Surat Tanpa Kepada


Sabtu, 23 Juli 2016 - 01:25:41 WIB
Surat Tanpa Kepada Ilustrasi.

Ru, apa kabarmu? Mungkin aku tak punya cukup nyali me­na­nya­kan langsung. Jadi kutulis di sini saja. Meski jangankan di­baca, melirik pun seper­tinya kau enggan. Tak  apa. Ang­gap saja aku sedang mem­buang sedikit dari ber­juta sampah yang menyesaki benak.

Kau masih ingat? Hari itu kutunjukkan selembar catatan padamu. Usai mem­ba­canya kau tersenyum me­nyi­bak rambut hitam  pan­jangmu dan bertutur, “Aku gak nyangka kamu bisa nu­lis kayak gini.

Kamu Selembar catatan berisi cerita pendek yang belum selesai. Aku tak tahu bagaimana hendak mem­beri sentuhan akhir. Nya­tanya tak sesederhana itu. Butuh ta­hun-tahun panjang demi me­niupkan ruh pada me­mori usang yang kupaksa berpendar. Entah berapa ratus kali kutemukan diri menatap nanar monitor. Ter­henti di tengah lautan kata. Hanya ada siluetmu di sana.

 “Sahabat selamanya,” begitu ujarmu.

Bagaimana bisa kautarik kelingkingku dan me­ngait­kannya di ke­lingkingmu? Me­nikahkan sepasang je­mari, mengangkatnya tinggi tanpa peduli roman muka yang kutekuk seribu. Lantas pekat senyap tepat setelah kautikam dadaku. Aku pun tak yakin cacing tanah tahu di mana kuburmu. Itu jika memang kau telah men­jemput tiada. Kau tahu? Aku memiliki kecenderungan menyukai aroma melankolis sejak pung­gungmu menjauh.

Suatu hari kutemukan novel membosankan dengan judul lumayan melelahkan. Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Ca­haya. Aku lupa nama pe­nu­lisnya. Tapi… ya, bisa di­bilang bacaan itu telah men­dorongku menulis surat ini.

Aku kerap tergugu me­nyelami kerapuhan hati Chai­ril Anwar dalam Senja di Pelabuhan Kecil. Aku men­cintai sajak-sajak basah Sapardi Djoko Damono. Juga titisannya kini. M. Aan Man­syur.

Oh iya, kau sudah baca Lelaki Terakhir yang Me­nangis di Bumi? Akan sa­ngat mengena jika mem­bacanya berteman secangkir kopi di sore yang rinai. Hampir di sepanjang hala­man aku me­ngumpat, “Bang­sat! Bangsat! Bang­sat!” Macam manakah rupa si penulis? Dia me­ngenalku terlalu banyak. Padanan diksinya.

Aku bisa berulang kali memutar Tenggelamnya Ka­pal  Van der Wijck meski telah menonton di bioskop. Novelnya pun menguning, berjamur dimakan umur. Aku sering gelagapan men­cari tisu ketika tanpa sadar airmata menganak sungai di pipi. Ada satu adegan yang masih membekas di otak. Bagian saat Muluk me­nguat­kan Zainuddin yang tengah patah hati.

Bahwa banyak pujangga ternama gagal dalam per­cintaan tetapi mereka tak me­­nyerah. Menuangkan luka lewat aksara. Kelak orang yang menyakiti akan me­natap kita dengan me­ne­nga­dah. Oh, kau seharusnya mendengar itu. Kupastikan kau akan menatapku begitu. Coba tanyakan elegi mana yang belum pernah kulihat—dengar—rasakan? Niscaya telah kuganyang nyaris segala. Kecuali satu: kau.

Tak perlu meragukan kejantananku. Bukankah be­berapa kali kau men­ci­cipinya di ranjang kostmu yang basah oleh peluh kita?

Aku begitu terbiasa de­ngan kehadiranmu, senyum tawamu, wangi parfummu, masakanmu, kopi buatanmu, dan manuver bercintamu. Semua tentangmu. Ke­per­gianmu seakan merobek sebagian dagingku. Mau tahu seperti  apa rasanya? Suruhlah orang lain me­ngam­bil kapak dan mem­belahmu layaknya kayu.

