Menghadirkan Cinta Terhadap Anak


Sabtu, 25 Juni 2016 - 06:46:14 WIB
Menghadirkan Cinta Terhadap Anak Ilustrasi.

Kita seringkali melihat tawuran dan beragam kekerasan yang terjadi pada anak-anak kita. Baik sebagai korban maupun pelakunya. Apa penyebabnya, tentu ini pertanyaan yang menggelisahkan kita. Barangkali rasa cinta kita terhadap anak di keluarga semakin berkurang atau cinta kita tidak pernah kita wujudkan di keluarga dengan melakukan tindakan-tindakan berbentuk cinta dalam pendidikan anak kita.

Ada anak yang tanpa me­rasa bersalah melukai teman­nya, ada juga bahkan yang melakukan kekerasan seksual, ada yang menjadi pencuri dan beragam kenakalan lainnya. Kalau ditelusuri lebih jauh mereka adalah anak-anak yang memiliki materi yang cukup tapi karena kondisi lingkungan dan minimnya perhatian keluarga membuat mereka menjadi anak-anak yang liar.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq

Beberapa bulan yang lalu kakak ipar penulis men­ceri­takan kisah seorang anak sekolah dasar yang merokok dan mengajak anak-anak lain­nya untuk bersamanya, anak yang tidak mau merokok akan dijauhi dan dikucilkan. Bah­kan, ada juga yang dipukul akhirnya merokok juga karena takut dengan kawannya. Bera­gam aksi premanisme yang dilakukan anak juga semakin marak. Penulis menduga ada yang keliru dalam keluarga. Rasa cinta perlu dihadirkan selain kurangnya peran keluar­ga dalam mendidik anaknya. Seberapa bagus dan hebat sekolah bukanlah garansi atau jaminan bagi kita untuk mele­paskan tanggungjawab men­di­dik kita. Perlu disadari 80 persen waktu anak-anak kita sebenarnya ada dalam keluarga dan lingkungan tetangga bu­kan di sekolah. Sehingga, kita harus sadar betul bahwa se­berapa sibukpun keluarga

Optimalisasi Peran Keluarga dan Cinta Terhadap Anak

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

Menurut BKKBN (1999) keluarga adalah dua orang atau lebih yang dibentuk ber­da­sarkan ikatan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spritual dan materil yang layak, bertakwa kepada Tuhan, memiliki hu­bungan yang selaras dan se­imbang antara anggota keluar­ga dan masyarakat serta ling­kungannya. Sementara itu, me­nurut Sayyid Qutub dalam  fi zilal al-quran, keluarga meru­pakan mesin incubator (alat atau tempat yang mendukung pertumbuhan sesuatu) bersifat alamiah yang berfungsi me­lindungi, memelihara, dan mengembangkan jasmani ser­ta akal anak-anak yang sedang tumbuh. Dibawah naungan keluarga, rasa cinta, kasih sayang dan solidaritas saling berpadu. Dalam keluargalah individu menusia akan mem­bangun perwatakanya  yag has seumur hidup.

Berpijak dari definisi ter­se­but, terbukalah pikiran kita bahwa begitu pentingnya pe­ran keluarga dalam pendi­di­kan anak. Hari ini kita bisa melihat ada beragam kena­kalan dan penyimpangan yang dilakukan oleh anak. Secara umum, keluarga memi­liki beberapa fungsi dian­ta­ranya, fungsi agama, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi dan peme­liharaan lingkungan.

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun (2): Kita Sungguh Perlu Bersatu

Nah, kita bisa melihat dari fungsi-fungsi itu. Apakah keluarga kita sudah optimal dalam menjalankan fungsi-fungsi yang ada. Kalau mau jujur kita belum maksimal atau optimal dalam meme­rankannya utamanya dalam masalah sosial dan mendidik anak. Kita terlalu sibuk dengan pekerjaan dan bisnis-bisnis yang dimilki hingga kita lupa menjalankan apa yang sudah diamanahkan Tuhan kepada kita yaitu anak.

Percayalah, anak sangat merindukan kehadiran keluar­ga yang menjalankan fungsi-fungsinya bukan hanya seke­dar tanggungjawab materi. Nah, kalau kita sudah sadar apa yang harus kita lakukan untuk melakukan optimalisasi peran. Menurut hemat penulis paling tidak ada beberapa hal yang harus kita lakukan dalam rangka upaya optimalisasi tersebut. Pertama, mau tahu dengan apa yang dilakukan oleh anak-anak kita. Kita harus tahu dengan apa yang dilakukan oleh anak-anak kita seharian seberapa sibuk pun kita. Me­ngapa ha­nya de­ngan rasa ingin tahu yang kuat kita bisa memulai dari mana. Kita harus tahu de­ngan siapa anak kita bergaul dan ba­gaimana di sekolahnya. Tidak ada salahnya kita me­milah dan memilihkan teman untuk anak kita barangkali lewat temannya itulah kita bisa mendidik anak kita ka­rena ada sebagian anak yang mem­butuhkan perantara orang lain untuk tumbuh­kembangnya.

