Ini Aturan Buat yang Mau Makan dan Minum di Kafe Jamban: Disediakan Kantong Muntah


Jumat, 01 Juli 2016 - 14:12:49 WIB
Ini Aturan Buat yang Mau Makan dan Minum di Kafe Jamban: Disediakan Kantong Muntah Cafe Jamban

Semarang - Cafe Jamban yang menuai kontroversi di media sosial ternyata bukan tempat nongkrong biasa. Selain ada kampanye soal jamban, ternyata ada "standart operasional (SOP)" bagi yang ingin nongkrong di sana.

Pertama kali yang harus diperhatikan yaitu jam buka cafe ini yang dibuka per sesi dan biasanya hanya satu sesi perhari antara jam 18.30 WIB sampai 19.30 WIB. Maka pengunjung harus reservasi ke nomor pemiliknya yaitu Dr. dr. Budi Laksono (52) di nomor 081228017060 atau yang tertera di spanduk atas nama Kardi, 081225905091.

Setelah reservasi, maka datanglah sesuai waktu yang disepakati. Sesampainya di kafe yang berada di Jalan Untung Suropati nomor 445 itu, maka tangan pengunjung akan disemprot dengan air campuran alkohol agar higienis sebelum masuk.

Pengunjung akan menemui delapan tempat duduk yang terbuat dari jamban duduk dan mengelilingi meja berupa kotak kayu. Namun siapa sangka kursi unik tersebut ternyata cukup nyaman untuk diduduki dengan sandaran busa.

Kafe yang berdiri sejak dua bulan lalu itu bertujuan untuk kampanye pentingnya jamban, oleh sebab itu akan ada sesi persentasi dari Budi dengan diawali perkenalan. Usai perkenalan Budi akan menjelaskan kondisi sanitasi di Indonesia termasuk usahanya bersama relawan untuk pengadaan jamban di berbagai daerah.

"Saya akan persentasi soal visi misi dan peranan mereka yang datang itu apa," terangnya saat ditemui Kamis (30/6) sore.

Sembari mendengarkan penjelasan Budi dan saling berinteraksi, pengunjung akan disuguhkan makanan kecil di meja kayu tersebut. Namun ketika sesi persentasi usai, maka Budi akan menyingkirkan makanan kecil dan membuka meja dari kotak kayu. Ternyata di dalam kotak kayu itulah dua jamban jongkok berwarna merah muda dibuat menjadi tempat menyajikan makanan dan minuman.

"Ini sebenarnya atraksinya. Biasanya kalau makanan ya bakso, mengambang, minumannya koktail buah, sehat," terangnya.

Budi menjelaskan, tempat makanan berbentuk jamban itu sudah steril dan memang mudah dibersihkan karena terbuat dari keramik. Bentuk jambannya pun ternyata memiliki nilai edukasi karena merupakan jamban amfibi buatan Budi.

"Jadi ini jamban amfibi, kalau tempatnya kering minim air maka bisa dimiringkan dan langsung ke lubang," terangnya.

Uniknya, Budi menyiapkan kantong muntah bagi pengunjung yang tidak kuat melihat makanan di jamban. Tapi dari sekitar 200 tamu yang sudah datang, ternyata tidak ada yang menggunakan.

"Ini ada kantong dan toilet jaga-jaga kalau ada yang muntah. Ternyata tidak pernah dipakai. Paling mentok memalingkan muka," ujar Budi.

Setelah "atraksi" dilalui, maka Budi berharap pengunjung menyadari peran masing-masing untuk kampanye jamban, misalnya memberikan sosialisasi di daerah masing-masing atau menjadi relawan. Lalu berapa biayanya?

"Sebenarnya gratis, tapi kita ada kotak donasi. Paling satu sesi itu terkumpul Rp 50 ribu, tidak masalah," tandas Budi.

"Dengan adanya kita makan di sini, maka melihat pentingnya jamban. Tidak perlu jijik," imbuhnya. (Baca juga: Kisah Cafe Jamban di Semarang yang Tuai Pro Kontra, Mau Coba?)

Diketahui, kafe milik Budi tersebut menjadi viral di media sosial, ada yang berkomentar positif dan ada yang negatif sampai menghujat. Kebanyakan merasa jijik dengan jamban tersebut, meski sebenarnya di luar negeri sudah banyak kafe yang memakai ide unik tersebut.


(alg/dra)

 

Baca Juga : TNI AL Sebut Kemungkinan CVR Pesawat Sriwijaya Air SJ182 Tertancap di Lumpur

Sumber : detik.com --> http://bit.ly/29flTta

 

Baca Juga : Ternyata Ini Rahasia Suku Badui Nol Kasus Covid-19

sa

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu, 23 Januari 2021 - 10:36:53 WIB

    TNI AL Sebut Kemungkinan CVR Pesawat Sriwijaya Air SJ182 Tertancap di Lumpur

    TNI AL Sebut Kemungkinan CVR Pesawat Sriwijaya Air SJ182 Tertancap di Lumpur Bagian memori CVR (cockpit voice recorder) Sriwijaya Air SJ182 masih belum ditemukan. TNI AL menduga bagian yang merekam data percakapan atau suara di kokpit pesawat itu tertancap di lumpur..
  • Sabtu, 23 Januari 2021 - 10:07:06 WIB

    Ternyata Ini Rahasia Suku Badui Nol Kasus Covid-19

    Ternyata Ini Rahasia Suku Badui Nol Kasus Covid-19 Masyarakat adat Badui di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten hingga kini belum ditemukan kasus positif penyebaran pandemi Covid-19. Hal itu terjadi karena mereka disiplin, dengan tidak ke luar.
  • Sabtu, 23 Januari 2021 - 09:54:35 WIB

    Duh, Kepala BNPB Doni Monardo Umumkan Dirinya Positif COVID-19

    Duh, Kepala BNPB Doni Monardo Umumkan Dirinya Positif COVID-19 Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Doni Monardo mengumumkan dirinya positif tertular virus Corona menyusul aktivitas padat dalam sepekan terakhir memimpin penanggulangan bencana gempa bumi Sulawesi Barat dan banjir Kalima.
  • Sabtu, 23 Januari 2021 - 08:08:07 WIB

    Kemenkes Akui Vaksinasi Tahap I Belum Optimal Menangkal Covid-19

    Kemenkes Akui Vaksinasi Tahap I Belum Optimal Menangkal Covid-19 Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi mengakui, vaksinasi tahap pertama yang dilakukan pemerintah dalam beberapa hari kemarin, belum optimal untuk menangkal virus corona..
  • Sabtu, 23 Januari 2021 - 07:56:59 WIB

    10 Maskapai Teraman di Dunia 2021, Tak Ada dari Indonesia

    10 Maskapai Teraman di Dunia 2021, Tak Ada dari Indonesia Situs keselamatan penerbangan dunia AirlineRating.com kembali mengumumkan peringkat maskapai teraman di dunia pada 2021. Dari 385 maskapai penerbangan di dunia hanya tercatat 10 maskapai yang dinyatakan memiliki keamanan terb.
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]