Penyebab Kematian Harimau di TMSBK Diungkap, Tak ada Indikasi Kekerasan


Selasa, 19 Juli 2016 - 07:18:57 WIB
Penyebab Kematian Harimau di TMSBK Diungkap, Tak ada Indikasi Kekerasan Ilustrasi.

BUKITTINGGI, HALUAN – Simpang siur kematian dua ekor anak harimau di Taman Marga Satwa Budaya Kinantan (TMSBK) atau Kebun Binatang Bukittinggi mulai terungkap. Salah seorang tim medis TMSBK Dokter Tri Nola Mayasari me­ngatakan bahwa kedua anak ekor anak Harimau Sumatera yang mati tersebut diakibatkan karena penyakit, dan tidak ada indikasi kekerasan.

Menurutnya, diagnosa anak harimau betina yang bernama Sarinah terjadi komplikasi jantung koroner dan enteritis akut atau peradagangan pada saluran pencernaan. Sarinah mati di TMSBK Bukittinggi pada 30 Juni 2016 sekitar pukul 15.00 WIB.

“Hasil nekropsi Harimau Sumatera betina ini, paru-parunya tampak berbusa, pucat, mengalami hemorogi (pendarahan) dan bentuk yang tidak sama. Pada jantungnya juga ditemukan lemak diantara myocardium dan cardium serta pada bilik kanan jantung. Selain itu juga ditemukan luka di permukaan hati dan pada bagian hati juga mengalami hemorogi,” ungkap Dokter Tri Nola Mayasari saat jumpa pers di Balaikota Bukittinggi, Senin 18 Juli 2016.

Selanjutnya kata Tri Nola, pada bagian lambung juga mengalami hemorogi dan kosong tidak ada makanan. Hemoragi menurut dokter juga terlihat di bagian usus. Tak hanya itu, pembesaran pembuluh darah juga tampak di permukaan ginjal dan selaput ginjal sulit dibuka. Sementara itu, warna limpa juga tidak seragam dan mengalami hemoragi. Atas dasar itulah menurutnya disimpulkan, harimau betina itu mati karena komplikasi jantung koroner dan enteritis akut.

Sementara itu, untuk harimau jantan bernama Thamrin, pada tanggal 1 Juli 2016 mengalami penurunan kondisi kesehatan setelah sempat mengalami muntah dan mencret, sehingga diputuskan untuk dibawa ke Puskeswan Kota Bukittinggi agar mendapat tindakan lanjutan.

“Satwa itu diberikan infus dan terapi obat. Namun sekitar jam 15.00 WIB satwa tidak tertolong lagi. Satwa dibawa ke Padang Panjang untuk dilakukan nekropsi sekaligus diopset. Kesimpulan kami sementara, harimau jantan itu mati karena enteritis akut. Penyakit harimau jantan ini tak jauh berbeda dengan betina, bedanya hanya terjadi di jantung,” jelas Dokter Tri Nola Mayasari.

 Selain kehilangan dua ekor anak harimau, Taman Marga Satwa Budaya Kinantan (TMSBK) juga kehilangan dua ekor anak Macan Dahan. Dua anak Macan Dahan itu lebih duluan mati dari pada dua anak Harimau Sumatera.

“Induk betina Macan Dahan melahirkan tiga ekor anak di TMSBK Bukittinggi pada tanggal 7 Januari 2016. Anak pertama diperkirakan lahir jam 16.30 WIB berjenis kelamin jantan. Selang waktu lebih dari 10 jam lahir anak ke dua berjenis kelamin betina, dan terakhir terlahir anak jantan dan mati dalam rahim. Seiring berjalannya waktu perkembangan anak betina memang sedkit kurang baik dibandingkan jantan hal ini bisa disebabkan karena lama anak tertahan di dalam rahim selain itu asupan air susu dari ibunya juga kurang,” ungkap Dokter Tri Nola Mayasari.

Ia melanjutkan, pada 15 Maret 2016, untuk kronologis kematian Macan Dahan betina, awalnya anak betina itu menggigil dan berjalan sempoyongan sehingga diberikan pemanas serta diberikan susu formula bayi 0-6 bulan dan diterapi vitamin. Namun menurutnya, suhu badan masih dikategorikan normal yaitu 37,8 dan masih mau makan, serta tidak mencret ataupun muntah. Terapi itu hanya berjalan selama lima hari.

“Tanggal 30 Maret 2016, dilaporkan kembali satwa ini tidak mau makan sehingga diputuskan untuk mencekokan bubur daging ke dalam mulutnya serta terapi vitamin dan pemanasan. Terapi ini dilakukan selama 20 hari. Hari ke 21 pada siang hari tiba-tiba satwa mengalami sesak nafas, aktivitas mulai menurun. Karena kondisi semakin menurun dilakukan pem­berian infus dan multivitamin. Jam 15.00 WIB satwa itu mati. Diagnosa sementara satwa mengalami dispone akut,” jelas Dokter Tri Nola Mayasari.

Sementara untuk anak Macan Dahan jantan sambung dokter, pada tanggal 9 Mei 2016 dilaporkan bahwa satwa itu tidak mau makan. “Satwa itu dibawa ke Klinik Peternakan Provinsi Padang untuk dilakukan rontgen, karena kami sangat berharap disana akan mendapatkan perlakukan ekstra (peralatan yang cukup lengkap). Satwa diperiksa darah dan diterapi. Satwa diputuskan untuk diop­name di Padang. Tapi sekitar jam 24.00 WIB satwa dilaporkan sudah mengahbiskan makanannya dan mulai menampakan sifat liarnya. Namun pada tanggal 10 Mei 2016 kondisi satwa tiba-tiba menurun dan mati pada pukul 09.00 WIB,” ungkap Tri Nola Mayasari.(h/ril)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]