Membangun, Jangan Latah


Senin, 01 Agustus 2016 - 03:45:36 WIB
Membangun, Jangan Latah

Pelaksanaan pembangunan harus dilakukan dengan prinsip pendekatan terintegrasi hingga holistik-tematik. Jika tak dilakukan dengan target dari program pembangunan tidak akan bisa dicapai jika masing-masing stakeholder berjalan sendiri dengan wacana untuk kepentingan wilayah sendiri.

Salah satu jalan untuk menekan kemung­kinan terjadinya program main sendiri adalah singkronisasi RPJMD pusat dengan daerah atau provinsi dengan kabupaten/kota. Dalam menyusun RPJMD untuk menentukan arah pembangunan ke depan harus ada integrasi lintas sektoral yaitu Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), termasuk juga dengan pemerintah kabu­paten dan kota di Sumatera Barat.

Secara umum, penyusunan RPJMD harus mempedomani Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan RPJM Nasional. Pemerintah daerah bisa men­sinergikan program-program pembangunan yang akan dimasukkan ke dalam RPJMD dengan RPJM nasional sehingga tercipta sinkronisasi program pembangunan nasional dan program pembangunan daerah.

Sumbar sebenarnya sudah pernah mene­rima rembesan masalah tak singkronya pembangunan daerah, baik antara peme­rintah provinsi dengan kabupaten/kota di wilayah tersebut. maupun antar kabupaten/kota itu sendiri. Masih ingat dengan cerita booming-nya waterboom Sawahlunto? Melihat hal itu, pemerintah daerah di Sumbar ngiler dan membiarkan menjamurnya objek wisata waterboom seantero Sumbar. Setelah waterboom Sawahlunto, muncul lah, di Padang Panjang, serta beberapa daerah lain di Sumbar, seperti Padang Pariaman yang terbengkalai, dan lainnya. Teranyar, di Solok terlontar gagasan untuk membentuk spot pengembangan peternakan sapi. Padahal, Sumbar  sudah punya itu di Padang Ma­ngatas,  Kabupaten Limapuluh Kota sana.

Dengan komitmen tinggi pemerintah pusat dan pemerintah provinsi terhadap arah pembangunan yang dimulai dari pinggir atau desa, seharusnya membuat Pemerintah Daerah tak ikut latah bahkan memiliki inovasi yang tinggi dalam membangunan desa dan memberdayakan masyarakatnya. Saat suatu objek di suatu daerah tampak rancak, pemerintah daerah setempat harus inovatif. Jika tidak, saling sedot seperti Sawahlunto-Padang Panjang-Lembai Anai tentu akan berimbas bagi daerah-daerah itu sendiri.

Konsep pembangunan yang dimulai dari wilayah pinggir sengaja dilakukan untuk memastikan bahwa pembangunan tidak hanya terfokus di kota dan di pusat peme­rintahan. Banyak contoh yang dapat men­jadi referensi sebab berangkat dari sebuah pengalaman gagal bahwa pembangunan yang tersentralistik tidak memberi efek yang signifikan pada pembangunan dan per­tumbuhan wilayah sekitar.

Wilayah sekitar sengaja dibiarkan men­jadi penonton pasif kemajuan pusat kota.  Sebaliknya, pem­bangunan yang dimulai dari daerah pinggir diyakini mampu mengurangi disparitas wilayah bahkan mempercepat pemerataan pembangunan. Selain itu, diharapkan mela­hirkan wilayah-wilayah pertumbuhan baru yang mens­timulus per­tumbuhan daerah secara ke­seluruhan.

Pembangunan daerah pinggiran dan desa tidak menunjukkan hasil yang pro­porsional. (*)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]