Berbeda Dengan Standar BPOM

Tim Gabungan Curigai Vaksin Palsu


Rabu, 29 Juni 2016 - 06:36:22 WIB
Tim Gabungan Curigai Vaksin Palsu Kasi Pemeriksaan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Padang, Patria Dehelen memeriksa vaksi di salah satu rumah sakit di Padang, Selasa (28/6). Pemeriksaan dilakukan untuk menelusuri beredarnya vaksin palsu di Sumbar. (RIVO SEPTI ANDRIES)

PADANG, HALUAN — Beredarnya vaksin palsu di beberapa wilayah di Indonesia di­tanggapi serius oleh pemerintah. Salah sa­tunya dengan menangkap pembuat vaksin palsu oleh Mabes Polri beberapa waktu lalu. Sedangkan untuk antisipasi dan penelusuran peredaannya, Sumbar membentuk tim ga­bungan dari Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM), Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar dan Dinas Kesehatan Kota Padang mulai melakukan penelusuran ke sejumlah distributor obat, vaksin dan rumah sakit.

Dari penelusuran yang dilakukan di Kota Padang belum ditemukan vaksin yang dinyatakan palsu. Namun ada beberapa vaksin yang di­curigai berbeda dengan stan­dar edaran yang dirilis oleh BPOM. Vaksin yang dicu­rigai tersebut dibawa oleh tim gabungan untuk dikon­fir­masi, yakni tentang per­be­daan warna karet tutup botol (rubber) vaksin dan label yang berlapis dua.

“Sementara vaksin yang kami temukan ini kami bawa dulu untuk dikonfirmasi ke­pa­da yang memproduksinya. Karena dari panduan edaran BPOM tutup botol yang asli berwarna abu-abu. Yang kami temukan ini ada yang berwarna merah bata. Selain itu label botolnya terdapat dua lapis, tapi ini bukan berarti palsu ya,”terang Kasi Pemeriksaan BBPOM Pa­dang, Patria Dehelen, di Padang, Selasa (28/6).

Ia menjelaskan, vaksin yang ditemukan tersebut akan dibahas lebih lanjut oleh BPOM, karena vaksin yang ditemukan adalah produk resmi. Sedangkan untuk label yang berlapis juga akan diba­has oleh BPOM.

“Untuk label yang berl­a­pis, kami akan bahas lagi di kantor. Sedangkan vaksin Pentabio yang sumbernya resmi akan kami pastikan dulu, karena warna rubbernya berbeda. Barangkali tidak semua tentang rubber ini dijelaskan dalam edaran, untuk itu kami akan kon­firmasi lagi,” ungkapnya.

Dua jenis vaksin yang ditemukan adalah Pentabio dan TT. Vaksin Pentabio digunakan untuk hepatitis sedangkan TT digunakan untuk Tetanus. Lebih lanjut Patria De­helen mengatakan, pene­lusuran vaksin dilakukan sejak beberapa hari lalu, salah satunya di sarana Pedagang Besar Farmasi (PBF). Karena menurutnya PBF yang ber­peran dalam menyalurkan vaksin ke rumah sakit. Na­mun Patrian Helen men­jelaskan, kemungkinan kecil sumber resmi PBF me­la­kukan kecurangan.

“Kami rutin melakukan pengawasan dan pemeriksaan kepada sumber resmi PBF. Namun yang banyak dicuri­gai adalah klinik kecil yang melakukan imunisasi pada anak, tapi kami juga rutin melakukan pengawasan, se­jauh ini aman,”terangnya.

 

Sementara Kasi Per­beka­lan Pengobatan Kesehatan Dinas Kesehatan Sumbar Linamil Jamil menyatakan, khusus vaksin yang ditemukan berbeda warna dengan edaran BPOM adalah produk resmi, kemungkinan edaran atau panduan melihat ciri ciri vaksin asli belum secara rinci.

“Tadi kami cocokan se­mua sama sesuai dengan edaran BPOM, terutama pro­duk Bio Farma yang rub­ber­nya itu harus berwarna abu abu. Tapi ada vaksin BCG dan Polio warnanya memang beda yakni merah bata, dan setelah saya konfirmasi ke Bio Farma katanya memang itu beda jenis, atau barangkali BPOM belum include menyatakan warna ini,”ujarnya.

Menurutnya, edaran dari BPOM bertujuan untuk pe­do­man mencari kem­ung­kinan adanya vaksin palsu. Sehingga memudahkan tim dalam me­nelusuri produk vaksin ter­sebut. Ia menjelaskan, khusus untuk vaksin yang ada di sarana pelayanan kesahatan pemerintah di Sumbar, pe­nga­daannya berasal dari pu­sat. Penyaluran dilakukan secara bertahap dimulai dari pusat (kementian) lalu di­dis­tri­bu­sikan ke provinsi dan se­lanjutnya didistribusikan ke kabupaten dan kota yang di­gunakan pemakaiannya oleh puskesmas.

Setelah terungkapnya vak­sin palsu di Indonesia, Ke­menterian Kesehatan me­nya­rakan anak yang diduga men­dapat vaksin palsu untuk segera di imunisasi ulang. Karena anak yang mendapat vaksin palsu tidak mendapat kekebalan sesuai dengan yang diharapkan.

Sedangkan hasil pe­nye­lidikan sementara oleh BPOM, vaksin palsu berisi cairan dan antibiotik yang kadarnya sangat sedikit na­mun kerugian terbesar jika mendapat vaksin palsu adalah tidak kebal. (h/rvo)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]