Dari Tatap Muka, Kartu Lebaran, Hingga Interaksi Virtual

Ekspresi Lebaran Ikuti Tren Zaman


Sabtu, 02 Juli 2016 - 05:21:49 WIB
Ekspresi Lebaran Ikuti Tren Zaman Ilustrasi.

Minal aidin wal faizin. Uca­p­an ini sering diterima saat merayakan ha­ri Raya Idul Fitri. Baik itu dari anak kepada orang tua, istri kepada suami, murid ke­pada guru, teman kepada te­man, maupun kepada yang lebih kecil.

Ucapan ini mulanya diringi gerak tangan untuk berjabat, mimik wajah ceria, dan penuh kebahagiaan dan itu disaksikan langsung.  Ini pun terus ber­langsung setiap kali lebaran kembali menjelang.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq

Namun, sadar atau tidak ada perubahan yang terjadi dari tahun ke tahun dalam pem­berian ucapan lebaran di masya­rakat. Interaksi primer dengan ber­tatap muka langsung yang sebe­lumnya lazim dilakukan beru­bah kepada interaksi se­kun­der dengan menggunakan kartu lebaran, hingga yang terbaru menggunakan melalui media sosial. Tak sedikit yang me­ng­guna­kannya, bahkan ge­ne­rasi se­be­lum­nya yang tak melek teknologi se­akan dipak­sa untuk mam­pu dan pin­tar memanf­a­at­kan media ini.

Junaidi (45) misalnya, do­sen di salah Perguruan Tinggi (PT) di Padang ini . Ia masih melakuan inetraksi pri­mer ini, namun sangat terbatas pada orang tertentu saja. Di­samping itu Ia juga memakai gadget dengan memanfaatkan jejaring sosial yang telah ia unduh terlebih dahulu.

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

“Jika dilihat dari makna se­benar­nya lebaran merupakan hari kemenangan dan kesucian, di­mana manusia kembali ke fitrah­nya.  Namun, untuk mengu­cap­kannya ada dengan cara datang langsung kerumah-rumah dan ada yang melalui berbagai media. Datang langsung tentu ke rumah orang tua, sanak family yang dekat. Namun, yang tidak ter­jangkau dahulunya masih me­makai kartu lebaran namun saat ini cenderung lebih me­manfaat­kan media sosial saja, karena lebih efektif,” tukasnya.

Hal yang sama juga dilakukan Lismayenti (35), dari sebelumnya mengucapkan lebaran dengan mendatangi langsung family, namun seiring perkembangan teknologi, ia juga mencoba me­manfaat­kan media sosial yang ada untuk memberikan ucapan selamat lebaran. “Teknologi ma­kin canggih sehingga sangat memudahkan kita dalam be­rin­teraksi,” tukasnya.

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun (2): Kita Sungguh Perlu Bersatu

Lain dengan Junaidi, Rama (21) mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) ini misalnya, ia memaknai lebaran merupakan waktu yang tepat untuk menjaga tali silaturahmi, baik kepada sanak family maupun kepada kerabat.

Hanya saja ia lebih dominan mengutarakan melalui BBM, Face­book, dan teknologi lainnya. “Karena melalui media sosial sangat gampang dan tidak me­ma­kan banyak waktu. Palingan yang habis hanya paket data, dan itu bisa dilakukan dalam satu kali pencet bisa untuk ke semua kontak yang ada, jadi lebih prak­tis,”ungkapnya kepada Haluan kemarin.

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun(1) : Ekonomi Menyedihkan

Pangkas Jarak Sosial

Sementara pengamat sosial Universitas Negeri Padang (UNP), Erianjoni, kepada Haluan menga­takan, fenomena teknologi yang ada saat ini memang telah meng­geser interkasi sosial yang ada di masyarakat. Kehadiran teknologi saat ini telah memangkas jarak sosial seseorang di masyarakat dari yang dulunya interaksi primer menjadi interaksi sekunder atau interaksi virtual.

“Kondisi itu sebenarnya tidak selamanya buruk, namun pada konteks tertentu sangat merugi­kan dalam kehidupan sosial, karena akan membuat seseorang menjadi individualisme,” terangnya.

Ini kata Erianjoni dapat di­lihat dari interkasi sosial se­seorang dalam memberikan uca­pan selamat lebaran. Dimana dahulunya di­lakukan dengan bertatap muka langsung yang menampakkan gerak, mimik wa­jah, dan adanya perpaduan emo­sional yang dikenal dengan interaksi primer.

 “Namun, ini berubah seiring zaman dengan bertukar kartu lebaran. Ini masih bisa dibilang bagus, karena ucapan yang di­berikan masih memiliki kekhasan dan memakai bahasa yang men­yentuh,”tuturnya.

Itu pun berubah seiring de­ng­an kemunculan telepon pintar yang membuat orang mempunyai banyak jaring sosial yang memu­dahkan untuk berinteraksi secara virtual. “Disini lah baru terlihat adanya pemangkasan jarak sosial atau kohesi sosial. Akibatnya, akan membuat yang jauh menjadi dekat, sementara yang dekat menjadi jauh. Karena mereka sibuk masing-masing dengan gandget-nya,”pungkas Erianjoni.

