Tidak Zaman Lagi Rivalitas Politik


Kamis, 30 Juni 2016 - 06:37:58 WIB
Tidak Zaman Lagi Rivalitas Politik Ilustrasi.

Dalam internal penyelenggaran pemerintahan daerah, tidak dibutuhkan lagi rivalitas dalam mewujudkan ambisi pribadi ataugolongan, karena hanya akan mengganggu proses pembangunan, namun yang dibutuhkan adalah sinergitas dan harmonisasi. Dengan harmonisasi, penguatan lembaga menjadi memungkinkan, karena benturan kepentingan antar elit terminimalisir.

Menurut Huttington, mem­­perkuat lembaga politik merupakan suatu kebutuhan jika ingin pembangunan po­litik berjalan lancar. Dengan lembaga politik yang kuat, resistensi dalam menangani konflik-konflik yang muncul saat proses pembangunan dapat terwujud. Seder­ha­na­nya, pembangunan politik membutuhkan lembaga po­litik yang kuat, baik secara struktural maupun fungsional.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq

Peran lembaga politik be­gitu besar dalam proses pem­bangunan politik. Namun, kompetisi elit –terutama kepa­la daerah dan wakil– akan menggerus kekokohan tem­bok peran tadi. Karena, kom­petisi elit yang kuat, membuat lembaga politik menjadi ter­pe­cah ke dalam kubu-kubu yang bersaing. Elit yang ber­saing sudah tentu akan me­lakukan mobilisasi massa guna mencari simpatisan, bahkan sampai kepada ma­syarakat. Sehingga, ketimbang sebagai lokomotif pem­ba­ngunan, lembaga politik cen­derung menjadi arena per­saingan. Peranan lembaga po­litik tertutupi kepentingan elit. Akibatnya, akan terjadi ke­munduran dalam proses pem­bangunan politik.

Terakhir, pada dasarnya yang harus dipatrikan kepada seorang pemimpin, adalah bagaimana ia harus mampu terlebih dahulu memimpin hawa nafsunya, agar apa yang ia lakukan dapat berdampak positif. Dan bila nafsu yang mengontrol pemimpin itu, maka tak heran korupsi, lupa janji dan tak pernah puas dalam soal harta dan jabatan. Jangan sampai nafsu yang memimpin. Perlu digaris ba­wahi, fenomena-fenomena disintegrasi elit atau pemimpin seperti inilah yang menjadi salah satu alasan masyarakat untuk apatis terhadap politik, par­tisipasi pemilu contoh nyatanya.

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

Beragamnya partai penyo­kong pasangan Kepala Daerah kerap menjadi lahan basah untuk tumbuhnya perbedaan cara pandang. Dengan per­bedaan cara pandang tersebut, tak jarang berujung disin­te­grasi dalam internal pe­merin­tahan. Fenomena tidak akur­nya pasangan kepala daerah bukan menjadi sesuatu yang baru. Integrasi pasangan kepa­la daerah cenderung tampak ketika kampanye. Setelah terpilih, cenderung memudar. sehingga mereka berjalan sendiri meskipun masa jaba­tan­nya masih berlangsung.     

Harmonisasi menjadi ke­ha­rusan bagi pasangan Kepala Daerah untuk menciptakan suasana kondusif dalam peme­rintahan, baik antara kepala daerah dengan wakilnya, mau­pun dalam internal penye­leng­garan pemerintahan da­erah. Tidak ada lagi rivalitas maupun persaingan dalam mewujudkan ambisi pribadi atau golongan, karena hanya akan mengganggu proses pem­­ba­ngunan. Dengan har­monisasi, penguatan lembaga menjadi memungkinkan, ka­re­na benturan kepentingan antar elit terminimalisir.

