10 Ribu Tentara Filipina Kepung Abu Sayyaf


Rabu, 29 Juni 2016 - 05:37:47 WIB
10 Ribu Tentara Filipina Kepung Abu Sayyaf Ilustrasi.

MANILA, HALUAN — Sepulangnya Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dari Filipina, dia menyampaikan kabar terkait nasib 7 orang WNI yang disandera kelompok militan di perairan Filipina. Menurutnya saat ini pasukan Filipina sudah mengepung tempat persembunyian kelompok militan itu.

“10 ribu pasukan Filipina sudah kepung kelompok Abu Sayyaf tempatnya di utara Sulu itu dan di selatan Pa­nadao,” kata Ryamizard di kantor Kemenkopolhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (28/6/2016).

Baca Juga : Wah! Joe Biden Tempatkan Batu Bulan di Ruang Oval Gedung Putih

Ryamizard mengatakan, pemerintah Filipina dan In­do­nesia tidak akan membayar tebusan. Baik Indonesia mau­pun Filipina masih meng­upayakan jalur diplomasi untuk menghindari jatuhnya korban jiwa.

“Operasi militer pasti, tapi sebelum itu ada dip­lomasi, negosiasi baru operasi militer. Mana yang bagus,” jelas Ryamizard.

Baca Juga : Pemerintah AS akan Sidangkan Tiga Terduga Pelaku Bom Bali dan Hotel JW Marriot

Tapi kalau terpaksa ope­rasi militer, pasti ada korban. Nah korban itu yang kita hindari. Kalo tentara ya tidak apa-apa, tapi kalo sandera dibunuhin semua gimana? Itu menjadi perhatian utama,” sambungnya.

Hingga saat ini, lanjut Ryamizard, pemerintah In­donesia masih menunggu langkah-langkah yang di­ambil pemerintah Filipina. Dia juga telah meminta pe­me­rintah Filipina serius me­nangani pembebasan 7 WNI yang menjadi sandera ini.

Baca Juga : Ngeri! PM Inggris Sebut 'Mutan' Baru Corona Lebih Mematikan!

TNI Masuk Filipina

Ryamizard Ryacudu, me­ngatakan, personel TNI akan diizinkan memasuki wilayah Filipina apabila kembali ter­jadi penyanderaan WNI oleh militan dari negara kepulauan itu.

Baca Juga : Usai Lengser, Trump Disebut Hidup dalam Ketakutan

“Kami sudah sepakat, kalau nanti ada penyanderaan lagi kami boleh masuk,” kata Ryacudu, saat ditemui di Kantor Kementerian Koor­dinator bidang Politik, Hu­kum, dan Keamanan, di Ja­karta, Selasa siang. Artinya, untuk yang kali ini —pada ABK kapal tongkang Charles 001 dan kapal tunda Robby 152, TNI belum bisa masuk ke sana. 

Pada 21 Juni lalu, me­redak kabar tidak sedap: terjadi lagi penculikan dan penyanderaan disertai tun­tutan uang tebusan Rp6,5 miliar atas tujuh WNI yang bekerja sebagai ABK di kapal tunda Charles 001 dan kapal tongkang Robby 152, di perairan Laut Sulu, Filipina Selatan. 

Pemerintah baru me­ng­on­firmasi penculikan ketiga WNI di sana ini pada 24 Juni lalu, setelah perbedaan di antara pejabat puncak In­donesia saat memberi in­formasi kepada publik. Pe­ristiwa penculikannya ke­mudian diketahui pasti terjadi pada 21 Juni dengan dua serangan. 

Ini adalah penculikan yang ketiga kali pada WNI pelaut yang mencari nafkah sebagai ABK kapal. 

Ryacudu menjelaskan, kesepakatan itu dicapai usai dilakukan pertemuan tiga menteri pertahanan dari In­donesia, Malaysia, dan Fi­lipina pada pekan lalu. Kons­titusi Filipina menyatakan larangan militer asing ber­operasi secara langsung di negaranya. 

“Mereka setuju, memang sudah ada daftar hukumnya, masuk dalam ASEAN, dan pertemuan kemarin dengan menteri-menteri pertahanan di Laos dan terakhir di Si­ngapura, dan konkritnya di Filipina. Dengan penyan­deraan ini, sebagaimana ke­putusan bersama, setuju kami masuk ke laut. Kemudian nanti akan kami tindak lanjuti ke darat,” ujarnya.

Dari kedua penculikan WNI yang pertama, semua sandera bisa dibebaskan dari kelompok yang disebut-sebut sempalan milisi Abu Sayyaf. Semua penculikan itu m­enuntut uang tebusan.

Pemerintah hingga kini tidak pernah mengungkap bagaimana WNI disandera itu bisa dibebaskan. Ke­terangan resmi dari pe­me­rintah adalah seperti yang dinyatakan Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, bah­wa itu ditempuh melalui “diplomasi menyeluruh”. 

Berbagai kalangan di Tanah Air menilai, sudah saatnya pemerintah lebih terbuka soal ini agar In­donesia tidak dijadikan sapi perah para milisi di Filipina Selatan. Pada faktanya, WNI yang diculik adalah ABK kapal tongkang dan kapal tunda yang tidak bisa berlayar cepat.  (h/dtc/ans)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]