Puasa dan Korupsi


Rabu, 29 Juni 2016 - 05:59:50 WIB
Puasa dan Korupsi Ilustrasi.

Sepertinya mengada-ada, tidak ada hubungan sama sekali antara puasa dan korupsi. Sebagian besar yang terbersit di kepala kita semacam dikotomi yang baik dan buruk, bahwa puasa adalah perilaku baik dan bagian dari ibadah. Melakukan puasa mendapat ganjaran pahala berlipat ganda, dunia-akhirat. Sebaliknya, korupsi adalah perilaku buruk, terkutuk, melakukannya mendapatkan balasan dosa, baik secara agama maupun sosial-politik.

Berangkat dari paradigma itu, menarik membicarakan tema korupsi, sebuah perilaku berkonotasi negatif, di bulan yang berkonotasi positif, Ra­madan. Petuah-petuah agama telah membuat kita (lumayan) hapal betapa di sepanjang bulan ini segala keberkahan dan ampunan dicurahkan se­luas-luasnya oleh Sang Pen­cipta. Betapa setan sebagai penggoda dan penjerumus manusia dikerangkeng, yang ada hanya para ‘junior’-nya yang tak lain adalah hawa nafsu kita sendiri.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq

Menarik, karena korupsi terlanjur menjadi topik seksi, hari ke hari di negara ini. Tidak saja karena berbagai catatan membuat kita mengurut dada, mulai dari rekor sebagai negara terkorup di dunia, sampai ke para koruptor yang merambah para penegak hukum di posisi pun­cak. Mulai dari para peja­bat di Mahkamah Agung, Pe­jabat teras kepolisian, sam­pai ketua Mahkamah Kons­ti­tusi, tak mau ketinggalan mela­ku­kan korupsi. Namun juga, be­tapa aktivitas korupsi te­r­nyata dilakukan secara diam-diam dan terang-tera­ngan, tanpa sengaja maupun di­sengaja, bahkan disinyalir me­ru­pakan bagian dari bu­da­ya.

Motif Korupsi

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

Menyigi berbagai ‘re­kor’ itu, timbul pertanyaan, apa benar yang menyebabkan orang masih gemar melakukan korupsi? Kenapa seolah pela­ku korupsi tidak belajar pada sejarah para koruptor, mem­baca koran dan menonton televisi, betapa para pelaku koruptor dicaci maki, baik secara intelektual (melalui talk-show dan diskusi serta seminar), mau pun secara emosional-barbar melalui ber­bagai demonstrasi dan hujatan tak bermoral di media sosial. Kenapa tidak ada semacam gerakan tobat nasional yang lahir dari rahim rakyat (baca: pejabat dan masyarakat) sen­diri untuk mencegah dan meng­­hindari tindak korupsi mulai dari diri dan lingkungan sendiri?

Salah satu jawabannya mungkin bisa kita tinjau dari teori mengenai motif orang melakukan korupsi. Dari se­begitu banyak teori, salah satu yang paling se­ring dikutip adalah teori yang juga mem­bahas me­ngenai peri­la­ku ko­rupsi, di­for­mulasikan oleh Jack Bo­logne (2006), yang dikenal dengan teori GO­­NE. Ilustrasi GONE Theory yang meliputi Greeds (ke­se­ra­ka­­han), Oppor­tu­ni­ties (kesem­pa­tan), Needs (kebu­tu­han) dan Expor­sure (Pengung­kapan).

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun (2): Kita Sungguh Perlu Bersatu

Greed, ter­­kait kese­ra­ka­han (gree­­­dy) dan ke­r­a­ku­san para pe­laku korupsi yang tidak pernah puas akan keadaan dirinya. Oppor­tunity, meru­pa­kan sistem yang memberi peluang untuk melakukan korupsi. Sistem di sini bisa diperluas sebagai keadaan organisasi atau masyarakat yang sedemikian rupa sehing­ga terbuka kesempatan bagi seseorang untuk melakukan kecurangan. Need, yaitu sikap mental yang tidak pernah merasa cukup, selalu sarat dengan kebutuhan yang tidak pernah usai. Sedangkan Expo­sure, hukuman yang dijatuh­kan kepada para pelaku korup­si yang tidak memberikan efek jera pelaku maupun orang lain.

