Biopori Minim, Padang Dihantui Banjir


Selasa, 28 Juni 2016 - 06:38:08 WIB
Biopori Minim, Padang Dihantui Banjir Ilustrasi.

PADANG, HALUAN – Curah hujan tinggi yang terjadi be­berapa waktu ini diprediksi BMKG akan terus berlanjut dari bulan Juli hingga September 2016 mendatang. Diperkirakan Kota Padang akan gampang banjir jika terjadi intensitas hujan yang sangat tinggi dalam tempo waktu 1-2 jam. Gena­ngan air di pemukiman, diperki­rakan bisa mencapai di atas 1 meter.

Kepala Seksi Informasi dan Observasi BMKG, Ketaping, Padang Pariaman, Budi Iman Samiadji mengatakan BMKG memprediksikan pada bulan Juli hingga September men­datang, surah hujan Sumatera Barat sangat tinggi. Bahkan se­kali-kali hujan bisa tergolong sangat ekstrem.

Baca Juga : Tahun 2020, Capaian PAD Perumda AM Kota Padang Melebihi Target

“Curah hujan yang tinggi akan datang ke perairan pantai barat Sumatera sekitar bulan Juli mendatang dan badai ini dipre­diksi akan berlanjut hingga September 2016. Pemicu badai ini tidak ada, ini hanya fenomena alam yang harus kita waspadai dan siap menghadapi segala risi­konya,” kata Budi kepada Haluan, Senin (27/6).

Menyikapi fenomena ini, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Sumatera Barat, Uslaini mengatakan apabila prediksi BMKG tersebut benar, maka Pemerintah Kota Padang akan dibikin kelabakan lagi. Pasalnya, Pemko Padang sampai saat ini belum siap menghadapi banjir. Pasalnya, tata ruang Kota Padang sudah sangat kacau. Dimana biopori (celah resapan air) untuk menyerap air sudah sangat kritis.

Baca Juga : Perumda AM Kota Padang Umumkan Pemenang Lomba Karya Tulis Artikel HUT ke-46 Tahun

Akibatnya, Kota Padang me­ngalami banjir besar sebanyak dua kali dalam semester 1 tahun 2016 ini. Bahkan di daerah rawa dan rerumputan juga terlihat air tergenang jika curah hujan sedi­kit tinggi dengan jangka waktu sekitar 30 menit ke atas.

“Jika daerah yang tidak tersen­tuh pembangunan saja bisa terge­nang air, apalagi yang disentuh pembangunan. Jadi wajar saja Kota Padang mulai dihantui banjir jika terkena hujan lebat. Pasalnya, biopori Kota ini sudah sangat minim,” kata Uslaini.

Baca Juga : Ada 52 Kasus Pernikahan di Bawah Umur di Kota Padang Tahun 2020, Penyebab Utama 'Hamil Duluan'

Ia juga mengatakan selain minimnya biopori, Pemerintah Kota Padang juga tidak serius dalam menanggulangi bencana banjir. Di saat kondisi aman, Pemerintah tidak cerdas me­manfaatkan waktu tersebut untuk membersihkan drainase. Ke­mudian baru kocar-kacir saat banjir sudah parah.

“Jika Kota Padang sudah dilanda banjir besar, Pemko Pa­dang sudah gagal menjaga, mem­benahi dan memelihara lingku­ngan. Saat cuaca sedang normal dan panas, Pemko lengah. Tidak ada gotong royong seperti dulu untuk membersihkan drainase. Saat Banjir besar, baru kocar kacir,’ Katanya.

Baca Juga : Cuma 2 Menit, Cetak Dokumen Kependudukan di Disdukcapil Kota Padang dengan Anjungan Dukcapil Mandiri

Disampaikannya, bencana banjir seperti yang terjadi pada Maret dan 18 Juni 2016 kemarin bisa terulang lagi di Kota Padang. mengingat kontur geografis Kota Padang sendiri terjepit antara perbukitan dan laut. Jadi jalur gerakan air sangat dekat dan Kota Padang hanya mengandalkan lima sungai besar dan 16 sungai kecil dengan sungai terpanjang yaitu Batang Kandis sepanjang 20 km.

Namun, sendimentasi pada kelima sungai ini sudah sangat parah. Akibatnya, sungai tidak bisa menampung air secara maksimal dan apabila hal ini terus berlanjut, nasib Kota Padang dipastikan akan serupa dengan ibukota Jakarta yang kebanjiran setiap tahun.

“Kota Padang ini dijepit oleh Hulu dan Hilir yang sangat pen­dek. Antara perbukitan dengan muara sungai itu sangat dekat. Jika daerah resapan air diabaikan terus Kota Padang bisa seperti Jakarta yang selalu dilanda banjir besar setiap tahun,” katanya.

Sementara itu Walikota Pa­dang, Mahyeldi Ansharullah mengakui banjir besar yang me­land­a Kota Padang tahun 2016 ini karena saluran drainase yang tidak berfungsi dengan baik. Disamping itu juga, tata kota semrawut dan kesadaran masya­rakat akan hidup bersih dan rapi juga rendah menambah dampak banjir kian parah. Dimana masya­rakat suka membuang sampah di sungai.

“Memang drainase Kota Pa­dang saat ini tidak berfungsi dengan baik. Namun, kondisi ini diperparah dengan kebiasaan masyarakat yang masih banyak membuang sampah sembarangan dan disungai,” kata Mahyeldi.

Untuk mengantisipasi banjir datang lagi, Pemko Padang saat ini sedang membuat pabrik air di daerah perbukitan. Bagi hutan-hutan yang gundul akan ditanami lagi, agar bisa maksimal menyerap air  dan meningkatkan biopori.

Disamping itu, di kawasan Koto Tangah sedang dibuat ka­wasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) seluas 11,65 hektare dan embung sebanyak 27 titik dengan luas 2-3 hektar setiap embungnya. (h/mg-ang)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]