KECELAKAAN KA SIMPANG MUTIARA PUTIH

Sekeluarga Susul Ibu Temui Illahi


Senin, 01 Agustus 2016 - 04:25:29 WIB
Sekeluarga Susul Ibu Temui Illahi ANWAR Harry Dt. Pamenan (84) tengah menanti pelayat yang masih berdatangan ke rumahnya,Minggu (31/7) pascaperistiwa kecelakaan KA yang menewaskan menantu dan dua cucunya. (ANGGA)

Kecelakaan tragis di per­lintasan kereta api Sim­pang Mutiara Putih, Jumat (29/7) menjadi duka yang teramat dalam bagi Anwar Harry Dt. Pamenan (84).  Akibat kece­lakaan itu, ia harus kehilangan menantunya, Alm. Thamrin (43) serta dua cucunya Alm. Zaki Ramadan (12) dan Alm. Melko Azimi (10). Ketiganya menyusul anak Anwar, Alm Rahmawati yang juga me­ning­gal akibat kecelakaan di lokasi yang sama pada 2010 silam.

Ditemui Haluan di kedia­mannya di Mutiara Putih Blok D no 3 Kecamatan Koto Ta­ngah, Padang, guratan kese­dihan tergambar jelas dari wa­jah­nya. Matanya, masih terlihat sembab. Nyaris tak tampak senyum yang terbias dari bi­birnya. Ia hanya terpaku di tempat duduk di teras rumah­nya, sambil menyambut para pelayat yang mengulurkan ta­ngan tanda kedukaan yang mereka rasakan atas duka yang dialami pensiunan tentara berpangkat letnan itu.

Bahkan, ketika pelayat tak sekedar menyalaminya, sisa-sisa air mata yang ia punya tak ter­bendung di pipinya yang mulai mengkerut kala mereka memeluk Anwar. Ia seperti tak sanggup membayangkan melewati masa-masa senjanya tanpa anak, me­nantu serta dua cucunya yang tengah tumbuh itu

Seperti punya banyak stok air mata, tak henti-hentinya air mata pensiunan TNI AD ini bercu­curan. Dagunya disandarkan ke bahu seorang tamu yang melayat. Lidahnya terus mengucapkan nama Zaki dan Azmi, dua cucu kesayangan sang Letnan. Begitu sayang ia dengan kedua cucu yang telah mendahuluinya.

Haluan bertamu ke rumah Anwar sore. Rumah itu hening. Sementara, beberapa orang pela­yat masih tampak datang untuk menyampaikan rasa bela­sung­kawa.

Sang menantu, Thamrin, telah dibawa pihak keluarganya untuk dimakamkan di Sungai Garing­giang, Kabupaten Padang Pa­riaman. Sedangkan Zaki dan Azmi, cucu-cucunya itu, dima­kamkan di samping pusara ibun­danya di Aia Dingin, Lubuk Minturun, Kota Padang.

“Habis keluarga bapak di Simpang Mutiara Putih ini nak. Satu keluarga, semuanya mening­gal di tempat yang sama. Tahun 2010, Anak saya Rahmawati yang meninggal di simpang itu dita­brak mobil travel. Sekarang, menantu dan kedua cucu bapak,” lirih Anwar saat bercerita ke­pada Haluan.

Dikenangnya kecelakaan ma­ut saat anak bungsunya, Rah­mawati meninggal dunia berte­patan  pada Hari Raya Idulfitri 1431 H silam. Saat itu, Rahmawati bersama suami, Thamrin hendak pergi shalat Id ke Halaman Kantor Gubernur. Namun malang tak bisa ditolak, mujur tak dapat diraih, satu uni travel melaju kencang dari arah pusat kota menuju bandara, menghantam pasangan suami istri yang baru saja keluar dari Gang Komplek Mutiara Putih.

Rahmawati meninggal di tem­pat setelah kepalanya terbentur pembatas jalan. Sedangkan Tham­rin, kala itu hanya menga­lami luka ringan. Enam tahun kemudian, kejadian serupa kem­bali terulang. Mobil Hyundai BA 1276 AU yang dikemudikan Tham­rin ditabrak oleh Kereta Api (KA) Sibinuang jalur Padang–Pariaman, Thamrin bersama ke­dua anaknya menyusul istri ter­cinta ke hadirat ilahi.

Sekarang Anwar menjalani hidup tuanya dengan rasa sepi bersama istri tercintanya Ros­maini yang menderita sakit stroke. Ia kenang hari-harinya sebelum kejadian itu, di mana ia sering menghabiskan waktu penuh can­da dengan kedua cucunya, Zaki dan Azmi, sembari menceritakan kisahnya semasa masih aktif di TNI AD. Sekarang, cerita itu hanya bisa disampaikan dalam doa untuk kedua cucu tercinta.

“Azmi begitu semangat ketika kakek bercerita tentang TNI. Ia sangat ingin untuk menjadi tentara. Sekarang kakek hanya ingin dia tenang bersama kedua orangtuanya di hadapan Allah SWT. Hanya doa yang bisa kakek sampaikan kepada Azmi dan Zaki jika kakek merindukan mereka,” tegar Anwar.

Di hati kecilnya, tak ada yang bisa disalahkan. Ketentuan yang maha kuasa yang mengharuskan Anwar kehilangan salah satu bagian dari keluarga besarnya. Hanya saja ia berharap, PT KAI dan Pemko Padang membuat palang pintu kereta api di lokasi tempat anggota keluarganya dijemput untuk menghadap pada Tuhan. Agar tidak ada lagi korban lain yang berjatuhan.

“Saya tidak menyalahkan sia­pa­pun. Semua ini sudah ke­hendak Allah SWT. Saya hanya meminta kepada PT KAI dan Pemko Padang agar membuat pintu palang kereta api di lokasi menantu dan cucu saya meregang nyawa. Hanya itu pinta saya agar tidak ada orang yang menjadi korban selanjutnya. Cukup ke­luarga kecil saya ini yang menjadi korban, Lirih Anwar lagi. (*)

 

Laporan: HAJRAFIV SATYA NUGRAHA

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]