Dibawakan ke momen pua­­­sa, tentunya semua orang ber­­­harap, keempat faktor yang me­­nyebabkan orang mela­ku­kan korupsi itu bisa dimi­ni­ma­­lisir serendah mungkin da­ya do­rong­nya selama Rama­dhan. Ditilik dari faktor kese­ra­­­kahan, semoga saja para ‘ca­lon korup­tor’ mau berpikir ulang dan mampu meredam naf­­­sunya un­tuk selalu merasa ma­­­sih kurang dengan keadaan diri­nya.

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun(1) : Ekonomi Menyedihkan

Kita sudah bosan betapa selama ini para koruptor kelas kakap ternyata bukanlah orang-orang yang ser­ba keku­rangan. Sebaliknya, mereka adalah orang kaya, melimpah ruah harta dan jaba­tannya. Tentu saja, logika greedy tidak mempan di sini, karena orang yang rakus su­dah bisa dipas­tikan adalah orang yang sebe­narnya sudah mapan dirinya. Tidak mung­kin orang miskin yang mela­kukan korupsi dika­takan se­bagai si rakus.

Dari segi peluang, ten­tu­nya setiap hari, meskipun bu­kan di bulan puasa, peluang un­tuk melakukan korupsi di se­buah sis­tem kelembagaan ter­tentu di­harapkan semakin ter­tutup. Ne­gara kita katanya su­dah me­miliki sistem anti­ko­rupsi yang sudah diso­siali­sai­kan ke selu­ruh instansi pe­me­rintah. Per­soa­lannya ada­lah, apakah sis­tem pencegahan itu su­dah ber­jalan optimal di la­pa­ngan da­lam rangka men­ce­gah praktik korupsi? Rasa­nya be­lum.

Faktor ketiga, mirip de­ngan faktor pertama, men­cakup kebutuhan yang tak pernah henti untuk mem­per­kaya diri sendiri. Puasa adalah sarana ampuh yang diha­rapkan mampu memberikan kesadaran sejak awal, sehingga perilaku korupsi bukan saja bisa dihukum namun hen­daknya dicegah sedari dini.

Faktor keempat, inilah permasalahan bangsa kita, yaitu penegakan hukum yang masih belum mak­simal dan terkesan masih pan­dang bulu. Adagium hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas sudah lama menjadi favorit para kuli tinta untuk meng­gam­barkan betapa para pene­gak hukum, terutama khusus hu­kum anti­ko­rupsi selama ini masih saja memberi hu­kuman yang ti­dak mak­simal/berat bagi pa­ra koruptor. Seba­lik­nya, para pela­ku ke­ja­hatan ri­ngan di­hu­kum cen­­de­rung be­rat. Pe­ne­li­tian ICW se­ti­ap tahun su­­­dah bi­sa men­jadi pa­to­kan me­­nge­­­nai rerata hu­­ku­­man yang dite­rima para koruptor (bi­sa dicek di www.­anti­korup­si.­org).

Distorsi Nilai-nilai

Penelitian lain yang dila­ku­kan oleh Listyo Yuwanto (2015) juga menarik untuk diperhatikan seksama. Dalam ka­jiannya yang menyorot pro­fil koruptor berdasarkan tin­jauan nilai-nilai dasar ke­manusiaan (Basic Human Va­lues), ditemukan kesamaan pro­­fil koruptor, yaitu ren­dah­nya penghargaan terhadap uni­­versalism dan benevolence va­­lues (nilai-nilai luhur). Le­bih jauh, ditemukan bahwa fak­­tor penyebab korupsi ter­di­ri dari faktor internal dan eks­ter­nal. Faktor internal di­pre­diksi melalui nilai-nilai (va­lues) yang dimiliki korup­tor.

Lebih jauh, penelitian tersebut mengklasifikasikan lima tipe koruptor berdasarkan pemahamannya terhadap ni­lai-nilai yang dianutnya dan dihubungkan dengan pan­dangannya terhadap korupsi yang dilakukan. Ternyata, temuan lima tipe tersebut sangat beragam. Tipe pertama menekankan suatu perilaku (korupsi) sebagai budaya dan kebiasaan. Tipe kedua, selain menekankan prilaku korupsi sebagai budaya dan kebiasaan, juga mengaku bebas dan tidak terikat dengan aturan serta berani mengambil risiko un­tuk kesenangan. Tipe ketiga me­nekankan keberhasilan un­tuk mendapatkan pujian dari orang lain serta menge­de­pan­kan menjadi kaya dan orang lain mengikuti kehen­daknya (achievement and po­wer).

