Badua Dari Rumah ke Rumah di Parit Dalam


Rabu, 06 Juli 2016 - 21:35:07 WIB
Badua Dari Rumah ke Rumah di Parit Dalam MAKAN BADUA--Peserta tradisi Badua dari rumah ke rumah di Parit Dalam, Payakumbuh, tengah menikmati santapan di salah satu rumah penyelenggara gelaran Badua, Rabu (6/7) YOLA SASTRA

Badua Dari Rumah ke Rumah di Parit Dalam

Oleh : Yola Sastra

 

BEGITU khatib menutup khutbah dengan salam, sekitar seribuan jemaah di Lapangan Salat Id Jorong Parit Dalam, Kenagarian Taeh Baruah, Kecamatan Payakumbuh, menyebar. Saat itu sekitar pukul 09.00 WIB, masing-masing warga berduyun-duyun pulang ke rumah, sembari sesekali menyempatkan bersalaman dengan kenalan ataupun karib kerabat yang berpapasan di jalan.

Di rumah salah seorang warga, Ita (46), keluarga kecilnya dan beberapa keponakan dan berkeluarga pun sudah berkumpul. Tiga kepala keluarga di rumah itu dan anggotanya—kebanyakan balita—menyantap hidangan hari raya. Di atas meja berukuran 1x3 meter itu, terhidang rendang, ayam goreng cabe merah, sup daging sapi, serta beraneka kue dan agar-agar.

Selesai santap pagi lebaran, tiba-tiba Mak Mite, tetangga Ita, datang. Ia mengajak para lelaki yang tengah bercengkrama di rumah petak model lama itu untuk Badua (berdoa) hari raya di rumahnya. Namun, yang punya rumah (Ita,red) balik mengajak untuk Badua di kediamannya. Para lelaki pun berunding, lalu diputuskan bahwa Badua (baca: Badu’a) dilakukan di rumah Ita terlebih dahulu, lalu ke rumah keponakan Ita, terakhir di rumah Mak Mite.

Tradisi Badua dimulai dengan makan. Jarang-jarang ada orang yang pergi Badua tidak makan di rumah tersebut. Karena di Parit Dalam, kata Ita, pergi raya berarti pergi makan. Kalau tidak makan, berarti tidak pergi raya.

Hanya beberapa orang yang sudah benar-benar kenyang yang tidak makan. Biasanya tuan rumah agak sedikit kecewa bila makanannya tidak disentuh oleh sanak saudara dan tetangga yang berkunjung.

Seusai makan dan beramah-tamah, barulah Badua dipanjatkan kepada yang Maha Kuasa. Berbagai doa disampaikan, mulai dari doa meminta keselamatan bagi tuan rumah, doa minta rezeki dan panen yang berkah, doa minta kesejahteraan bagi anak-anak pemilik rumah, hingga doa minta ketenangan bagi orang-orang tua dan para leluhur.

“Kita juga meminta kepada Tuhan agar orang tua-tua di rumah ini mendapatkan tempat yang layak di akhirat,” ujar Ita seusai Badua di rumahnya, Rabu (6/7).

Biasanya, Badua sambung-menyambung dari satu rumah ke rumah lainnya. Tergantung siapa saja pesertanya. Menurut Iyar (52), kakak laki-laki Ita, bahkan satu rombongan bisa menyinggahi sepuluh rumah. Karena begitu banyaknya rumah yang dikunjungi, jangan heran bila peserta Badua makan sedikit saja. Satu sendok nasi dan satu potong lauk.

“Tiap-tiap anggota mengajak Badua ke rumah mereka masing-masing. Kadang sepuluh orang, sepuluh pula rumahnya. Kalau tidak kuat lagi makan, pergi duduk-duduk saja. Yang penting pergi bermaaf-maafan,” terang pria yang bekerja sebagai petani ini.

Selanjutnya, kata Iyar, Badua Idul Fitri nyaris sama dengan Badua menjelang Ramadan. Bedanya, Badua menjelang Ramadan mendatangkan seorang Ustad untuk berdoa dan dilakukan hanya bagi orang yang mampu, sementara Badua Hari Raya Idulfitri tidak mendatangkan Ustad khusus dan dilakukan hampir di setiap rumah.

Tradisi Badua sudah berlangsung sejak dahulu. Kata Ita, waktu ia masih sekolah dasar, di rumahnya setiap Idulfitri sudah ada acara Badua. Namun dibandingkan dengan zaman dulu, zaman sekarang Badua tak begitu ramai. Ita menduga, hal itu terjadi karena tak banyak para perantau yang pulang. Begitu pula dengan kondisi ekonomi masyarakat di kampung yang serba kekurangan.

“Mungkin karena ekonomi yang sulit, para perantau banyak yang tidak pulang. Ekonomi di kampung juga sulit. Banyak petani di sini yang sawahnya merugi karena padinya hampa. Belum lagi sekarang bertepatan pula dengan awal masa sekolah yang butuh biaya besar,” ujar Ita.

Meskipun tujuan Badua adalah berdoa kepada yang Mahakuasa, keutamaan dari Badua tetaplah menjalin silaturahmi antar sesama. Terlepas bagaimana cara manusia bersyukur dan berdoa kepada Tuhan; dan apakah doanya diterima atau tidak, yang terpenting adalah silaturahmi. Saling mengunjungi, saling memaafkan. Dengan demikian, akan tercipta kerukunan dan kekompakan di dalam hidup bermasyarakat.

“Di hari raya kita bersilaturahmi. Saling memaafkan satu sama lainnya,” pungkas Ita.(*)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]