Presiden Jokowi: Tembak Saja Pengedar Narkoba


Senin, 27 Juni 2016 - 06:02:48 WIB
Presiden Jokowi: Tembak Saja Pengedar Narkoba Pre­siden Joko Widodo.

Narkoba sudah masuk ke berbagai level masyarakat. Tiap hari 40-50 orang meninggal akibat kejahatan narkotik di Indonesia. Karena itu, Presiden Joko Widodo ingin pengedar dan bandar narkoba didor saja.

JAKARTA, HALUAN— Pre­siden Joko Widodo mengingin­kan tindakan tegas dari seluruh aparat keamanan terhadap pela­ku kejahatan narkotik, baik pengedar maupun bandar. Me­nu­rut Jokowi, kata-kata tidak diperlukan lagi untuk me­nangani perkara narkotik. 

“Saya tegaskan kepada se­mua polda, polres, kejar, tang­kap, hajar, hantam, dan kalau undang-undang memperbo­lehkan, dor (tembak) mereka (pelaku kejahatan narkotik),” kata Presiden Jokowi dalam acara Hari Anti-Narkotik Inter­nasional di Jakarta, Ahad (26/6).

Presiden Joko Widodo men­jelaskan bahwa tindakan tegas hingga melepas tembakan di­per­lukan karena efek narkoba tidak main-main. Per hari, kata Jokowi, 40-50 orang meninggal akibat penyalahgunaan narko­tik. Selain itu, kerugian negara akibat kejahatan narkotik men­capai Rp 53 triliun. 

“Dan kejahatan itu sudah masuk ke berbagai level di masyarakat. Di TK, SD, hingga dusun, saya dengar dari Kepala BNN, sudah ada korban anak-anak,” ujarnya. 

Terakhir, Presiden Joko Wi­dodo mengingatkan bahwa tin­dakan tegas harus diikuti dengan sinergi antarlembaga. “Jangan sampai larut dalam rutinitas sehingga lupa akan bahaya nar­kotik,” tuturnya. 

Ajukan Revisi UU

Terkait hal itu, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kom­jen Budi Waseso, mengaku akan segera mengajukan revisi Undang-undang (UU) agar ada ruang untuk melakukan penembakan di tempat.

“Soal penembakan di tempat itu akan kita kaji, akan kita revisi undang-undangnya. Kalau nanti sudah jadi, BNN dan jajarannya yang lain bisa menjalankan perin­tah Presiden sesuai dengan yang disampaikan,” ujarnya, ketika ditemui usai kegiatan.

Buwas mengatakan, BNN sebe­narnya tidak ragu untuk mela­kukan tembak di tempat. Selama ini sudah beberapa kali BNN melakukan upaya tembak di tem­pat bila ada gembong narkoba yang melawan saat ditangkap.

“Perintah untuk tembak di tempat sebenarnya sudah ada UU-nya, tinggal kita menghindari kesalahan yang di lapangan, asalkan mereka berdasarkan pada peraturan. Tapi sama sekali tidak ada keraguan, kami tegas, seperti melakukan penembakan pelaku di lapangan. Hanya Bapak Pre­siden kalau UU ada muncul baru, bisa dilakukan ya kita dengan senang hati kita akan melakukan itu. Akan meringankan negara dan meringankan lapas itu sendiri, itu kita ikuti perkembangannya,” tegas Buwas.

Budi Waseso mengatakan masih banyak narkotik jenis baru yang belum terdeteksi di Indo­nesia. Ia memaparkan ada 44 jenis narkotik baru di Indonesia, de­ngan rincian 18 jenis telah diatur dalam peraturan Menteri Kese­hatan, sementara sisanya masih ditelusuri secara aktif. 

Banyaknya pengguna dan jumlah narkotik jenis baru itu, menurut Budi Waseso, diperparah dengan persentase prevalensi narkotik di Indonesia yang juga masih tinggi. “Menurut survei tahun 2015, angka prevalensi 2,20 persen dari 4 juta lebih orang yang mencoba pakai, tera­tur pakai, dan pecandu,” katanya.

Meski kondisi Indonesia ma­sih dalam darurat narkoba, Budi Wase­so mengaku optimistis bisa menga­tasi hal itu. Beberapa langkah pun telah dilakukan, dari langkah pencegahan hingga pe­nin­dakan. 

Beberapa langkah itu meli­puti tes urine secara rutin di lingkungan kerja, sosialisasi, dan rehabilitasi. Dari langkah reha­bilitasi, misalnya, Budi Waseso mengklaim BNN berhasil mendo­rong rehabilitasi 42.429 pecandu, penyalah guna, dan korban nar­kotik dari 2015 hingga 2016.

“Telah terungkap juga 1.015 kasus dari 72 jaringan sindikat narkotik dengan jumlah tersangka 1.681,” tutur Budi Waseso.

63 Ribu Kasus Narkoba di Sumbar

Dari 4 juta kasus narkoba di Indonesia, 63 ribu di antaranya terjadi di Sumatera Barat.

“Kasus nar­koba di Sumbar sudah meng­khawatirkan. Dari 63 ribu kasus yang terjadi di Sumbar merupakan usia produktif 15-24 tahun,” kata Kepala BNNP Pro­vinsi Simbar M.Ali Azhar, pada peringatan Hari Anti Narkoba Internasional 2016 di Padang, Ahad (26/6).

Ia mengatakan, faktor keluarga meru­pakan hal paling mem­pe­ngaruhi dalam pemberantasan narkoba. Yakni dengan keharmo­nisan un­tuk menjadi pelindung bagi anak-anak dan generasi muda dari bahaya narkoba.

Gubernur Sum­bar Irwan Pra­yitno saat men­jadi inspektur upacara menye­butkan, dalam menanggulangi permasalahan narkoba ada bebe­rapa hal capaian yang telah dila­kukan BNN. Di antaranya yakni bidang pen­cegahan penyalah­gunaan narko­tika telah dilakukan upaya pe­ning­katan ekstentifikasi dan intensifikasi komunikasi , infor­masi, dan edukasi (KIE) P4GN mulai dari kalangan usia dini sampai dewasa secara luas keseluruh pelosok indonesia. Dengan memanfaatkan sarana media cetak, elektronik, maupun media online serta tatap muka secara langsung kepada masya­rakat. Bidang pemberdayaan masyarakat sebagai salah satu langkah alternatif yang akan menjadi fokus dalam penekanan laju peredaran gelap narkotika di indonesia tercatat pada tahun 2015 sampai dengan juni 2016 sebanyak 705 warga di wilayah rawan dan rentan penyalah­guna­an narkoba telah mendapatkan pelatihan peningkatan kemam­puan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat dalam peningkatan life skill.

Sebelumnya diberikan peng­hargaan kepada Polres Pasaman terhadap upayanya dalam menggagalkan penyelundupan narkoba. (h/ows/tmp/met)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]