Mengurangi Kemacetan Masa Libur Lebaran


Jumat, 01 Juli 2016 - 05:33:31 WIB
Mengurangi Kemacetan Masa Libur Lebaran

Beberapa ruas jalan raya di Sumatera Barat mengalami kemacetan tiap hari. Jalan dari Sungai Buluh sekitar 6 kilometer jelang Bukittinggi dari Padang sering macet. Jarang sekali kendaraan bisa melaju dengan mulus pada ruas jalan tersebut.

Makin dekat masa lebaran, makin  ba­nyak titik lokasi kemacetan di Sumbar. Apalagi masa libur lebaran tahun ini cukup panjang. Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Sumbar libur terhitung tanggal 2-10 Juli 2016.

Diperkirakan mulai tanggal 2 Juli tersebut arus lalu lintas di Sumbar  meningkat. Makin dekat dengan lebaran, maka kepadatan arus lalu lintas akan meningkat pula.

Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Sumbar mencatat setidaknya ada 13 titik lokasi rawan macet di Sumbar selama lebaran. Arah utara, titik kemacetan mulai dari Pasar Lubuk Alung, Pasar Sicincin, objek wisata Lembah Anai, RM Pak Datuak, Sate Mak Syukur, lanjut ke Pasar Koto Baru, Pasar Padang Luar, Pasar Baso hingga Sim­pang Piladang. Sementara jalur arah selatan dimulai dari Simpang Gaung Teluk Bayur, di sepanjang ruas jalan Tarusan-Painan dan Pasar Kambang.

Dishub sendiri memperkirakan pening­katan kemacetan terjadi pada H-3 lebaran, sama dengan puncak arus mudik.

Kemacetan disebabkan keberadaan pasar tumpah yang memakan badan jalan sebagai lahan berjualan. Selain itu ketidak­tersedian lokasi parkir di pasar tumpah tersebut ikut menyumbang kemacetan.

Pemprov Sumbar bersama pemerintah ka­bupaten dan kota yang terkait dengan lo­kasi titik rawan kemacetan ini telah me­ngambil langkah-langkah antisipasi. Ten­tunya yang bisa dilakukan hyanyalah mengu­ra­ngi kemacetan. Untuk meniaadakan keme­catan di masa libur lebaran jelas tidak akan bisa.

Berdasarkan pengalaman, pertambahan kendaraan yang masuk ke Sumatera Barat di masa lebaran bisa mencapai separuh dari kendaraan yang ada di Sumbar, bahkan bisa lebih. Maklum, orang-orang rantau banyak yang menggunakan kendaraan atau mobil untuk pulang kampung, terutama yang berasal dari Provinsi Riau dan Jakarta.

Di masa lebaran, kita menyaksikan banyak kendaraan plat BM dan B menje­lajahi ruas jalan yang ada di Sumbar. Karena itu, kemaceatan sulit  untuk dielakkan. Tapi untuk memperlancar arus lalu lintas pastilah harus ada upaya yang dilakukan pemerintah.

Kebijakan pemerintah untuk melarang truk tempel, truk gandeng, dan truk kontai­ner beroperasi mulai lima hari jelang (H-5) hingga tiga  hari setelah (H+3) Idul Fitri 1437 Hijriah sudah tepat.

Truk yang dilarang beroperasi tersebut yan memiliki sumbu lebih dari dari dua.  Seperti truk pengangkut minyak sawit mentah (CPO), bahan bangunan, batu bara, atau bahan galian lainnya. Namun tidak berlaku bagi truk yang mengangkut sembilan bahan pokok (sembako), kendaraan angku­tan bahan bakar minyak (BBM), atau bahan bakar gas (BBG), ternak, pupuk, susu, serta barang antaran pos.

Kita mengharapkan truk-truk yang diizinkan beroperasi selama masa lebaran dipastikan dalam kondisi baik. Hal ini tentunya untuk menghindari terjadinya mogok di jalan. Jika satu truk saja mogok dipastikan akan terjadi antreran panjang. Jalan Padang-Bukittinggi akhirnya bisa ditempuh dalam waktu 10 jam.

Selain itu, untuk menghindari kemacetan ada baiknya pengguna kendaraan dari Padang-Bukittinggi dan sebaliknya meman­faatkan jalur jalan Sicincin-Malalak. Jalan ini sudah mulus, cuma sayang tidak aman jika dilewati di hari hujan. ***

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]