Basko: Pak Hasan dan Kisah Minang Plaza


Senin, 11 Juli 2016 - 01:01:09 WIB
Basko: Pak Hasan dan Kisah Minang Plaza

Oleh: H Basrizal Koto

Lama saya tercenung membaca info di Group WA (WhatsApp) yang mengabarkan Pak Hasan Basri Durin (HBD) meninggal dunia pukul 00.30 WIB, Sabtu 9 Juli 2016 di Jakarta. Pikiran dan hati saya berkecamuk. Saya dan keluarga sedang berada di luar negeri dan baru kembali ke tanah air 13 Juli lusa. Sementara Pak Hasan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Sabtu siang.

Baca Juga : Safari Jumat, Kapolsek Tilatang Kamang Bagikan Nasi Kotak

Ada rasa sesal yang menyusup. Sedih. Sangat sedih sekali. Tak terasa, air mata saya menetes. “Pak Hasan, hanya doa yang bisa saya kirimkan. Semoga Bapak khusnul khotimah, diterima segala amal dan ditempatkan di sisi Allah SWT yang terbaik. Amin YRA.

Dalam kegundahgulanaan saya mendapat kabar duka itu di negeri orang, sepenggal demi sepenggal saya tulis kenangan saya tentang Pak Hasan melalui sms dan WA. Lalu saya kirim kepada Zul Effendi, Pemimpin Umum Haluan untuk diedit dan diterbitkan di Haluan, Haluan Riau dan Haluan Kepri.   

Baca Juga : Rumah Tahfidz Quran Al Hajjar Pessel Diresmikan

 Bagi saya, Pak Hasan sudah seperti orang tua saya sendiri. Ketika saya masih mudo matah, di usia 30 tahunan, saya dapat telepon dari Pak Hasan yang kala itu Gubernur Sumbar. Kalau saya tidak salah ingat, itu sekitar tahun 1992. “Bas, iko Pak Hasan, Gubernur Sumbar. Bas, kami undang ka Padang basamo pengusaha-pengusaha asal Minang lainnyo untuak mambangun kampuang halaman,” begitu kira-kira kalimat Pak Hasan yang masih terngiang di telinga saya. Logat dan nada khas suara Pak Hasan, tidak akan pernah bisa saya lupakan.

Saya terkesima. Bangga bercampur kecut. Siapalah saya, anak muda yang masih belajar merintis usaha di Pekanbaru, ditelepon dan diundang oleh Gubernur Sumbar Hasan Basri Durin untuk membangun kampung halaman. Usut punya usut, belakangan saya tahu, nama saya rupanya direkomendasi oleh Uda H Basril Djabar yang saat itu menjabat Ketua Kadinda Sumbar.

Baca Juga : Jembatan Putus Akibat Banjir, Warga Kampung Salak Jalamu Pessel Terisolasi

Tak tanggung-tanggung, dan ini yang membuat darah saya berdesir. Selain saya, Pak Hasan ternyata juga mengundang sederet pengusaha beken asal Minang di zaman itu, antara lain Uda Aminuzal Amin, Uda Abdul Latief,  Uda Fahmi Idris, Uda Nasroel Chas dan Uda Is Anwar. Disanding dengan senior-senior saya itu, saya adalah anak mudo matah, kala itu. Baik dari segi umur maupun usaha.

Walau darah sedikit badampuang, tetap saya penuhi undangan Pak Hasan untuk pulang ke Padang. Sudah jadi sikap hidup saya dari dulu sampai kini, jika ada tantangan, berpantang saya mengelakkan. Saya berpikir, tidak ada yang tidak mungkin, bila saya mau. Apalagi ini yang memberikan tantangan Pak Hasan, Gubernur Sumbar yang saya kagumi.

Baca Juga : Pasien Sembuh Covid-19 di Sumbar Mencapai 23.934 Kasus

Begitulah, singkat cerita, undangan Pak Hasan kepada saya dan sejumlah pengusaha nasional itu, akhirnya melahirkan Nagari Development Corporation (NDC). Perusahaan ini bertujuan untuk mendorong perekonomian masyarakat Sumatra Barat. Sejumlah rencana, salah satunya membangun kawasan Gunung Padang, bergulir saat itu. Karena saya masih muda, ya, saya hanya bisa sato sakaki dalam rencana besar tersebut.

Meski rencana besar itu akhirnya tidak terwujud oleh sesuatu dan lain hal, namun saya melihat betapa serius dan sungguh-sungguhnya Pak Hasan, memikirkan dan mengupayakan berbagai terobosan untuk membangun Sumbar. Termasuk menarik dan mendorong potensi rantau untuk terlibat aktif membangun daerah ini. Langkah Pak Hasan itu, saya lihat, mendapat dukungan penuh dari berbagai kalangan, terutama Ketua Kadinda Uda Basril Djabar yang all-out membangun komunikasi ranah dan rantau. Ah, sekarang saya merindukan masa-masa seperti itu.

Setelah NDC tidak bisa terwujud, saya beberapa kali tetap berkomunikasi dengan Pak Hasan, termasuk dengan Uda Basril Djabar. Cerita tetap sama. Bagaimana cara membangun kampung. Akhirnya, sekitar tahun 1993, saya sampaikan niat saya kepada Pak Hasan dan Uda Basril untuk membangun mall di Jalan Hamka, Air Tawar. Walau banyak orang kala itu, tidak percaya dan bahkan mengganggap saya ‘gila’ mau membangun mall di pinggiran kota –saat itu yang dianggap pusat kota adalah sekitaran Terminal Lintas Andalas sampai Jalan Veteran. Apalagi tahun 90-an itu, belum terbayang ada gaya belanja mall di Sumatra Barat, karena memang belum ada satu pun mall di daerah ini.