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun (2): Kita Sungguh Perlu Bersatu

Keselarasan antara Kepala Daerah dan Wakilnya sangat penting dalam proses pem­bangunan politik di suatu daerah. Karena, pembangunan politik membutuhkan si­ner­gitas, bukan rivalitas. Siner­gitas menandakan sebuah harmonisasi telah mekar da­lam lingkaran pemerintahan. Kenapa proses pembangunan politik itu membutuhkan si­ner­gitas? Tentu karena dalam pembangunan kita akan ber­bicara perkembangan dan pertumbuhan peran-peran fung­sional yang saling terin­tegrasi dalam suatu lembaga maupun komunitas. Peran-peran tersebut tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi mereka telah terintegrasi satu dengan lainnya. Dan disa­nalah letak sinergitas tadi.        

Berbicara lembaga politik, interaksi-interaksi yang terjadi di dalamnya merupakan inte­raksi yang sadar. Artinya, apa yang terjadi didalamnya bu­kanlah sesuatu yang diluar kesengajaan. Masing-masing pihak memiliki peran dan fungsi masing-masing. Se­hing­ga peran-peran tersebut melahirkan semacam tuntutan dan konsekuensi politik.

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun(1) : Ekonomi Menyedihkan

Kepala daerah beserta wakil, tentu paham bagaimana posisi mereka terhadap peran dan fungsi pembantunya da­lam kerja pemerintahan. Jadi, pasangan pemimpin daerah ini memegang peranan penting dalam menjaga ritme, terlebih mereka menjadi tauladan dalam pemerintahan. Sebagai teladan baik itu oleh ASN maupun sipil sudah sepatut­nya sinergi antara kepala da­erah dengan wakilnya menjadi utama dalam bekerja, agar dapat menular kepada bawa­han­nya. Ibarat Trickle down Effect, semangat dan sinergi itu akan berimbas kepada lingkungannya. Sehingga se­ma­ngat pemimpin, juga men­ja­di semangat bawahannya

Keberadaan pemerintah, menandakan struktur masih jalan. Dalam menangani se­tiap persoalan, struktur ter­sebut dibutuhkan agar peran-peran fungsional dapat diin­te­grasikan. Dan, untuk menga­tur peran-peran fungsional lembaga, integrasi kepala daerah dan wakilnya diperlu­kan. Integrasi tersebut tentu seperti kesatuan visi dan misi. Karena, dengan demikian cara kerja dan pengimple­menta­sian­­nya dapat disimbiosis mu­tualismekan.

Menurut Huttington, mem­­perkuat lembaga politik merupakan suatu kebutuhan jika ingin pembangunan poli­tik berjalan lancar. Dengan lembaga politik yang kuat, resistensi dalam menangani konflik-konflik yang muncul saat proses pembangunan dapat terwujud. Seder­ha­na­nya, pembangunan politik membutuhkan lembaga poli­tik yang kuat, baik secara struk­tural maupun fungsional.

Peran lembaga politik be­gitu besar dalam proses pem­bangunan politik. Na­mun, kompetisi elit –terutama kepa­la daerah dan wakil– akan menggerus kekokohan tem­bok peran tadi. Karena, kom­petisi elit yang kuat, membuat lembaga politik menjadi ter­pe­cah kedalam kubu-kubu yang bersaing. Elit yang ber­saing sudah tentu akan me­lakukan mobilisasi massa guna mencari simpatisan, bahkan sampai kepada ma­syarakat. Sehingga, ketimbang sebagai lokomotif pem­bangu­nan, lembaga politik cende­rung menjadi arena persai­ngan. Peranan lembaga politik tertutupi kepentingan elit. Akibatnya, akan terjadi ke­mun­duran dalam proses pem­bangunan politik.

Ada dua ciri-ciri mun­durnya proses pembangunan politik, pertama tidak berkem­bangnya struktur organisasi. Dinamika dan perkembangan zaman pada dasarnya akan memunculkan tuntutan-tun­tu­tan penyesuaian lembaga politik terhadap zaman, mi­sal­nya dalam hal TI. Dinamis menjadi cara yang perlu dila­kukan untuk penyesuaian. Namun, jika lembaga politik lebih cenderung menjadi are­na persaingan elit, perlahan lembaga tersebut akan bobrok dengan sendirinya. Zaman akan menggerus lembaga tersebut.