Aku terlalu pengecut un­tuk sekadar mengintip akun fesbukmu. Tak sang­gup memikirkan kemung­kinan kau bersandar di bahu lelaki lain. Atau dua bibir merupa sabit tersenyum menghadap kamera dengan cincin kem­bar di sepasang jari. Selain tak ingin, me­mang tak ada lagi akses setelah kauhujani makian ke mu­kaku di hari ulang ta­hun­mu.

Amarahku menderu me­lihat foto bajingan yang menyuapimu blackforest mu­rahan itu. Bisa saja ku­cincang sosok yang meram­pas tempatku. Melem­par­kan­nya sebagai pakan ku­cing jalanan yang kelaparan. Tapi apa katamu saat itu? Sadar diri. Ah, iya. Aku masih mengingatnya. Aku hanya berdoa semoga lelakimu impoten atau punya kurap di sekujur tubuh. Biar mampus kau menyesal nanti.

Kau tak lebih baik dari Nirmala, istriku. Sesuai na­manya, dia berhati

bersih. Dulu sempat ku­kira dia malaikat yang ter­sesat di bumi. Nirmala be­gitu welas asih. Melengkapi keba­hagiaanku dengan Adam dan Hawa yang lahir dari rahim ringkihnya. Gurat ke­lelahan mulai tampak di wajahnya. Dialah perempuan yang membawaku dari nol hingga bisa berdiri di atas angin.

Bahkan saat mencium jejak busuk peng­khia­natan­ku denganmu, dia hanya memelukku. Nirmala terus menyalahkan diri sendiri. Menatap murung pantulan tubuh tambunnya di cermin. Tak pernah sekali pun dia membahas aibku di depan buah hati kami.

Aku lebih suka me­mang­­gilmu Ru ketimbang Aruna. Ru terasa lebih magis di telinga. Kau anomali terindah sekaligus mengerikan dalam tatasuryaku. Mata elangmu yang sedetik itu menujah menara setiaku untuk Nir­mala. Aku menemukan se­mua yang kubutuhkan di dirimu. Kau datang dan pergi se­akan merobek satu ha­laman buku dengan m­udah. Meremas lantas men­cam­pak­kannya di tong sampah. Aku tak tahu siapa di antara kita yang salah. Barangkali kau memang benar. Hu­bu­ngan ganjil kita tak mungkin bertahan. Tapi rindu ini maha duri sungguh. Aku tak bisa menyingkirkan bayangmu dari Nirmala tiap kali kami bercinta.

Sementara sepanjang hari aku berkutat melawan ingatan tentangmu yang terlanjur mengerak. Kau hidup dalam buku-buku yang kubaca. Bersenandung lewat lagu favoritku. Ber­se­mayam di jalan yang pernah kita lalui. Kadang juga me­ngejawantah hujan, terik, sabit, atau purnama. Kau bisa menjadi partikel apa pun dan bergerak ke mana pun di kepalaku.

Katakan, harus kunamai apa tulisan ini? Terlalu pan­jang untuk disebut puisi. Tak banyak unsur pendukung pula untuk kulabeli prosa. Tak ada alamatmu sebagai tujuan jika memang layak dianggap surat. Hanya surat tanpa kepada. Karena aku tak pernah benar-benar ingin mengirimnya.

Pukul dua tiga puluh tujuh dini hari. Nirmala ter­jaga dan tak me­nem­u­kanku di ranjang.

Baiklah, aku memang harus memberi jeda untuk tubuh ini. Masih banyak yang ingin kusampaikan. Tapi sebaiknya kulempar saja su­rat ini ke folder sam­pah, seperti caramu mem­buangku. Aku tak ingin semakin me­nyakiti Nirmala. Pada akhir­nya, sebejat-bejat lelaki, aku akan memilih istri yang baik sebagai rumah, yang pernah kausebut cinta. (*)

 

Cerpen Oleh: ARINHI NURSECHA




Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM