Ledakan Tambang Sawahlunto

Tiga Korban Luka Parah Dirawat di RSUP M Djamil


Rabu, 29 Juni 2016 - 07:18:54 WIB
Tiga Korban Luka Parah Dirawat di RSUP M Djamil KAMINUDIN, penambang korban ledakan tambang di Sawahlunto, dalam kondisi berat di RR Luka Bakar RSUP Dr M Djami. Keluarganya masih di Nias Selatan, hingga saat ini hanya rekan kerja yang menunggui, Selasa (28/6). (RIVO)

Tiga dari lima korban ledakan tambang batu bara di Sawahlunto menderita luka bakar cukup parah. Ketiganya dirawat intensif di RSUP M Djamil Padang.

PADANG, HALUAN —Tiga dari lima korban ledakan tambang batu bara di Sawah­lunto sampai saat ini masih mendapatkan perawatan in­tensif di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr M Djamil, Padang. Dua pasien dirawat di ruang rawat (RR) luka bakar dan satu lainnya dirawat di instalasi care unit (ICU).

Baca Juga : Tahun 2020, Capaian PAD Perumda AM Kota Padang Melebihi Target

Tambang batu bara yang dikelola PT Nusa Alam Les­tari, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto meledak pada Senin malam (27/06/2016) pukul 22.30 WIB.

Pejabat Pemberi Informasi dan Dokumentasi (PPID) RSUP Dr M Djamil, Gusta­fianof, kepada Haluan men­jelaskan, dua pasien yang dirawat di RR luka bakar adalah Kaminuddin Nduru (45) dan Siswoko (46), sedang­kan yang dirawat di ICU ada­lah Adi Tusiman (35).

Baca Juga : Perumda AM Kota Padang Umumkan Pemenang Lomba Karya Tulis Artikel HUT ke-46 Tahun

Ketiganya masuk IGD pu­kul 03.30 WIB kemarin. Sete­lah dioperasi sekarang menda­patkan perawatan intensif di RR luka bakar dan ICU, kondi­sinya cukup berat dengan luka bakar di daerah dada, kepala, pinggang, tangan dan punggung.

Selain menderita luka bakar cukup parah, yaitu 40% (Adi Tusiman), 44% (Kaminuddin) dan 53% (Siswoko), ketiganya juga mengalami trauma inhalasi yang mengakibatkan terganggunya saluran pernapasan.

Baca Juga : Ada 52 Kasus Pernikahan di Bawah Umur di Kota Padang Tahun 2020, Penyebab Utama 'Hamil Duluan'

“Saat ini memang kondisinya cukup berat. Ketiganya terkena trauma inhalasi yang meng­gang­gu pernapasan. Tapi dokter yang menangani terus memantau per­kem­bangan,” ucap Gustafianof lagi.

Berdasarkan pantauan Haluan di RR Luka Bakar RSUP Dr M Djamil, tampak kondisi korban Kaminuddin dan Siswoko cukup menyedihkan. Keluarga pasien terlihat menahan kantuk karena berjaga sejak tadi malam.

Baca Juga : Cuma 2 Menit, Cetak Dokumen Kependudukan di Disdukcapil Kota Padang dengan Anjungan Dukcapil Mandiri

Roberti Nduru (27), salah seorang keluarga pasien menga­takan, korban Kaminuddin yang berasal dari Lolowau. Nias Sela­tan, Sumatera Utara, meninggal­kan seorang istri dan empat anak­nya di kampung halaman.

“Saya sudah kontak keluarga di kampung, tapi mereka belum bisa ke sini karena terkendala biaya. Kaminuddin memang tidak mem­bawa anak istrinya ke Sawah­lunto, saya sepupunya,” kata Roberti.

Korban lainnya, Afri Syaiful yang warga Pisang Kalek, Desa Balai Batu Sandaran (BBS) terma­suk beruntung. Karena luka bakar yang dideritanya tidak separah tiga rekan lainnya yang dirujuk ke RSUP M Djamil Padang. Ia ber­sama Firman Dedi warga Pasar Baru Durian, masih bisa ditangani oleh tim medis RSUD Sawahlunto.

 

Sesuai SOP  

Kepala Teknik Tambang (KTT) PT Nusa Alam Lestari, M. Fauzi mengaku, pelaksanaan penambangan yang berjalan di kawasan tambang yang dibawa­hinya telah melalui standar ope­rasional prosedur.

Dimana ketika kelima pekerja tambang yang mengalami leda­kan tersebut masuk lubang tam­bang sedalam 200 meter lebih itu, mereka telah melalui protap yang ada. Mulai dari kelengkapan pengaman, hingga pengecekan gas metan.

“Untuk proses pengecekan terhadap gas metan, dilakukan tim khusus, jika dipastikan aman, baru pekerja diperbolehkan ma­suk. Kami menduga, ledakan disebabkan adanya gas metan yang tidak terdeteksi,” ujar Fauzi.

Hal itu diyakini Fauzi, karena para pekerja telah masuk semenjak pukul 17.00 WIB sore. Sedang­kan ledakan terjadi pada pukul 22.30 WIB, pekerja pun telah meng­hasilkan beberapa ton batu bara.

Menurut Fauzi, usia lubang tambang batu bara yang menga­lami ledakan telah mencapai 2 tahun, dengan kedalaman mele­bihi 200 meter. PT Nusa Alam Lestari memiliki 8 lubang tam­bang batu bara, yang setiap hari aktif menghasilkan kebutuhan ba­han bakar PLTU Ombilin tersebut.

Sementara itu, Inspektur Tam­bang Admizal Nazki, mengung­kapkan, pihaknya akan segera melakukan pemeriksaan terhadap penyebab terjadinya ledakan. Na­mun, untuk turun ke dalam lubang, pihaknya menunggu turunnya kadar CO.

Salah seorang korban Afri Syaiful menuturkan ledakan terjadi setelah adanya percikan api di salah satu mesin pem­bongkar batu bara, api seketika menjadi besar dan terjadi ledak­kan, ia bersama  tiga rekannya dan satu orang pengawas tengah memuat batubata ke dalam lori.

“Tiba tiba saja api keluar dari alat jak pembobok batubara dan langsung membesar yang disertai ledakan, seketika itu saya lang­sung tiarap hingga api padam,” katanya ketika ditemui Haluan di RSUD Sawahlunto, Selasa (28/6).

Setelah api padam, lanjutnya ia bersama  tim kerja berusaha dengan merangkak keluar lubang di sepanjang lebih kurang 200 meter, saat itu dinding dan atap lubang sudah mulai rubuh. Begitu sampai di luar, Apri mengaku pingsan dan tak sadarkan diri.

Afri Syaiful yang warga Pisang Kalek, Desa Balai Batu Sandaran (BBS) termasuk beruntung. Ka­ren­a luka bakar yang dideritanya tidak separah tiga rekan lainnya yang dirujuk ke RSUP M Djamil Padang. Ia bersama Firman Dedi warga Pasar Baru Durian, masih bisa ditangani oleh tim medis RSUD Sawahlunto. (h/isq/dil/rfk)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]