Berikutnya, tipe keempat, mengikuti apa yang di­anjur­kan dan dikerjakan, atau dila­kukan sebagian besar orang di lingkungannya (conformity), serta mengutamakan ke­ama­nan diri sendiri (security). Sedangkan koruptor tipe ke­lima menekankan kesenangan (hedonism), serta menjadi kaya sehingga orang lain mengi­kutinya (power).  Kesimpulan yang dapat ditarik, para korup­tor menginternalisasi nilai-nilai luhur secara distortif-negatif. Nilai-nilai yang seha­rusnya dimaknai sevara posi­tif, seperti tradisi, pencapaian hidup, kekuasaan, stimulasi, dan kenyamanan diri justru dimaknai secara terbalik se­hing­ga menjadi pendorong utama perilaku korupsi.

Puasa, sebagai ajang pe­ngen­­dalian diri dan inter­na­li­sa­si nilai-nilai spiritual dan ke­­ma­nuasiaan (human univer­sa­lism) mestinya dapat menjadi la­­ti­han yang paling efektif un­tuk ruang re­flektif bagi se­ti­ap pribadi yang poten­sial me­­la­ku­kan tindak ko­rupsi. Ko­­rup­si merupakan muara yang men­­cer­minkan sejauh ma­na si pe­­la­ku me­maknai nilai-ni­l­ai lu­­hur dan sejauh mana itu ber­­­dam­­pak pada perilakunya. Mus­­­tahil perila­ku yang buruk be­­rasal dari pemahaman nilai yang baik, demikian pula se­ba­lik­nya. Dengan terbia­sa­nya me­­nahan diri dan mampu me­ngon­­trol secara konstan terha­dap ber­bagai godaan dan ke­sem­­patan melakukan korup­si, ten­­tunya akan berdampak po­si­­tif terha­dap pencegahan tin­dak korup­si, dan itu dapat dila­ku­kan jika si ‘calon korup­tor’ benar-be­nar berpuasa se­ca­ra kaffah. (*)

 

MOHAMMAD ISA GAUTAMA
(Dewan Pendiri Lembaga Antikorupsi Integritas)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 04 Januari 2021 - 09:37:20 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq

    Prabowo dan Habib Rizieq Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Kamis, 31 Desember 2020 - 20:46:02 WIB

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam TAHUN 2020 segera akan berakhir. Tahun 2021 segera akan tiba. "Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal tahun kelam. Selamat tinggal tahun yang penuh dengan kepahitan hidup. .
  • Senin, 28 Desember 2020 - 14:48:33 WIB

    Catatan Akhir Tahun (2): Kita Sungguh Perlu Bersatu

    Catatan Akhir Tahun (2): Kita Sungguh Perlu Bersatu DARI pengalaman kita selama di tahun 2020 yang nyaris tak berhenti hidup dalam pertengkaran, hidup dalam perseteruan politik dan hukum yang berkepanjangan, sudah selayaknyalah kita mengubah pola hidup begini kepada pola hidup.
  • Ahad, 27 Desember 2020 - 21:15:22 WIB

    Catatan Akhir Tahun(1) : Ekonomi Menyedihkan

    Catatan Akhir Tahun(1) : Ekonomi Menyedihkan Begitu wabah Corona atau Covid-19 dinyatakan mewabah di Indonesia pada bulan Maret lalu, ekonomi langsung anjlok, karena kegiatan pasar langsung stagnan tiba-tiba. Pasar banyak yang ditutup. Mulai dari kegiatan pedagang kaki .
  • Jumat, 25 Desember 2020 - 13:51:03 WIB

    Pendukung Sandiaga Uno: Di Sana Engkau Tersenyum, di Sini Kami Menangis

    Pendukung Sandiaga Uno: Di Sana Engkau Tersenyum, di Sini Kami Menangis Sebagaimana kita ketahui, mantan Calon Wakil Presiden(Cawapres) Sandiaga Uno baru saja dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) bersama 5 orang Menteri lainnya, hasil reshuffl.
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]