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun(1) : Ekonomi Menyedihkan

Kedua, menanamkan nilai-nilai kebaikan atau sikap yang baik. Kalau masalah kecer­dasan intelektual mugkin kita bisa mempercayakan seba­gian­nya ke sekolah tapi urusan sikap yang baik seperti keju­juran, kesopanan, rasa tang­gungjawab itu adalah peran keluarga. Nilai-nilai ini harus ditanamkan jika hal ini berha­sil ditanamkan penulis yakin anak-anak kita memiliki ka­rak­ter yang kuat. Tentu orang­tua harus menjadi contoh atau teladan dalam hal ini dengan meminimalis janji-janji yang tidak realistis untuk ditepati kepada anak. Berusaha sekeras mungkin untuk menyatukan kata dan perbuatan.

Ketiga, mendidik dan me­nyam­paikan segalanya dengan penuh rasa cinta.  Brian Terrisi seorang psikolog Amerika mengungkapkan ada empat cara untuk menyampaikan rasa cinta kepada anak yaitu, pertama berikan cinta sepe­nuhnya. Cinta yang tulus tidak bertolak ukur ia adalah pem­berian yang paling berharga yang layak didapatkan oleh setiap anak. Jangan pernah kita memberikan cinta karena ingin sesuatu itu tandanya kita belum mencintai anak. Jadilah orangtua yang mau men­tran­formasikan cintanya tanpa berharap imbalan seperti mem­­belikan buku dan menge­leskan anak berharap anak jadi juara. Itu berarti kita masih berharap imbalan. Ke­dua, berilah ciuman, dekapan dan belaian. Jarang orangtua yang menyadari pentingnya dekapan, ciuman dan belaian mereka kepada anak-anak. Menurut hemat penulis, me­nga­pa diluar sana banyak anak yang tawuran, ringan tangan dan beragam bentuk keke­rasan lainnya. Penulis hanya memprediksi barangkali ini karena minimnya dekapan dan ciuman yang dilakukan oleh keluarga dalam aspek pendidikan anak. Cobalah hal seder­hana ini.

Ketiga, tatapan mata, sa­yang­nya ketika orangtua me­na­tap mata anaknya ha­nya karena marah kepa­danya. Ja­rang antara ayah dan anak saling bertatap mata dengan penuh rasa cinta dan penuh kekaguman. Tatapan mata disini dimaksud adalah tata­pan mata penuh cinta dan kekaguman akan prestasi-pres­tasi anak. Keempat, per­­ha­tian khusus. Kita mung­kin lupa bahwa anak kita butuh perhatian. Ada ba­nyak masa­lah dalam hidup dan kehi­du­pan mereka.  Su­dah saatnya kita hadir ja­ngan sampai ke­mu­dian orang lain pula yang ha­dir pada saat anak kita meng­hadapi problem atau ma­salah. Bela­­jar­lah untuk mem­be­rikan per­hatian khusus ke­pada anak jangan biarkan juga anak curhat kepada orang lain.

Nah, mari bersama kita optimalkan peran kita sebagai orangtua atau keluarga. Se­moga kita bersama-sama bisa memahami bahwa keluarga tidak hanya sekedar mem­berikan materi kepada anak tapi punya fungsi lain yang sangat penting yaitu mendi­diknya menjadi orang yang sukses tidak hanya di dunia tapi di akhirat. Amin. ***

 

RAJA DACHRONI
(Pendiri Komunitas Keluarga Asmara (KKA))

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 04 Januari 2021 - 09:37:20 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq

    Prabowo dan Habib Rizieq Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Kamis, 31 Desember 2020 - 20:46:02 WIB

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam TAHUN 2020 segera akan berakhir. Tahun 2021 segera akan tiba. "Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal tahun kelam. Selamat tinggal tahun yang penuh dengan kepahitan hidup. .
  • Senin, 28 Desember 2020 - 14:48:33 WIB

    Catatan Akhir Tahun (2): Kita Sungguh Perlu Bersatu

    Catatan Akhir Tahun (2): Kita Sungguh Perlu Bersatu DARI pengalaman kita selama di tahun 2020 yang nyaris tak berhenti hidup dalam pertengkaran, hidup dalam perseteruan politik dan hukum yang berkepanjangan, sudah selayaknyalah kita mengubah pola hidup begini kepada pola hidup.
  • Ahad, 27 Desember 2020 - 21:15:22 WIB

    Catatan Akhir Tahun(1) : Ekonomi Menyedihkan

    Catatan Akhir Tahun(1) : Ekonomi Menyedihkan Begitu wabah Corona atau Covid-19 dinyatakan mewabah di Indonesia pada bulan Maret lalu, ekonomi langsung anjlok, karena kegiatan pasar langsung stagnan tiba-tiba. Pasar banyak yang ditutup. Mulai dari kegiatan pedagang kaki .
  • Jumat, 25 Desember 2020 - 13:51:03 WIB

    Pendukung Sandiaga Uno: Di Sana Engkau Tersenyum, di Sini Kami Menangis

    Pendukung Sandiaga Uno: Di Sana Engkau Tersenyum, di Sini Kami Menangis Sebagaimana kita ketahui, mantan Calon Wakil Presiden(Cawapres) Sandiaga Uno baru saja dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) bersama 5 orang Menteri lainnya, hasil reshuffl.
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]