Korupsi TPPU Penyimpangan BBM

Sempat Bebas, Yusri Divonis 15 Tahun


Sabtu, 02 Juli 2016 - 03:09:30 WIB
Sempat Bebas, Yusri Divonis 15 Tahun Ilustrasi.

PEKANBARU, HALUAN — Mah­kamah Agung Republik Indonesia menjatuhkan vonis bersalah terhadap Yusri yang sebelumnya sempat diputus bebas oleh Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Pe­kan­baru. Tak tanggung-tang­gung, Yusri di­vonis 15 tahun penjara. Sedang­kan vonis Du Nun alias Aguan alias Anun, melejit dari 4 tahun menjadi 17 tahun penjara.

Keduanya merupakan pe­sakitan kasus korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang penye­lewengan migas yang turut men­jerat sejumlah nama lainnya yang belum diputus oleh MA.

Baca Juga : Lari Pagi Bersama Sandi Uno, Audy Joinaldy Bahas Strategi Pengembangan Pariwisata Sumbar

Saat dikonfirmasi, Kepala Seksi Pidana Khusus Kejak­saan Negeri Pekanbaru, Darma Natal, Jumat (1/7) menga­takan, ke­pastian melejitnya vonis kedua pesakitan tersebut se­telah pihak­nya menerima sa­linan petikan putusan dari MA. Menariknya, putusan terhadap keduanya di­tan­­da­tangani oleh majelis hakim yang diketuai Artijo Alkostar.

“Berdasarkan putusan No­mor : 2170 K/PID.SUS/2015, putusan Yursi menjadi 15 tahun, dan denda Rp5 miliar subsider 1 tahun penjara,” ung­kap Darma kepada Haluan Riau di ruang kerjanya.

Baca Juga : Khusus Januari-Februari, Emersia Hotel Batusangkar Beri Paket Khusus Spesial Deal Rindu

Selain itu, lanjut Darma, man­tan Senior Supervisor Per­tamina Re­gional I Tanjung Uban tersebut ju­ga diwajibkan mem­bayar uang peng­ganti ke­rugian negara sebesar Rp1,2  mi­liar subsider 2 tahun pen­jara.

Sementara, terhadap Du Nun, MA memperbaiki putu­san Pe­ngadilan Tinggi Pekan­baru No­mor : 18/Pid Sus-TPK/2015/PT.PBR yang mem­ba­talkan putu­san Pengadilan Ti­pikor pada PN Pekanbaru No­mor : 07/Pid.Sus-TPK /2015/PN.PBR.

Baca Juga : Tiket Masuk Wisata Pantai Gandoriah Bakal Mulai Gunakan Sistem Elektronik

Dalam putusan tersebut, MA menyatakan Du Nun telah ter­bukti secara sah dan meya­kinkan bersalah dalam per­kara tersebut. Du Nun dijatuhi vonis penjara 17 tahun dan denda sebanyak Rp5 miliar subsider 1 tahun dan empat bulan. Ia juga diwajibkan mem­bayar uang pengganti kerugian negara Rp­72,4 miliar.

“Jika tidak memiliki uang, maka hartanya akan disita untuk negara. Jika tidak cu­kup, maka diganti dengan pidana kurungan selama 8 tahun,” lanjut Darma.

Baca Juga : Sebelum Berwisata, Cek Dulu Prakiraan Cuaca Destinasi Wisata Sumbar Berikut Ini

Dalam perkara ini, turut men­jerat nama Achmad Mach­bub alias A Bob alias Kapten Ahmad, Ni­wen Khairiyah, dan Arifin Ah­mad. Terkait nama-nama ter­dak­wa tersebut, Dar­ma menyebut ma­sih menung­gu putusan dari MA. “Belum turun putusannya. Ki­ta masih tung­gu,” pungkas Dar­ma.

Seperti diketahui, dalam pu­tusan majelis hakim yang di­sampaikan pada per­si­da­ngan yang digelar Kamis (18/6) tahun lalu, menyatakan ka­lau A Bob terbukti secara sah dan me­ya­kinkan bersalah tu­rut serta me­lakukan tindak pi­dana korupsi dan TPPU se­ba­gai­mana dakwaan primer JPU yang disusun dalam ben­tuk kom­binatif, kulmulatif dan al­ter­natif.

Meski begitu, dalam per­tim­bangan hukumnya, majelis ha­kim me­nyatakan kalau A Bob tidak me­nikmati uang hasil tin­dak pida­nanya. Se­hing­ga vonis mini­mum dija­tuh­kan terhadap ter­dakwa A Bob yang diduga seba­gai otak perkara ini.

Sehing­ga vo­nis pidana se­lama 4 tahun penjara dan denda sebesar Rp­200 juta subsider 6 bulan ku­rungan, dija­tuh­kan ter­hadap A Bob yang dise­but-sebut sebagai raja minyak di Ba­tam.

Hal yang sama juga ber­la­ku untuk terdakwa berikutnya, yakni Du Nun alias Aguan alias A Nun yang dikenal sebagai raja ruko di Bengkalis.

Begitu juga, terkait sejum­lah barang bukti berupa harta keka­yaan yang sebelumnya sempat disita penyidik Bares­krim Mabes Polri dan Kejak­saan, dikem­balikan kepada masing-masing terdakwa.

Berikutnya, terhadap tiga ter­dak­wa lainnya, Niwen Khai­riyah, Yusri, dan Arifin Ahmad, dinya­takan tidak terbukti melakukan tindak pidana ko­rupsi sebagai­mana dakwaan JPU. Menurut hakim, keti­ganya tidak menge­tahui kalau uang yang masuk ke reke­ningnya merupakan hasil tin­dak pidana penyelewengan BBM. Untuk itu, majelis ha­kim meme­rintah­kan agar tiga terdakwa yang divonis bebas, agar dikeluarkan dari Rumah Tahanan Negara dan diminta agar nama baik ketiga terdakwa dipulihkan.

Putusan majelis hakim yang diketuai Achmad Setyo Pudjo­harsoyo tersebut sangat rendah dibandingkan tuntu­tan Jaksa Penuntut Umum, yakni me­nuntut terdakwa Arifin Ahmad, dengan pidana penjara selama 15 tahun, den­da Rp1 miliar subsidair 6 bu­lan penjara, serta membayar uang pengganti keru­gian nega­ra sebe­sar Rp86 juta atau sub­sider 1 tahun penjara. Ter­dakwa Du Nun, A Bob dan Ni­wen Khairiyah, di­tuntut de­ngan pidana penjara se­lama 16 tahun dan denda Rp1 mi­liar atau subsider 6 bulan pen­jara.

Sementara untuk uang peng­­ganti kerugian negara, terdakwa Du Nun dibebankan membayar Rp67,8 miliar atau subsider 8 tahun penjara, ter­dakwa A Bob dibebankan mem­bayar uang peng­ganti sebe­sar Rp27,8 miliar subsi­der 8 tahun penjara.

Sementara, terhadap Niwen Khairiyah dibe­ban­kan membayar uang peng­ganti kerugian negara sebesar Rp6,6 miliar atau sub­sider 5 tahun penjara.

Terakhir, untuk terdakwa Yus­ri dituntut dengan pidana penjara 10 tahun, denda Rp1 miliar atau subsider 6 bulan penjara. Serta membayar uang pengganti keru­gian negara sebesar Rp1,022 miliar atau subsidair 3 tahun penjara. (/hr/dod)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]