalan waktu. Pada 2016, sudah 12 rumah yang rusak. Disamping itu, 24 rumah lagi bakal mengalami nasib yang sama,” kata Alizar lagi.

Menanggapi pbrasi pantai ini, Walikota Padang, Mahyeldi Ansha­rullah menegaskan Pemerintah Kota Padang telah mengeluarkan instruksi kepada warga yang masih bermukim di tepi pantai agar men­cari tempat tinggal yang baru. Pasalnya, ancaman abrasi selalu menghantui Kota Padang setiap tahunnya. Atas dasar itulah, Pemko Padang tidak akan mengeluarkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) kepada warga yang ingin men­dirikan bangunan dalam radius 100 meter dari bibir pantai. (h/*)

 

Laporan : HAJRAFIV SATYA NUGRAHA

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 04 Januari 2021 - 09:37:20 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq

    Prabowo dan Habib Rizieq Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Kamis, 31 Desember 2020 - 20:46:02 WIB

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam TAHUN 2020 segera akan berakhir. Tahun 2021 segera akan tiba. "Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal tahun kelam. Selamat tinggal tahun yang penuh dengan kepahitan hidup. .
  • Senin, 28 Desember 2020 - 14:48:33 WIB

    Catatan Akhir Tahun (2): Kita Sungguh Perlu Bersatu

    Catatan Akhir Tahun (2): Kita Sungguh Perlu Bersatu DARI pengalaman kita selama di tahun 2020 yang nyaris tak berhenti hidup dalam pertengkaran, hidup dalam perseteruan politik dan hukum yang berkepanjangan, sudah selayaknyalah kita mengubah pola hidup begini kepada pola hidup.
  • Ahad, 27 Desember 2020 - 21:15:22 WIB

    Catatan Akhir Tahun(1) : Ekonomi Menyedihkan

    Catatan Akhir Tahun(1) : Ekonomi Menyedihkan Begitu wabah Corona atau Covid-19 dinyatakan mewabah di Indonesia pada bulan Maret lalu, ekonomi langsung anjlok, karena kegiatan pasar langsung stagnan tiba-tiba. Pasar banyak yang ditutup. Mulai dari kegiatan pedagang kaki .
  • Jumat, 25 Desember 2020 - 13:51:03 WIB

    Pendukung Sandiaga Uno: Di Sana Engkau Tersenyum, di Sini Kami Menangis

    Pendukung Sandiaga Uno: Di Sana Engkau Tersenyum, di Sini Kami Menangis Sebagaimana kita ketahui, mantan Calon Wakil Presiden(Cawapres) Sandiaga Uno baru saja dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) bersama 5 orang Menteri lainnya, hasil reshuffl.
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]