Derita Pebambang Batu Bara

Bekerja Bertaruh Nyawa, Tanpa Pengaman Apa-apa


Rabu, 29 Juni 2016 - 08:36:31 WIB
Bekerja Bertaruh Nyawa, Tanpa Pengaman Apa-apa KORBAN KEBAKARAN TAMBANG--Kaminudin (45) masih dalam keadaan belum sadar dan dirawat di ruang HCU RSUP DR. M. Djamil, Padang, Selasa (28/6). Kaminudin menderita luka bakar sekitar 46 persen, dan orang korban lagi juga masih dalam perawatan di ruang ICU dan HCU. RIVO SEPTI ANDRIES

Hanya napas tersengal-sengal yang bisa diembuskan oleh Kaminudin Nduru (45), korban ledakan lobang tambang batu bara H dalam WIUP PT NAL, Sawahlunto, Senin (27/6).

Napas yang tersengal itu terdengal bergumul pula dengan slang oksigen yang diapit mulutnya yang merah delima, bekas dioperasi setelah hangus terbakar. Nyaris seluruh tubuhnya dibalut perban yang sebagiannya basah entah oleh cairan apa.

Ia tampak menahan sakit, setelah api menyambar tubuhnya saat ia berada di dalam lobang tempat biasa mengais nafkah yang halal. Sementara, tak ada satupun perwakilan pemerintah yang ada di tempat itu saat Haluan berkunjung, Selasa (28/6) sore.

Pekerjaan sebagai penambang batu bara tentu bukan pekerjaan idaman. Siapa pula yang akan tahan bekerja di dalam lobang berkedalaman ratusan meter itu. Hawa panas yang terasa menjalari tubuh, tentu membuat gerah bersangatan. Setidaknya, begitulah yang disampailan Roberti Nduru, rekan kerja sekaligus keluarga jauh Kaminudin Nduru.

"Kami bekerja memang tanpa baju pengaman khusus. Karena di dalam itu panas, kadang hanya pakai baju dalam saja," kata Roberti kepada Haluan, Selasa (28/6) di luar ruang RR Luka Bakar, RSUP Dr M Djamil Padang, tempat rekannya Kaminudin Nduru dan satu rekan lainnya Siswoko (46) dirawat.

Selain itu, satu rekannya yang lain, Adi Tusiman (35), dirawat intensif di ruang ICU. Saat bekerja, jelas Roberti, satu regu beranggotakan 5 penambang, upah yang mereka dapatkan untuk satu ton batu bara berkisar Rp70 ribu. Dalam sehari, regu tersebut bisa mengeruk sampai sepuluh ton jika sedang mujur.

Jika tidak sedang dinaungi keberuntungan, penghasilan mereka tidak seberapa. Dengan pekerjaan sedemikian berat, dan tanpa pengamanan apa-apa, Roberti mengaku penambang memang tidak punya pilihan lain. Terlebih, di tengah sulitnya mencari pekerjaan seperti saat ini.

Belum Dikunjungi Keluarga Ada perbedaan terentang antara Kaminudin dan dua korban lainnya. Jika kedua korban lain ditunggui keluarga saat dirawat di rumah sakit, Kaminudin hanya ditunggui dua rekan kerjanya yang kebetulan juga rekan seperantauannya, termasuk Roberti. Mereka datang dari Loloawu, Nias Selatan, Sumatera Utara, untuk mencari sesuap nasi dari pekerjaan sebagai penambang batu bara.

Roberti sudah mencoba untuk menghubungi keluarga Kaminudin di Nias sana, berita sedih tentang Kaminudin pun disambut dengan duka, karena hingga saat ini satu istri dan empat anaknya masih mencari akal untuk pergi ke Padang, meskipun belum tahu biaya transportasi akan dicari kemana.

"Saya sudah hubungi keluarganya di kampung. Anaknya ini empat, yang dua sudah SMA, yang dua lagi masih kecil-kecil. Mereka belum tahu kapan akan ke Padang," ucap Roberti lagi.

Sementara itu, di samping tempat tidur Kaminudin, dalam keadaan yang tak kalah memprihatinkan, Siswoko juga tergeletak dengan napas tak kalah tersengal. Nyaris seluruh badannya dililit perban dan berbagai macam slang dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Sedangkan korban lain, Adi Tusiman, dirawat di ruang ICU dengan kondisi yang juga menyedihkan. 

Pejabat Pemberi Informasi dan Dokumentasi (PPID) RSUP Dr M Djamil, Gustafianof, kepada Haluan menerangkan, tiga penambang korban ledakan lobang tambang batu bara itu mengalami luka bakar dengan persentase berbeda-beda. Kaminudin sendiri mengalami luka bakar seluas 44% di tubuhnya, Siswoko 54%, dan Adi Tusiman 40%.

“Mereka sudah mendapat perawatan sejak dini hari tadi (kemarin, red). Selain luka bakar, ketiganya juga mengalami trauma inhalasi yang mengganggu jaringan pernapasan, sehingga mereka sulit bernapas dengan normal. Kondisi ketiganya memang cukup berat,” ucapnya. (*)

oleh : Juli Ishaq Putra

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]