Kedua, pembahasan yang cenderung ke belakang. Mo­dernisasi merupakan bagian dari pembangunan. Moder­nisasi mengharuskan adanya progress, bukan stagnasi bah­kan regress. Negara-negara berkembang tentu ingin men­jadi seperti negara maju, se­hing­ga kemajuan-kemajuan men­jadi hal yang harus dila­ku­kan. Namun, jika jalur birokrasi dan stabilitas politik terganggu, political will seba­gai instrumen pendukung pembangunan politik akan sulit tercapai. Begitu banyak tabrakan kepentingan. Se­hingga, pembangunan tidak memiliki kemajuan.

Benang Merah

Berbicara lembaga politik, interaksi-interaksi yang terjadi di dalamnya merupakan inte­raksi yang sadar. Artinya, apa yang terjadi didalamnya bu­kanlah sesuatu yang diluar kesengajaan. Masing-masing pihak memiliki peran dan fungsi masing-masing. Se­hing­ga peran-peran tersebut melahirkan semacam tuntutan dan konsekuensi politik.

Kepala daerah beserta wakil, tentu paham bagaimana posisi mereka terhadap peran dan fungsi pembantunya da­lam kerja pemerintahan. Jadi, pasangan pemimpin daerah ini memegang peranan penting dalam menjaga ritme, terlebih mereka menjadi tauladan dalam pemerintahan. Sebagai teladan baik itu oleh ASN maupun sipil sudah sepa­tutnya sinergi antara kepala daerah dengan wakilnya men­jadi utama dalam bekerja, agar dapat menular kepada bawa­hannya. ***

 

IKHSAN YOSARIE
(Analis Pembangunan Politik FISIP Universitas Andalas Padang)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 04 Januari 2021 - 09:37:20 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq

    Prabowo dan Habib Rizieq Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Kamis, 31 Desember 2020 - 20:46:02 WIB

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam TAHUN 2020 segera akan berakhir. Tahun 2021 segera akan tiba. "Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal tahun kelam. Selamat tinggal tahun yang penuh dengan kepahitan hidup. .
  • Senin, 28 Desember 2020 - 14:48:33 WIB

    Catatan Akhir Tahun (2): Kita Sungguh Perlu Bersatu

    Catatan Akhir Tahun (2): Kita Sungguh Perlu Bersatu DARI pengalaman kita selama di tahun 2020 yang nyaris tak berhenti hidup dalam pertengkaran, hidup dalam perseteruan politik dan hukum yang berkepanjangan, sudah selayaknyalah kita mengubah pola hidup begini kepada pola hidup.
  • Ahad, 27 Desember 2020 - 21:15:22 WIB

    Catatan Akhir Tahun(1) : Ekonomi Menyedihkan

    Catatan Akhir Tahun(1) : Ekonomi Menyedihkan Begitu wabah Corona atau Covid-19 dinyatakan mewabah di Indonesia pada bulan Maret lalu, ekonomi langsung anjlok, karena kegiatan pasar langsung stagnan tiba-tiba. Pasar banyak yang ditutup. Mulai dari kegiatan pedagang kaki .
  • Jumat, 25 Desember 2020 - 13:51:03 WIB

    Pendukung Sandiaga Uno: Di Sana Engkau Tersenyum, di Sini Kami Menangis

    Pendukung Sandiaga Uno: Di Sana Engkau Tersenyum, di Sini Kami Menangis Sebagaimana kita ketahui, mantan Calon Wakil Presiden(Cawapres) Sandiaga Uno baru saja dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) bersama 5 orang Menteri lainnya, hasil reshuffl.
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]