Kendati banyak yang meragukan dan bahkan menganggap saya ‘gila’ dengan ide membangun mall, tapi tidak demikian dengan Pak Hasan. Pemikiran Pak Hasan, agaknya sama dengan yang saya pikirkan, saat itu. Beliau tidak hanya memikirkan membangun mall tahun 90-an untuk tahun 90-an saja, tapi sudah membayangkan untuk perkembangan kota tahun 2000-an, tahun 2010-an dan seterusnya. “Bagus. Saya dukung penuh. Kota ini pasti berkembang, Air Tawar itu, insya Allah nanti akan ramai. Apa yang Bas perlukan, lahan, izin, akan saya bantu sebisanya,” begitu kata Pak Hasan, dengan penuh semangat.

Tak kalah semangatnya, Uda Basril Djabar, termasuk Pak AA Navis (alm) bersama Walikota Padang kala itu, Pak Zuiyen Rais, ikut mendorong berdirinya mall pertama di Sumatra Barat. Mall itu bernama Minang Plaza. Dan pasca gempa 2009, di atas areal Minang Plaza, dibangun kembali dan kini berdiri Basko Grand Mall dan Premier Basko Hotel.

Pak Hasan, saya masih ingat bagaimana binar bola mata beliau, waktu peresmian mall pertama di Sumbar itu. Masih segar di ingatan saya senyum bahagia Pak Hasan, baik waktu meresmikan Minang Plaza maupun ketika peresmian Basko Hotel dan Basko Grand Mall. Dari orang-orang dekat Pak Hasan saya tahu, kebahagiaan Pak Hasan lantaran cita-cita beliau membangun Sumbar melalui potensi rantau, terwujud juga. “Meski tidak sebesar rencana semula, tapi ini lebih dari cukup. Mudah-mudahan ini bisa memicu tumbuhnya investasi-investasi baru di Sumbar,” demikian kalimat Pak Hasan suatu ketika.

Saya mencatat, sejak pembangunan Minang Plaza sampai kepada pembangunan Basko Grand Mall dan Premier Basko Hotel, termasuk pembangunan sejumlah unit Basko Group di Riau, di Kepri dan di Jakarta, Pak Hasan selalu menepati janji; bahwa beliau akan mendukung penuh dan membantu sebisa beliau. Dan ini yang paling penting; dukungan dan bantuan Pak Hasan, ikhlas beliau lakukan. Tidak ada kompensasi. Tidak ada minta balas jasa.

“Bas, bagi Bapak, yang penting Sumbar maju. Kekuatan ranah dan rantau bisa bersatu membangun negeri yang kita cintai ini,” kata-kata ini, terngiang kembali di telinga saya. Bulu roma saya berdiri. Pak Hasan, maafkan ananda tidak bisa melepas Bapak ke tempat peristirahatan terakhir. Maafkan saya. Semoga Allah SWT mencatat semua kebaikan Bapak kepada banyak orang dan kepada Sumatra Barat. Semoga amal dan kebaikan Bapak, setia mendampingi Bapak di alam sana. Amin.(*)            

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu, 23 Januari 2021 - 08:59:58 WIB

    Safari Jumat, Kapolsek Tilatang Kamang Bagikan Nasi Kotak

    Safari Jumat, Kapolsek Tilatang Kamang Bagikan Nasi Kotak Sejak menjabat sebagai Kapolsek Tilatang Kamang, Kab. Agam beberapa waktu lalu. Iptu. Rommy Hendra K. SH, MM terus berupaya menjalin tali silaturahmi dan pendekatan dengan masyarakat di wilayah hukum Polsek Tilatang Kamang..
  • Sabtu, 23 Januari 2021 - 08:27:37 WIB

    Rumah Tahfidz Quran Al Hajjar Pessel Diresmikan

    Rumah Tahfidz Quran Al Hajjar Pessel Diresmikan Plh Sekda, Muskamal meresmikan Rumah Tahfidz Qur'an Al Hajjar Kampung Koto Pulai, Nagari Kambang Timur, Kecamatan Lengayang. Pada sambutannya, Muskamal mengatakan perlu kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat dalam upay.
  • Sabtu, 23 Januari 2021 - 08:23:50 WIB

    Jembatan Putus Akibat Banjir, Warga Kampung Salak Jalamu Pessel Terisolasi

    Jembatan Putus Akibat Banjir, Warga Kampung Salak Jalamu Pessel Terisolasi Masyarakat Kampung Salak Jalamu, Nagari IV Koto Hilia, Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) mengharapkan perbaikan jembatan yang putus akibat banjir bandang yang terjadi pada September 2020 lalu di kampu.
  • Sabtu, 23 Januari 2021 - 08:21:49 WIB

    Pasien Sembuh Covid-19 di Sumbar Mencapai 23.934 Kasus

    Pasien Sembuh Covid-19 di Sumbar Mencapai 23.934 Kasus Berdasarkan data yang dirilis Pemprov Sumbar pada Jumat (23/1/2021) terjadi penambahan pasien yang terkonfirmasi sembuh. Penambahan pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 131 orang..
  • Sabtu, 23 Januari 2021 - 08:14:05 WIB

    Kasus Positif Covid-19 di Sumbar Bertambah 128 Orang

    Kasus Positif Covid-19 di Sumbar Bertambah 128 Orang Berdasarkan data yang dirilis Pemprov Sumbar pada Jumat (22/1/2021) terdapat 128 orang pasien terkonfirmasi positif. Sehingga total pasien yang terinfeksi mencapai 26.195 orang..
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]