Selain itu lanjut Erianjoni, interaksi sosial virtual seperti ini hanya akan membuat sistem kapitalisme semakina meruyak di masyarakat. Karena dengan kemu­dahan yang ditawarkan provider dalam bekomunikasi membuat masyarakat malah makin terpaku di depan gadget masing-masing. “Seharusnya bisa berkomunikasi dengan sanak family, malah sibuk berselancar di dunia interkasi virtual,”ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan Psikolog dari RSJ HB Saanin Padang, Kuswandani. Dengan penggunaan sarana media sosial dalam mengucapkan selamat lebaran membuat interaksi yang seharusnya berlangsung inten malah menjadi interaksi yang hambar. Karena menurutnya, tidak tepat apabila untuk ucapan Lebaran dilakukan melalui telpon pintar.

“Bagusnya tentu harus dila­kukan secara langsung, sehingga bisa terlihat keikhlasan dan ketu­lusan dalam meminta maaf. Kalau melalui telepon pintar ini yang tidak terlihat, apakah ketika mengirim pesan ia tertawa atau malah sedang sedih, jadinya hambar saja,”katanya.

Harus  Bijak Memakai Teknologi

Bundo Kanduang Sumbar, Puti Reno Raudah Thaib, menga­takan ucapan Lebaran afadlanya memang dilakukan secara tatap muka. Sehingga akan terlihat bagaimana raut wajah, suara dan juga ketulusan dalam mengu­capkan selamat lebaran.

“Akan berbeda tentunya apa­bila menggunakan media sosial sebagai wadahnya. Kadang pesan yang disampaikan tidak lagi memandang umur, cukup hanya satu pesan, lalu dikirim ke semua. Itu tidak bijak,”ungkapnya.

Bukan tanpa alasan kata Rha­u­dah, seperti yang digambarkan dalam adat di Minangkabau, bahwa ada kato nan ampek, di­mana dalam bertutur telah harus memperhatikan lawan bicara. “Sehingga muncul pilihan kata yang baik dan santun sesuai dengan umur lawan bicara. Ini yang tidak terlihat lagi, karena sudah digital,”tuturnya.

Melirik kemasa lalu kata Rhau­dah, dimana masih berlaku kartu lebaran. Orang mengirim kartu lebaran sesuai dengan perun­tukannya dengan bahasa yang pas pula karena dibuat khusus. “Ka­lau sekarang dengan pekem­bang­an gadget dan kecanggihan tek­no­logi membuat ucapan selamat lebaran ini menjadi hambar tanpa makna,”tukasnya. 

Ungkapan senada juga di­dengung­kan Ketua Lembaga Ke­rapatan Adat Alam Minang­kabau (LKAAM), Sayuti Dt. Rajo Pang­hulu. Menurutnya, ko­muni­kasi itu harus tampak muko, tadanga suaro (Tampak wajah dan terdengar suara, red), dan memiliki tujuan yang jelas. Na­mun, sekarang de­ngan peng­gunaan teknologi malah meng­hilangkan syarat tersebut, sehing­ga komunikasi yang di­lakukan tidak dapat komunikasi secara adat.

“Kita tentu tidak men­yalah­kan teknologi, akan tetapi itu lebih kepada bijak menggunakan teknologi,”ungkapnya. (**)

 

Laporan: ISRA CHANIAGO DAN KHAIRUDIN

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 04 Januari 2021 - 09:37:20 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq

    Prabowo dan Habib Rizieq Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Kamis, 31 Desember 2020 - 20:46:02 WIB

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam TAHUN 2020 segera akan berakhir. Tahun 2021 segera akan tiba. "Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal tahun kelam. Selamat tinggal tahun yang penuh dengan kepahitan hidup. .
  • Senin, 28 Desember 2020 - 14:48:33 WIB

    Catatan Akhir Tahun (2): Kita Sungguh Perlu Bersatu

    Catatan Akhir Tahun (2): Kita Sungguh Perlu Bersatu DARI pengalaman kita selama di tahun 2020 yang nyaris tak berhenti hidup dalam pertengkaran, hidup dalam perseteruan politik dan hukum yang berkepanjangan, sudah selayaknyalah kita mengubah pola hidup begini kepada pola hidup.
  • Ahad, 27 Desember 2020 - 21:15:22 WIB

    Catatan Akhir Tahun(1) : Ekonomi Menyedihkan

    Catatan Akhir Tahun(1) : Ekonomi Menyedihkan Begitu wabah Corona atau Covid-19 dinyatakan mewabah di Indonesia pada bulan Maret lalu, ekonomi langsung anjlok, karena kegiatan pasar langsung stagnan tiba-tiba. Pasar banyak yang ditutup. Mulai dari kegiatan pedagang kaki .
  • Jumat, 25 Desember 2020 - 13:51:03 WIB

    Pendukung Sandiaga Uno: Di Sana Engkau Tersenyum, di Sini Kami Menangis

    Pendukung Sandiaga Uno: Di Sana Engkau Tersenyum, di Sini Kami Menangis Sebagaimana kita ketahui, mantan Calon Wakil Presiden(Cawapres) Sandiaga Uno baru saja dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) bersama 5 orang Menteri lainnya, hasil reshuffl.
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]